TUJUAN COOPERATIF LEARNING
MAKALAH
Di
ajukan sebagai bahan diskusi dalam mata kuliah Strategi pembelajaran
Dosen
pengampuh Drs. Sunhaji M.Ag
INSTITUT AGAMA ISLAM NEGERI PURWOKERTO
FAKULTAS TARBIYAH DAN ILMU KEGURUAN
PENDIDIKAN GURU MADRASAH IBTIDAIYAH
TAHUN 2015
Di
susun oleh:
Awal
Muallifah 1423305227
Awit
Fitriasih 1423305228
Aziz
Hidayat 1423305231
Dwi
Fitrah 1423305234
Evi
Masriatun 1423305236
Idaur
Rohmah 1423305239
Ika
Adiningrum 1423305240
Irma
Widiana 1423305241
Irvan
Nur 1423305242
Khafidin
1423305243
Khalida
Aulia 1423305244
Munasiroh 1423305247
Novenda
Astuti 1423305252
Priyo
Darojat 1423305253
Putri
Puji Ayu L 1423305254
Rojihatud
Dianah 1423305257
Sriwidiyanti 1423305259
Susi
Rosiamah 1423305261
Syafi’atun
Nur 14233055262
Trimayatun 1423305264
Tri
Wahyuni 1423305265
Windiya
Utami 1423305266
Windri
Antika 1423305267
Windri
Oktaviani 1423305268
Zakli
Muhammad 1423305270
Fitri
Handayani 1423305192
Ni’matul
Ulum 1423305205
Rizki
Saputra 1423305212
BAB
I
PENDAHULUAN
A.
Latar
Belakang
Dalam
proses belajar mengajar guru berperan sebagai fasilitator yang berfungsi
sebagai penjembatan keterhubungan antara siswa terhadap pemahaman yang lebih
tinggi dengan penemuan pemahaman siswa sendiri.
Pembelajaran kooperatif sendiri
merupakan pembelajara kelompok dengan jumlah peserta didik 2 – 5 orang dengan
gagasan untuk saling memotivasi antara anggotanya untuk saling membantu agar
tercapai suatu tujuan pembelajaran yang maksimal, berikut ini merupakan paparan
lebih jelas tentang tujuan kooperatif learning.
B.
Rumusan
Masalah
1.
Apa
itu strategi pembelajaran Cooperatif learning?
2.
Apa
tujuan pembelajaran Cooperative Learning?
3.
Apa
manfaat pembelajaran Cooperative Learning?
C.
Tujuan
1.
Untuk
mengetahui pengertian pembelajaran Cooperative Learning.
2.
Untuk
mengetahui tujuan pembelajaran Cooperative Learning.
3.
Untuk
mengetahui manfaat pembelajran Cooperative Learning.
BAB II
PEMBAHASAN
A.
Strategi
Pembelajaran Coopertif Learning
Strategi
pembelajaran Cooperatif merupakan serangkaian kegiatan pembelajaran yang dilakukan
oleh siswa di dalam kelompok-kelompok untuk mencapai tujuan pebelajaran yang
telah ditetapkan. Lima hal yang penting dalam strategi pembelajaran yang telah
ditetapkan, yaitu :
1.
Adanya
peserta didik dalam kelompok
2.
Adanya
aturan lain
3.
Adanya
upaya belajar dalam kelompok
4.
Tatap
muka
5.
Evaluasi
proses kelompok
Ketergantungan
positif adalah suatu bentuk kerja sama yang sangat erat kaitanya antara anggota
kelompok. Kerja sama ini dibutuhkan untuk
mencapai tujuan. Siswa benar-benar mengerti bahwa kesuksesan kelompok
tergantung pada kesuksesan anggotanya.
Maksud
pertanggung jawaban individu terhadap kelompok tergantung dengan cara belajar
perseorangan dari seluruh anggota kelompok. Pertanggung jawaban memfokuskan
aktivitas kelompok dalam menjelaskan konsep pada satu orang, dan memastikan bahwa setiap orang dalam kelompok
siap menghadapi aktivitas dimana siswa harus menerima tanpa pertolongan anggota
kelompok. Kemampuan sosialisasi adalah kemampuan bekerja sama yang biasa dikerjakan dalam kelompok. Kelompok
tidak akan berjalan efektif apabila setiap anggota kelompok tidak memiliki
kemampuan bersosialisasi yang dibutuhkan. Setiap kelompok diberikan kesempatan
untuk bertemu muka dan berdiskusi.
Kegiatan
interaksi ini akan memberikan bentuk sinergi yang menguntungkan bagi semua
anggota. Guru menjadwalkan waktu bagi kelompok untuk mengevaluasi proses kerja
kelompok dan hasil kerjasama mereka agar selanjutnya bisa bekerjasama lebih
efektif.[1]
B. Tujuan Pembelajaran Kooperatif Learning
Tujuan pembelajaran
kooperatif berbeda dengan kelompok tradisional yang menerapkan sistem
kompetisi, di mana keberhasilan individu diorientasikan pada kegagalan orang
lain. Sedangkan tujuan dari pembelajaran kooperatif adalah menciptakan situasi
di mana keberhasilan individu ditentukan atau dipengaruhi oleh keberhasilan
kelompoknya.
Pembelajaran
kooperatif mewadahi bagaimana siswa dapat bekerja sama dalam kelompok, tujuan kelompok
adalah tujuan bersama. Situasi kooperatif merupakan bagian dari siswa untuk
mencapai tujuan kelompok, siswa harus merasakan bahwa mereka akan mencapai
tujuan kelompok. Dengan demikian, siswa lain dalam kelompoknya memiliki
kebersamaan yang artinya bahwa setiap anggota kelompok bersifat kooperatif dengan sesama anggota kelompoknya.
Model
pembelajaran kooperatif dikembangkan untuk mencapai setidak- tidaknya tiga
tujuan pembelajaran penting, yaitu:
1.
Meningkatan
kinerja siswa dalam tugas-tugas akademik. Dalam belajar kooperatif meskipun
mencakup beragam tujuan sosial, juga memperbaiki prestasi siswa atau
tugas-tugas akademis penting lainnya. Beberapa ahli berpendapat bahwa model ini
unggul dalam membantu siswa memahami konsep-konsep sulit. Para pengembang model
ini telah menunjukkan bahwa model struktur penghargaan kooperatif telah dapat
meningkatkan nilai siswa pada belajar akademik dan perubahan norma yang
berhubungan dengan hasil belajar. Di samping mengubah norma yang berhubungan
dengan hasil belajar, pembelajaran kooperatif dapat memberi keuntungan baik
pada siswa kelompok bawah maupun kelompok atas yang bekerja bersama
menyelesaikan tugas-tugas akademik.
2.
Agar
siswa menerima teman-temannya yang mempunyai berbagai perbedaan latar belakang.
Tujuan lain model pembelajaran kooperatif adalah penerimaan secara luas dari
orang-orang yang berbeda berdasarkan ras, budaya, kelas sosial, kemampuan, dan
ketidakmampuannya. Pembelajaran kooperatif memberi peluang bagi siswa dari
berbagai latar belakang dan kondisi untuk bekerja dengan saling bergantung pada
tugas-tugas akademik dan melalui struktur penghargaan kooperatif akan belajar
saling menghargai satu sama lain.
3.
Mengembangkan
keterampilan sosial siswa, berbagai tugas, aktif bertanya, menghargai pendapat
orang lain, memancing teman untuk bertanya, mau menjelaskan ide atu pendapat dan bekerja dalam kelompok.
Tujuan penting ketiga pembelajaran kooperatif adalah, mengajarkan kepada siswa
keterampilan bekerja sama dan kolaborasi. Keterampilan-keterampilan sosial,
penting dimiliki oleh siswa sebab saat ini banyak anak muda masih kurang dalam
keterampilan sosial.[2]
C.
Elemen-Elemen
Pembelajaran Kooperatif
Pembelajaran yang dilaksanakan secara berkelompok
belum tentu mencerminkan pembelajaran kooperatif. Secara teknis memang tampak
proses belajar bersama, namun terkadang hanya merupakan belajar yang dilakukan
secara bersama dalam waktu yang sama, namun tidak mencerminkan kerjasama antar
anggota kelompok. Untuk itu agar benar-benar mencerminkan pembelajaran
kooperatif, maka perlu diperhatikan elemen-elemen pembelajaran kooperatif
sebagai berikut :
1.
Saling
Ketergantungan Positif
Keberhasilan
suatu karya sangat bergantung pada usaha setiap anggotanya.Untuk menciptakan
kelompok kerja yang efektif, pengajar perlu menyusun tugas sedemikian rupa
sehingga setiap anggota kelompok harus menyelesaikan tugasnya sendiri agar yang
lain bisa mencapai tujuan mereka. Dalam
metode Jigsaw, disarankan jumlah anggota kelompok dibatasi sampai dengan empat
orang saja dan keempat anggota ini ditugaskan membaca bagian yang berlainan.
Keempat anggota ini lalu berkumpul don bertukar informasi. Selanjutnya,
pengajar akan mengevaluasi mereka mengenai seluruh bagian. Dengan cara ini, mau
tidak mau setiap anggota merasa bertanggung jawab untuk menyelesaikan tugasnya
agar yang lain bisa berhasil.
2.
Tanggung Jawab Perseorangan
Unsur ini merupakan akibat langsung dari unsur
yang pertama. Jika tugas dan pola penilaian dibuat menurut prosedur model
pembelajaran Cooperative Learning, setiap siswa akan merasa bertanggung jawab
untuk melakukan yang terbaik. Kunci keberhasilan metode kerja kelompok adalah
persiapan guru dalam penyusunan tugasnya.Pengajar yang efektif dalam model pembelajaran
Cooperative Learning membuat persiapan dan menyusun tugas sedemikian rupa
sehingga masing-masing anggota kelompok harus melaksanakan tanggung jawabnya
sendiri agar tugas selanjutnya dalam kelompok bisa dilaksanakan. Dalam teknik
Jigsaw yang dikembangkan Aronson misalnya, bahan bacaan dibagi menjadi empat
bagian dan masing-masing siswa mendapat dan membaca satu bagian. Dengan cara
demikian, siswa yang tidak melaksanakan tugasnya akan diketahui dengan jelas dan
mudah. Rekan-rekan dalam satu kelompok akan menuntutnya untuk melaksanakan
tugas agar tidak menghambat yang lainnya.
3.
Tatap
muka
Setiap kelompok harus diberikan kesempatan
untuk bertemu muka dan berdiskusi. Kegiatan interaksi ini akan memberikan para
pembelajar untuk membentuk sinergi yang menguntungkan semua anggota. Hasil
pemikiran beberapa kepala akan lebih kaya daripada hasil pemikiran dari satu
kepala saja. Lebih jauh lagi, hasil kerja sama ini jauh lebih besar daripada
jumlah hasil masing-masing anggota.Inti dari sinergi ini adalah menghargai
perbedaan, meman-faatkan kelebihan, dan mengisi kekurangan masing-masing.
Setiap anggota kelompok mempunyai latar belakang pengalaman, keluarga, don
sosial-ekonomi yang berbeda satu dengan yang lainnya. Perbedaan ini akan
menjadi modal utama dalam proses saling memperkaya antaranggota kelompok.
Sinergi tidak didapatkan begitu saja dalam sekejap, tetapi merupakan proses
kelompok yang cukup ponjang. Para anggota kelompok perlu diberi kesempatan
untuk saling mengenal dan menerima satu sama lain dalam kegiatan tatap muka don
interaksi pribadi.
4.
Komunikasi
Antar Anggota
Unsur ini juga menghendaki agar para
pembelaiar dibekali dengan berbagai keterampilan berkomunikasi. Sebelum
menugaskan siswa dalam kelompok, pengajar perlu mengajarkan cara-cara
berkomunikasi. Tidak setiap siswa mempunyai keahlian mendengarkan dan
berbicara. Keberhasilan suatu kelompok juga bergantung pada kesediaan para
anggotanya untuk saling mendengarkan dan kemampuan mereka untuk mengutarakan
pendapat mereka.
Ada
kalanya pembelajar perlu diberi tahu secara eksplisit mengenai cara-cara
berkomunikasi secara efektif seperti bagaimana caranya menyanggah pendapat
orang lain tanpa harus menyinggung perasaan orang tersebut. Masih banyak orang
yang kurang sensitif dan kurang bijaksana dalam menyatakan pendapat mereka.
Tidak ada salahnya mengajar siswa beberapa ungkapan positif atau sanggahan
dalam ungkapan yang lebih halus. Keterampilan berkomunikasi dalam kelompok ini
juga merupakan proses panjang. Pembelajar tidak bisa diharapkan langsung
menjadi komunikator yang handal dalam waktu sekejap. Namun, proses ini
merupakan proses yang sangat bermanfaat dan perlu ditempuh untuk memperkaya
pengalaman belajar serta membina perkembangan mental emosional para siswa.
5.
Evaluasi
Pengajar perlu menjadwalkan waktu khusus bagi
kelompok untuk mengevaluasi proses kerja kelompok dan hasil kerja sama mereka
agar selanjutnya bisa bekerja sama dengan lebih efektif. Waktu evaluasi ini
tidak perlu diadakan setiap kali ada kerja kelompok, tetapi bisa diadakan
selang beberapa waktu setelah beberapa kali pembelaiar terlibat dalam kegiatan
pembelajaran Cooperative Learning.
D. Maanfat pembelajaran Kooperative Learning
Menurut Linda Lungren ada beberapa
manfaat pembelajaran kooperatif bagi siswa dengan prestasi yang rendah, yaitu:
1.
Meningkatkan
pencurahan waktu pada tugas
2.
Rasa
harga diri menjadi lebih tinggi
3.
Memperbaiki
sikap terhadap IPA dan sekolah
4.
Memperbaiki
kehadiran
5.
Angka
putus sekolah menjadi rendah
6.
Penerimaan
terhadap perbedaan individu menjadi lebih besar
7.
Perilaku
mengganggu menjadi lebih kecil
8.
Konflik
antar pribadi menjadi berkurang
9.
Sikap
apatis berkurang
10. Pemahaman yang lebih mendalam
11. Meningkatkan motivasi lebih besar
12. Hasil belajar lebih tinggi
13. Retensi lebih lama
14. Meningkatkan kebaikan budi, kepekaan, dan
toleransi
BAB
III
PENUTUP
A.
KESIMPULAN
Cooperatif Learning merupakan metode pemdelajaran yang
dibuat untuk membuat para siswa aktif dalam kompetisi yang dibuat oleh para
pendidik. Tujuan penting dalam metode ini adalah untuk mengajarkan
keterampilan kerja sama dan kolaborasi pada siswa yang nantinya menghasilkan
ketergantungan yang positif antar anggotanya. Tujuan lain dalam strategi
pembelajaran cooperative learning ini juga menyangkut hal dalam meningkatkan
rasa tanggung jawab peserta didik terhadap tugas-tugasnya, meningkatkan
keterdekatan antar siswa, dan meningkatkan rasa percaya diri siswa dalam
menyampaikan pendapatnya.
Daftar Pustaka
Wena,
Mada. Strategi Pembelajaran Inovatif Kontemporer, 2009. Jakarta: Bumi Aksara.
Majid, Abdul. Strategi
Pembelajaran. 2014. Bandung : PT
Remaja Rosdakarya.

