INGATAN
Diajukan Untuk Memenuhi Tugas Mata Kuliah
Psikologi Pendidikan
Dosen Pengampu:
Hj. Ida Novianti, M. Ag.
Oleh:
1. Aziz Hidayat (14233052)
2. Irma Widiana Rahmah (14233052)
3. Lu’lu Iftitahussariroh (1423305246)
4. Putri Puji Ayu Lestari (14233052)
5. Windri Oktaviani (14233052)
FAKULTAS TARBIYAH DAN ILMU
KEGURUAN
JURUSAN PENDIDIKAN GURU
MADRASAH IBTIDAIYYAH
INSTITUT AGAMA ISLAM NEGERI
( IAIN )
PURWOKERTO
2015
BAB I
PENDAHULUAN
- Latar Belakang Masalah
Manusia merupakan makhluk yang
berjiwa, dan adanya jiwa dalam diri manusia itu sendiri direfleksikan dalam
bentuk perilaku yang merupakan aktivitas manusia. Kemampuan kejiwaan manusia itu
sendiri dibedakan atas tiga golongan besar, yaitu: Kognisi,
yang berhubungan dengan pengenalan, Emosi yang berhubungan dengan perasaan. Dan
Konasi, yang berhubungan dengan motif.
Walaupun kemampuan jiwa manusia digolong-golongkan, namun yang harus selalu
kita ingat yaitu bahwa jiwa manusia itu merupakan suatu kesatuan, suatu
kebulatan, atau suatu totalitas. Hal ini
berarti setiap bagian satu tidak akan terlepas dari bagian yang lain karena
semuanya itu akan selalu saling berkaitan. Sedangkan kondisi kejiwaan manusia
itu sendiri juga tidak akan terlepas dari kondisi lingkungannya. Hal itu
dikarenakan manusia akan selalu menerima rangsang atau stimulus dari dalam dan
dari luar individu. Dari luar individu disini yang dimaksud yaitu stimulus yang
datang dari lingkungannya.
Kemampuan mengingat merupakan suatu hal yang sering kita anggap mudah namun
kenyataanya, mengingat merupakan kegiatan otak yang melalui beberapa proses
yang tidak sederhana. Kemampuan mengingat pada setiap individu itu
berbeda-beda. Hal itu disebabkan beberapa faktor yang mempengaruhi. Dalam
makalah ini akan dibahas secara rinci peristiwa-peristiwa kejiwaan (Ingatan).
- Rumusan Masalah
1.
Bagaimana proses penciptaan
manusia dalam Al-Qur’an?
2.
Apa saja fungsi penciptaan
manusia dalam alam semesta?
3.
Bagaimana pandangan Al-Qur’an tentang manusia?
4.
Apa implikasi konsep
manusia dalam pendidikan islam?
- Tujuan
1.
Mengetahui proses penciptaan manusia
dalam Al-Qur’an
2.
Mengetahui fungsi
penciptaan manusia dalam alam semesta
3.
Mengetahui pandangan Al-Qur’an tentang
manusia
4.
Mengetahui implikasi konsep manusia dalam
pendidikan islam
BAB II
PEMBAHASAN
A.
Definisi Ingatan
Mengingat berarti menyerap atau meletakkan pengetahuan dengan jalan
pengecaman secara aktif. Fungsi ingatan itu sendiri meliputi tiga aktivitas
yaitu:
1) Mencamkan
yaitu menangkap atau menerima kesan-kesan
2) Menyimpang
kesan-kesan
3) Memproduksi
kesan-kesan
Dengan adanya kemampuan mengingat pada manusia, hal
ini menunjukkan bahwa manusia
Sifat –sifat dari ingatan yang baik adalah: cepat, setia, kuat, luas, dan
siap. Sifat cepat berlaku untuk aktivitas mencamkan, sifat-sifat setia, kuat
dan luas berlaku dalam hal menyimpan, sedangkan sifat siap berlaku dalam hal memproduksi
kesan-kesan. Dengan demikian, kita dapat menyebutkan adanya berbagai sifat
ingatan yang baik. Ingatan di katakana cepat, apabila dalam mencamkan
kesan-kesan tidak mengalami kesulitan. Ingatan dikatakan setia, apabila kesan
yang telah dicamkan itu tersimpan dengan baik dan stabil. Ingatan di
katakana kuat apabila kesan-kesan yang
tersimpan tertahan lama. Ingatan di katakana
luas apabila kesan kesan yang tersimpan sangat bervariasi dan banyak
jumlahnya. Ingatan dikatakan siap, apabila kesan kesan yang tersimpan sewaktu
waktu mudah di reproduksikan kea lam kesadaran. Pengecaman terhadap sesuatu
akan lebih kuat, apabila:
·
Kesan-kesan yang
di camkan di bantu dengan penyuaraan.
·
Pikiran subjek
lebih terkonsentrasi kepada kesan-kesan.
·
Teknik belajar
yang di pakai oleh subjek adalah efektif.
·
Subjek menggunakan
titian ingatan.
·
Struktur bahan
dari kesan-kesan yang dicamkan adalah jelas.
Usaha memperjelas struktur bahan dapat di lakukan misalnya dengan jalan
pembuat ihtisar, rangkuman, singkatan, penggolongan, secara ritme (untuk nada
suara), penggolongan secara kategoris yang bermakna ( untuk bilangan dan
perhitungan matematis) .
Sering kita menyebutkan hal ingat dan lupa. Soal mengingat dan lupaa ini
dalam psikologi biasanya di kemukakan dengan satu pengertian saja, yaitu “
retensi”. jadi retensi menunjukkan hal mengingat dan lupa
yang keduanya hanya merupakan sudut tinjauan yang berbeda tentang sesuatu yang
satu. Berdasarkan penelitian, seletelah kita mencamkan sesuatu bnyak hal yang
secara berangsur angsur terlupakan. Untuk mengatasi hal ini, maka bahan yang
kita ingat dengan baik harus di ulang ulang secara terus menerus. Untuk itu
subjek hendaknya mampu membagi dan memanfaatkan waktu dengan baik.
Dalam hal mengingat, orang sering mengalami kesulitan yang disebabkan
karena adanya “ interfensi”. Interfensi adalah hambatan ingatan atau
belajar akibat masuknya bahan bahan yang terdahulu. Jadi, kesan-kesan terdahulu
mengganggu usaha reproduksi kesan-kesan terdahulu mengganggu usaha reproduksi
kesan-kesan yang lebih baru. Interfensi lebih banyak terjadi pada waktu jaga
dari pada waktu tidur.
Dalam hal mereproduksi, kita kenal adanya dua macam reproduksi, yaitu:
1) Mengingat
kembali (recall)
2) Mengenai
kembali (recognition)
Bedasarkan hasil
penelitian ternyata mengenal kembali itu lebih mudah daripada mengingat
kembali. Hal ini dapat kita maklumi, karena dalam mengenal kembali terdapat
objek nyata sebagai perangsang ingatan, sedangkan dalam mengingat kembali tidak terdapat objek semacam
itu[1].
Manusia adalah makhluk Tuhan yang diciptakan dengan bentuk raga yang
sebaik-baiknya dan rupa yang seindah-indahnya dilengkapi dengan berbagai organ
psikofisik yang istimewa seperti panca indra dan hati agar manusia bersyukur
kepada Allah yang telah menganugerahi keistimewaan-keistimewaan itu. Secara
lebih rinci keistimewaan-keistimewaan yang dianugerahkan Allah kepada manusia
antara lain adalah kemampuan untuk berfikir untuk memahami alam semesta dan
dirinya sendiri, akal untuk memahami tanda-tanda keagungan-Nya, nafsu yang
paling rendah sampai yang tertinggi.
Secara global, tujuan dan fungsi penciptaan manusia itu dapat
diklasifikasikan kepada dua, yaitu:
1.
Khalifah
Al-Qur’an menegakkan bahwa manusia diciptakan Allah sebagai pengemban
amanat. Di antara amanat yang dibebankan kepada manusia memakmurkan kehidupan
di bumi. Karena amat mulianya manusia sebagai pengemban amanat Allah, maka
manusia diberi kedudukan sebagai khalifah-Nya di muka bumi.
Menurut Ahmad Musthafa Al Maraghi, kata khalifah memiliki dua makna. Pertama,
adalah pengganti, yaitu pengganti Allah SWT
untuk melaksanakan titah-Nya di muka bumi. Kedua, manusia adalah
pemimpin yang kepadanya ditugasi untuk memimpin diri dan makhluk lainnya serta
memakmurkan dan mendayagunakan alam semesta bagi kepentingan manusia secara
keseluruhan[3].
2.
‘Abd ( Pengabdi
Allah)
Konsep ‘abd mengacu pada tugas-tugas individual manusia sebagai hamba
Allah. Tugas ini diwujudkan dalam bentuk pengabdian ritual kepada Allah SWT
dengan penuh keikhlasan. Pemenuhan fungsi ini memerlukan penghayatan agar
seorang hamba sampai pada tingkat religiusitas dimana tercapainya kedekatan
diri dengan Allah SWT. Bila tingkat ini berhasil diraih, maka seorang hamba
akan bersikap tawadhu’ , tidak arogan dan akan senantiasa pasrah pada
semua titah perintah Allah SWT (tawaqqal)[4].
C.
Pandangan Al-Qur’an
tentang Manusia
Sejak berada dimuka bumi, manusia kadang keliru dalam memahami ditinya.
Kadangkala dia cenderung untuk bersikap superior, sehingga memandang dirinya
sebagai makhluk yang paling besar dan agung di alam ini. Bahkan superioritas
ini diserukannya dengan penuh kecongkakan dan kesombongan. Dia menampik untuk
meyakini bahwa dirinya punya tanggung jawab sebagai khalifah dan ‘abd
di bumi[5].
Manusia menurut Al-Qur’an, dilahirkan suci (tidak memikul dosa).
Pendidikanlah yang menentukan dan membentuk manusia kongkret. Pembentukan
manusia kongkret, melalui pendidikan Al-Qur’an barangkali dapat dilakukan
dengan merekonstruksi model manusia dari unsur-unsur akhlak yang terdapat dalam
al-qur’an. Misalkan kita bisa merekonstruksi model pemimpin yang dapat
dijadikan “uswatun khasanah”[6].
Para ahli pendidikan muslim umumnya sependapat bahwa teori dan praktek
kependidikan Islam harus didasarkan pada konsepsi dasar tentang manusia.
Dikemukakan tentang filsafat penciptaan manusia dan fungsi penciptaannya dalam
alam semesta, paling tidak ada 2 (dua) implikasi terpenting dalam hubungannya
dengan pendidikan Islam, yaitu:
1.
Karena manusia adalah
makhluk yang merupakan resultan dari dua komponen (materi dan immateri), maka
konsepsi itu menghendaki proses pembinaan yang mengacu ke arah realisasi dan
pengembangan komponen-komponen tersebut. Hal ini berarti bahwa sistem
pendidikan Islam harus dibangun diatas konsep kesatuan (integrasi) antara
pendidikan qalbiyyah dan ‘Aqliyyah sehingga mampu menghasilkan manusia
muslim yang pintar secara intelektual dan terpuji secara moral. Jika kedua
komponen itu terpisah atau dipisahkan dalam proses kependidikan Islam, ,maka
manusia akan kehilangan keseimbangannya dan tidak akan pernah menjadi
pribadi-pribadi yang sempurna (al-insan al-kamil).
2.
Al-Qur’an menjelaskan bahwa
fungsi penciptaan manusia di alam ini adalah sebagai khalifah dan
‘abd. Untuk melaksanakan fungsi ini, Allah SWT membekali manusia dengan
seperangkat potensi. Dalam konteks ini, maka pendidikan Islam harus merupakan
upaya yang ditujukan ke arah pengembangan potensi yang dimiliki manusia secara
maksimal sehingga dapat diwujudkan dalam bentuk kongkrit, dalam arti
berkemampuan menciptakan sesuatu yang bermanfaat bagi diri, masyarakat dan
lingkungannya sebagai fungsi dan tujuan penciptaannya, baik sebagai khalifah
maupun ‘abd.
Kedua hal diatas harus menjadi acuan dasar dalam menciptakan dan
mengembangkan sistem pendidikan Islam masa kini dan masa depan. Agar pendidikan
umat berhasil dalam prosesnya, maka konsep penciptaan manusia dan fungsi
penciptaannya dalam alam semesta harus sepenuhnya diakomodasikan dalam
perumusan teori-teori pendidikan Islam melalui pendekatan kewahyuan, empirik
keilmuan dan rasional filosofis. Dalam hal ini harus difahami pula bahwa
pendekatan keilmuan dan filosofis hanya merupakan media untuk menalar pesan-pesan
tuhan yang absolut, baik melalui ayat-ayat-Nya yang bersifat tekstual
(Qur’aniyyah), maupun ayat-ayat-Nya yeng bersifat kontekstual (kauniyah)
yang telah dijabarkan-Nya melalui sunnatullah[8].
BAB
III
PENUTUP
Manusia merupakan mahluk-Nya paling sempurna dan sebaik-baik ciptaan yang
dilengkapi dengan akal fikiran. Manusia adalah makhluk kosmis yang sangat
penting, karena dilengkapi dengan semua pembawaan dan syarat-syarat yang
diperlukan bagi pengemban tugas dan fungsinya sebagai makhluk Allah dimuka
bumi. Setidaknya ada tiga kata yang digunakan al-qur’an untuk menunjuk makna
manusia, yaitu: Al-Basyar, Al-Insan,
An-Naas .
Secara global,
tujuan dan fungsi penciptaan manusia itu dapat diklasifikasikan kepada dua,
yaitu khalifah dan ‘abd (pengabdi Allah). Manusia menurut
Al-Qur’an, dilahirkan suci (tidak memikul dosa). Pendidikanlah yang menentukan
dan membentuk manusia kongkret.
DAFTAR PUSTAKA
Ø Syarifudin, Tatang. Landasan Pendidikan. Jakarta: Depag,
2009.
Ø Nizar, Samsul. Filsafat
Pendidikan Islam. Jakarta : Ciputat Press, 2002.
Ø Ilyas, Yunahar dkk. Pendidikan
dalam Perspektif Al-Qur’an. Yogyakarta : Pustaka Pelajar Offset, 1999.
Ø Arif, Arifudin. Pengantar Ilmu Pendidikan Islam. Jakarta:
Kultura, 2008.
1999) hal. 26

No comments:
Post a Comment