Friday, January 1, 2016

INGATAN





Diajukan Untuk Memenuhi Tugas Mata Kuliah
Psikologi Pendidikan
Dosen Pengampu:
Hj. Ida Novianti, M. Ag.

Oleh:
1. Aziz Hidayat                          (14233052)
2. Irma Widiana Rahmah           (14233052)
3. Lu’lu Iftitahussariroh (1423305246)
4. Putri Puji Ayu Lestari            (14233052)
5. Windri Oktaviani                   (14233052)



FAKULTAS TARBIYAH DAN ILMU KEGURUAN
JURUSAN PENDIDIKAN GURU MADRASAH IBTIDAIYYAH
INSTITUT AGAMA ISLAM NEGERI ( IAIN )
PURWOKERTO
2015

BAB I
PENDAHULUAN

  1. Latar Belakang Masalah
Manusia merupakan makhluk yang berjiwa, dan adanya jiwa dalam diri manusia itu sendiri direfleksikan dalam bentuk perilaku yang merupakan aktivitas manusia. Kemampuan kejiwaan manusia itu sendiri dibedakan atas tiga golongan besar, yaitu: Kognisi, yang berhubungan dengan pengenalan, Emosi yang berhubungan dengan perasaan. Dan Konasi, yang berhubungan dengan motif.
Walaupun kemampuan jiwa manusia digolong-golongkan, namun yang harus selalu kita ingat yaitu bahwa jiwa manusia itu merupakan suatu kesatuan, suatu kebulatan, atau suatu totalitas. Hal ini berarti setiap bagian satu tidak akan terlepas dari bagian yang lain karena semuanya itu akan selalu saling berkaitan. Sedangkan kondisi kejiwaan manusia itu sendiri juga tidak akan terlepas dari kondisi lingkungannya. Hal itu dikarenakan manusia akan selalu menerima rangsang atau stimulus dari dalam dan dari luar individu. Dari luar individu disini yang dimaksud yaitu stimulus yang datang dari lingkungannya.
Kemampuan mengingat merupakan suatu hal yang sering kita anggap mudah namun kenyataanya, mengingat merupakan kegiatan otak yang melalui beberapa proses yang tidak sederhana. Kemampuan mengingat pada setiap individu itu berbeda-beda. Hal itu disebabkan beberapa faktor yang mempengaruhi. Dalam makalah ini akan dibahas secara rinci peristiwa-peristiwa kejiwaan (Ingatan).


  1. Rumusan Masalah
1.      Bagaimana proses penciptaan manusia dalam Al-Qur’an?
2.      Apa saja fungsi penciptaan manusia dalam alam semesta?
3.       Bagaimana pandangan Al-Qur’an tentang manusia?
4.      Apa implikasi konsep manusia dalam pendidikan islam?
  1. Tujuan
1.      Mengetahui proses penciptaan manusia dalam Al-Qur’an
2.      Mengetahui fungsi penciptaan manusia dalam alam semesta
3.      Mengetahui pandangan Al-Qur’an tentang manusia
4.      Mengetahui implikasi konsep manusia dalam pendidikan islam





BAB II
PEMBAHASAN


A.    Definisi Ingatan
Mengingat berarti menyerap atau meletakkan pengetahuan dengan jalan pengecaman secara aktif. Fungsi ingatan itu sendiri meliputi tiga aktivitas yaitu:
1)      Mencamkan yaitu menangkap atau menerima kesan-kesan
2)      Menyimpang kesan-kesan
3)      Memproduksi kesan-kesan
Dengan adanya kemampuan mengingat pada manusia, hal ini menunjukkan bahwa manusia
Sifat –sifat dari ingatan yang baik adalah: cepat, setia, kuat, luas, dan siap. Sifat cepat berlaku untuk aktivitas mencamkan, sifat-sifat setia, kuat dan luas berlaku dalam hal menyimpan, sedangkan sifat  siap berlaku dalam hal memproduksi kesan-kesan. Dengan demikian, kita dapat menyebutkan adanya berbagai sifat ingatan yang baik. Ingatan di katakana cepat, apabila dalam mencamkan kesan-kesan tidak mengalami kesulitan. Ingatan dikatakan setia, apabila kesan yang telah dicamkan itu tersimpan dengan baik dan stabil. Ingatan di katakana  kuat apabila kesan-kesan yang tersimpan tertahan lama. Ingatan di katakana  luas apabila kesan kesan yang tersimpan sangat bervariasi dan banyak jumlahnya. Ingatan dikatakan siap, apabila kesan kesan yang tersimpan sewaktu waktu mudah di reproduksikan kea lam kesadaran. Pengecaman terhadap sesuatu akan lebih kuat, apabila:
·         Kesan-kesan yang di camkan di bantu dengan penyuaraan.
·         Pikiran subjek lebih terkonsentrasi kepada kesan-kesan.
·         Teknik belajar yang di pakai oleh subjek adalah efektif.
·         Subjek menggunakan titian ingatan.
·         Struktur bahan dari kesan-kesan yang dicamkan adalah jelas.
Usaha memperjelas struktur bahan dapat di lakukan misalnya dengan jalan pembuat ihtisar, rangkuman, singkatan, penggolongan, secara ritme (untuk nada suara), penggolongan secara kategoris yang bermakna ( untuk bilangan dan perhitungan matematis) .
Sering kita menyebutkan hal ingat dan lupa. Soal mengingat dan lupaa ini dalam psikologi biasanya di kemukakan dengan satu pengertian saja, yaitu “ retensi”.  jadi  retensi menunjukkan hal mengingat dan lupa yang keduanya hanya merupakan sudut tinjauan yang berbeda tentang sesuatu yang satu. Berdasarkan penelitian, seletelah kita mencamkan sesuatu bnyak hal yang secara berangsur angsur terlupakan. Untuk mengatasi hal ini, maka bahan yang kita ingat dengan baik harus di ulang ulang secara terus menerus. Untuk itu subjek hendaknya mampu membagi dan memanfaatkan waktu dengan baik.
Dalam hal mengingat, orang sering mengalami kesulitan yang disebabkan karena adanya “ interfensi”. Interfensi adalah hambatan ingatan atau belajar akibat masuknya bahan bahan yang terdahulu. Jadi, kesan-kesan terdahulu mengganggu usaha reproduksi kesan-kesan terdahulu mengganggu usaha reproduksi kesan-kesan yang lebih baru. Interfensi lebih banyak terjadi pada waktu jaga dari pada waktu tidur.
Dalam hal mereproduksi, kita kenal adanya dua macam reproduksi, yaitu:
1)      Mengingat kembali (recall)
2)      Mengenai kembali (recognition)
Bedasarkan hasil penelitian ternyata mengenal kembali itu lebih mudah daripada mengingat kembali. Hal ini dapat kita maklumi, karena dalam mengenal kembali terdapat objek nyata sebagai perangsang ingatan, sedangkan dalam mengingat kembali tidak terdapat objek semacam itu[1].
B.     Fungsi Penciptaan Manusia dalam Alam Semesta[2]
Manusia adalah makhluk Tuhan yang diciptakan dengan bentuk raga yang sebaik-baiknya dan rupa yang seindah-indahnya dilengkapi dengan berbagai organ psikofisik yang istimewa seperti panca indra dan hati agar manusia bersyukur kepada Allah yang telah menganugerahi keistimewaan-keistimewaan itu. Secara lebih rinci keistimewaan-keistimewaan yang dianugerahkan Allah kepada manusia antara lain adalah kemampuan untuk berfikir untuk memahami alam semesta dan dirinya sendiri, akal untuk memahami tanda-tanda keagungan-Nya, nafsu yang paling rendah sampai yang tertinggi.
Secara global, tujuan dan fungsi penciptaan manusia itu dapat diklasifikasikan kepada dua, yaitu:
1.      Khalifah
Al-Qur’an menegakkan bahwa manusia diciptakan Allah sebagai pengemban amanat. Di antara amanat yang dibebankan kepada manusia memakmurkan kehidupan di bumi. Karena amat mulianya manusia sebagai pengemban amanat Allah, maka manusia diberi kedudukan sebagai khalifah-Nya di muka bumi.
Menurut Ahmad Musthafa Al Maraghi, kata khalifah memiliki dua makna. Pertama, adalah pengganti, yaitu pengganti Allah SWT  untuk melaksanakan titah-Nya di muka bumi. Kedua, manusia adalah pemimpin yang kepadanya ditugasi untuk memimpin diri dan makhluk lainnya serta memakmurkan dan mendayagunakan alam semesta bagi kepentingan manusia secara keseluruhan[3].
2.      ‘Abd ( Pengabdi Allah)
Konsep ‘abd mengacu pada tugas-tugas individual manusia sebagai hamba Allah. Tugas ini diwujudkan dalam bentuk pengabdian ritual kepada Allah SWT dengan penuh keikhlasan. Pemenuhan fungsi ini memerlukan penghayatan agar seorang hamba sampai pada tingkat religiusitas dimana tercapainya kedekatan diri dengan Allah SWT. Bila tingkat ini berhasil diraih, maka seorang hamba akan bersikap tawadhu’ , tidak arogan dan akan senantiasa pasrah pada semua titah perintah Allah SWT (tawaqqal)[4].

C.    Pandangan Al-Qur’an tentang Manusia
Sejak berada dimuka bumi, manusia kadang keliru dalam memahami ditinya. Kadangkala dia cenderung untuk bersikap superior, sehingga memandang dirinya sebagai makhluk yang paling besar dan agung di alam ini. Bahkan superioritas ini diserukannya dengan penuh kecongkakan dan kesombongan. Dia menampik untuk meyakini bahwa dirinya punya tanggung jawab sebagai khalifah dan ‘abd di bumi[5].
Manusia menurut Al-Qur’an, dilahirkan suci (tidak memikul dosa). Pendidikanlah yang menentukan dan membentuk manusia kongkret. Pembentukan manusia kongkret, melalui pendidikan Al-Qur’an barangkali dapat dilakukan dengan merekonstruksi model manusia dari unsur-unsur akhlak yang terdapat dalam al-qur’an. Misalkan kita bisa merekonstruksi model pemimpin yang dapat dijadikan “uswatun khasanah”[6].
D.    Implikasi Konsep Manusia dalam Pendidikan Islam[7]
Para ahli pendidikan muslim umumnya sependapat bahwa teori dan praktek kependidikan Islam harus didasarkan pada konsepsi dasar tentang manusia. Dikemukakan tentang filsafat penciptaan manusia dan fungsi penciptaannya dalam alam semesta, paling tidak ada 2 (dua) implikasi terpenting dalam hubungannya dengan pendidikan Islam, yaitu:
1.      Karena manusia adalah makhluk yang merupakan resultan dari dua komponen (materi dan immateri), maka konsepsi itu menghendaki proses pembinaan yang mengacu ke arah realisasi dan pengembangan komponen-komponen tersebut. Hal ini berarti bahwa sistem pendidikan Islam harus dibangun diatas konsep kesatuan (integrasi) antara pendidikan qalbiyyah dan ‘Aqliyyah sehingga mampu menghasilkan manusia muslim yang pintar secara intelektual dan terpuji secara moral. Jika kedua komponen itu terpisah atau dipisahkan dalam proses kependidikan Islam, ,maka manusia akan kehilangan keseimbangannya dan tidak akan pernah menjadi pribadi-pribadi yang sempurna (al-insan al-kamil).
2.      Al-Qur’an menjelaskan bahwa fungsi penciptaan manusia di alam ini adalah sebagai khalifah dan ‘abd. Untuk melaksanakan fungsi ini, Allah SWT membekali manusia dengan seperangkat potensi. Dalam konteks ini, maka pendidikan Islam harus merupakan upaya yang ditujukan ke arah pengembangan potensi yang dimiliki manusia secara maksimal sehingga dapat diwujudkan dalam bentuk kongkrit, dalam arti berkemampuan menciptakan sesuatu yang bermanfaat bagi diri, masyarakat dan lingkungannya sebagai fungsi dan tujuan penciptaannya, baik sebagai khalifah maupun ‘abd.

Kedua hal diatas harus menjadi acuan dasar dalam menciptakan dan mengembangkan sistem pendidikan Islam masa kini dan masa depan. Agar pendidikan umat berhasil dalam prosesnya, maka konsep penciptaan manusia dan fungsi penciptaannya dalam alam semesta harus sepenuhnya diakomodasikan dalam perumusan teori-teori pendidikan Islam melalui pendekatan kewahyuan, empirik keilmuan dan rasional filosofis. Dalam hal ini harus difahami pula bahwa pendekatan keilmuan dan filosofis hanya merupakan media untuk menalar pesan-pesan tuhan yang absolut, baik melalui ayat-ayat-Nya yang bersifat tekstual (Qur’aniyyah), maupun ayat-ayat-Nya yeng bersifat kontekstual (kauniyah) yang telah dijabarkan-Nya melalui sunnatullah[8].









BAB III
PENUTUP
 A. Kesimpulan
Manusia merupakan mahluk-Nya paling sempurna dan sebaik-baik ciptaan yang dilengkapi dengan akal fikiran. Manusia adalah makhluk kosmis yang sangat penting, karena dilengkapi dengan semua pembawaan dan syarat-syarat yang diperlukan bagi pengemban tugas dan fungsinya sebagai makhluk Allah dimuka bumi. Setidaknya ada tiga kata yang digunakan al-qur’an untuk menunjuk makna manusia, yaitu: Al-Basyar, Al-Insan, An-Naas .
                        Secara global, tujuan dan fungsi penciptaan manusia itu dapat diklasifikasikan kepada dua, yaitu khalifah dan ‘abd (pengabdi Allah). Manusia menurut Al-Qur’an, dilahirkan suci (tidak memikul dosa). Pendidikanlah yang menentukan dan membentuk manusia kongkret.
           
           














DAFTAR PUSTAKA


Ø  Syarifudin, Tatang. Landasan Pendidikan. Jakarta: Depag, 2009.
Ø  Nizar, Samsul. Filsafat Pendidikan Islam. Jakarta : Ciputat Press, 2002.
Ø  Ilyas, Yunahar dkk. Pendidikan dalam Perspektif Al-Qur’an. Yogyakarta : Pustaka Pelajar Offset, 1999.
Ø  Arif, Arifudin. Pengantar Ilmu Pendidikan Islam. Jakarta: Kultura, 2008.










[1]
[2] Samsul Nizar, Filsafat Pendidikan Islam, (Jakarta:Ciputat Press, 2002) hal 17
[3] Ahmad Musthafa Al Maraghi, Tafsir Al Maraghi, (Semarang:Toha Putra, 1985) hal 131
[4] Samsul Nizar, Filsafat Pendidikan Islam, (Jakarta:Ciputat Press, 2002) hal 19
[5] Arifudin Arif, Pengantar Ilmu Pendidikan Islam, (Jakarta:Kultura, 2008) hal 6
[6] Yunahar Ilyas dkk, Pendidikan dalam Perspektif Al-Qur’an, (Yogyakarta:Pustaka Pelajar Offset,
   1999) hal. 26
[7] Samsul Nizar, Filsafat Pendidikan Islam, (Jakarta:Ciputat Press, 2002) hal 21
[8] Samsul Nizar, Filsafat Pendidikan Islam, (Jakarta:Ciputat Press, 2002) hal 23

No comments:

Post a Comment