Friday, January 1, 2016

Makalah Supervisi

BAB I
PENDAHULUAN

A.    Latar Belakang
Kita sekarang banyak mendengar orang berbicara tentang merosotnya mutu pendidikan. Di lain pihak banyak pula orang menandaskan perlu dan pentingnya pembaharuan pendidikan dan pengajaran, tetapi sedikit sekali orang berbicara tentang konsep-konsep pemecahan masalah perbaikan pendidikan dan pengajaran. Mereka membutuhkan bantuan dalam mencoba mengerti tujuan pendidikan, tujuan kurikulum, tujuan instruksional secara operasional.
Mereka membutuhkan pengalaman mengenal dan menilai hasil belajar anak-anak dan mereka mengharapkan bantuan dalam hal memecahkan persoalan-persoalan mereka. Orang yang berfungsi memberi bantuan kepada guru-guru dalam menstimulir guru-guru ke arah mempertahankan suasana belajar mengajar kita sebut supervisor. Kepala sekolah dalam hal ini berfungsi sebagai supervisor para guru.

B.     Rumusan Masalah
1.      Apa pengertian supervisi?.
2.      Apa saja fungsi supervisi?.
3.      Bagaimana peran Kepala Sekolah sebagai supervisor?.
4.      Apa saja tipe-tipe kepemimpinan?.
5.      Apa saja teori-teori kepemimpinan?.

C.    Tujuan
1.      Untuk mengetahui apa pengertian supervisi.
2.      Untuk mengetahui apa saja fungsi supervisi.
3.      Untuk memahami peran Kepala Sekolah sebagai supervisor.
4.      Untuk mengetahui apa saja tipe=tipe dalam kepemimpinan.
5.      Untuk mengetahui apa saja teori-teori dalam kepemimpinan.



BAB II
PEMBAHASAN

A.    Pengertian Supervisi
Supervisi adalah segala bantuan dari para pemimpin sekolah, yang tertuju kepada perkembangan kepemimpinan guru-guru dan personel sekolah lainnya di dalam mencapai tujuan-tujuan pendidikan. Ia berupa dorongan, bimbingan, dan kesempatan bagi pertumbuhan keahlian dan kecakapan guru-guru, seperti bimbingan dalam usaha dan pelaksanaan pembaharuan-pembaharuan dalam pendidikan dan pengajaran, pemilihan alat-alat pelajaran dan metode-metode mengajar yang lebih baik, cara-cara penilaian yang sistematis terhadap fase seluruh proses pengajaran, dan sebagainya.

B.     Fungsi Supervisi
Fungsi-fungsi supervisi pendidikan yang sangat penting diketahui oleh para pimpinan pendidikan termasuk kepala sekolah, adalah sebagai berikut:
1.    Dalam bidang kepemimpinan
a.       Menyusun rencana dan policy bersama.
b.      Mengikutsertakan anggota-anggota kelompok (guru-guru, pegawai) dalam berbagai kegiatan.
c.       Memberikan bantuan kepada anggota kelompok dalam menghadapi dan memecahkan persolan-persoalan.
d.      Membangkitkan dan memupuk semangat kelompok, atau memupuk moral yang tinggi kepada anggota kelompok, dll.
2.    Dalam hubungan kemanusiaan
a.       Memanfaatkan kekeliruan ataupun kesalahan-kesalahan yang dialaminya untuk dijadikan pelajaran demi perbaikan selanjutnya, bagi diri sendiri maupun bagi anggota kelompoknya.
b.      Mengarahkan anggota kelompok kepada sikap-sikap yang demokratis.
c.       Memupuk rasa saling menghormati di antara sesama anggota kelompok dan sesama manusia.
d.      Menghilangkan rasa curiga-mencurigai antara anggota kelompok.
3.    Dalam pembinaan proses kelompok
a.         Memupuk sikap dan kesediaan tolong menolong.
b.        Memperbesar rasa tanggung jawab para anggota kelompok.
c.         Menguasai teknik-teknik memimpin rapat dan pertemuan-pertemuan lainnya.
d.        Mengenal masing-masing pribadi anggota kelompok, baik kelemahan maupun kemampuan masing-masing.
4.    Dalam bidang administrasi personel
a.       Memilih personel yang memiliki syarat-syarat dan kecakapan yang diperlukan untuk suatu pekerjaan.
b.      Menempatkan personel pada tempat dan tugas yang sesuai dengan kecakapan dan kemampuan masing-masing.
c.       Mengusahakan susunan kerja yang menyenangkan dan meningkatkan daya kerja serta hasil maksimal.
5.    Dalam bidang evaluasi
a.         Menguasai dan memahami tujuan-tujuan pendidikan secara khusus dan terinci.
b.        Menguasai dan memiliki norma-norma atau ukuran-ukuran yang akan digunakan sebagai kriteria penilaian.
c.         Menguasai teknik-teknik pengumpulan data untuk memperoleh data yang lengkap, benar, dan dapat diolah menurut norma-norma yang ada.
d.        Menafsirkan dan menyimpulkan hasil-hasil penilaian sehingga mendapatkan gambaran tentang kemungkinan-kemungkinan untuk mengadakan perbaikan-perbaikan.[1]
Jika fungsi-fungsi supervisi di atas benar-benar dikuasai dan dijalankan dengan sebaik-baiknya oleh setiap pemimpin pendidikan termasuk kepala sekolah terhadap anggotanya, maka kelancaran jalannya sekolah atau lembaga dalam pencapaian tujuan pendidikan akan lebih terjamin.

C.    Kepala Sekolah Sebagai Supervisor
Kepala Sekolah sebagai supervisor artinya Kepala sekolah berfungsi sebagai pengawas, pengendali, pembina, pengarah, dan pemberi contoh kepada para guru dan karyawanya di sekolah. Salah satu hal yang terpenting bagi kepala sekolah, sebagai supervisor adalah memahami tugas dan kedudukan karyawan-karyawannya atau staf di sekolah yang dipimpinya. Dengan demikian kepala sekolah bukan hanya mengawasi karyawan dan guru yang sedang melaksanakan kegiatan, tetapi ia membekali diri dengan pengetahuan dan pemahamannya tentang stafnya, agar pengawasan dan pembinaan berjalan dengan baik dan tidak membingungkan. Jadi kedudukan Kepala Sekolah sebagai supervisor sangan penting peranannya dalam memajukan dan mengembangkan pendidikan, secara ototmatis Kepala Sekolah harus memiliki pengetahuan yang luas dan hubungan yang dekat dengan seluruh karyawannya.
Kepala Sekolah harus menguasai tugas-tugasnya dan melaksanakan tugasnya dengan baik, bertanggung jawab terhadap seluruh kegiatan sekolah, mengatur proses belajar mengajar, kesiswaan personalia, sarana dan prasarana dalam pelajaran, ketatausahaan, keuangan, serta hubungan dengan masyarakat.
Kepala Sekolah harus kreatif dan mampu memiliki ide-ide dan inisiatif yang menunjang perkembangan sekolah. Ide kreatifnya dapat digunakan untuk membuat perencanaan, menyusun organisasi sekolah, memberikan pengarahan,dan mengatur pembagian kerja, mengelola kepegawaian yang ada di lingkungan sekolah agar keseluruhan proses administrasi dalam sekolah yang dipimpinnya dapat berjalan lancar dan mampu mencapai tujuan yang diharapkan.[2]
Sebagai supervisor, Kepala Sekolah berkewajiban melakukan pengoordinasian seluruh kegiatan sekolah dan administrasi sekolah dengan menghubungkan seluruh personal organisasi dengan tugas yang dilakukannya sehingga terjalin kesatuan, keselarasan, dan menghasilkan kebijaksanaan dan keputusan yang tepat.
Dengan demikian, sebagai supervisor, Kepala Sekolah melakukan langkah-langkah konkret, sebagai berikut :
1.    Menyusun rencana dan kebijakan bersama;
2.    Melibatkan partisipatif seluruh guru dan staf sekolah;
3.    Membantu dan mendorong agar semua bawahannya dapat menyelesaikan masalah yang yang dihadapi;
4.    Memberikan contoh yang patut ditiru oleh bawahannya;
5.    Melakukan pengambilan keputusan atas dasar musyawarah mufakat dengan seluruh bawahannya;
6.    Memperhatikan program kerja dan pelaksanaan program kerja yang sesuai dengan kecakapan bawahannya;
7.    Meningkatkan kreativitas dan idealism bawahannya guna kemajuan bersama;
8.    Melakukan pembinaan personal dan kelompok kerja para guru;
9.    Memberikan bantuanmoriel dan materiil demi kemajuan guru dan seluruh bawahannya.[3]
Kepala Sekolah juga harus memiliki pengetahuan serta kecakapan yang tinggi sesuai dengan bidang tanggung jawabnya dalam sekolah tersebut. Sehingga dia dapat menjalankan tugas sebagai pimpinan dengan baik. Bersama dengan seluruh karyawannya, Kepala Sekolah harus mampu bersinergi dengan karyawannya dalam rangka merealisasikan tujuan bersama.

D.     Tipe Kepemimpinan
Adapun gaya atau tipe kepemimpinan yang pokok atau juga disebut ekstrem ada tiga tipe atau bentuk kepemimpinan yaitu:

a.       Kepemimpinan Otoriter
Kepemimpinan otoriter adalah kepemimpinan yang bertindak sebagai diktator terhadap anggota-anggota kelompoknya. Baginya memimpin adalah menggerakkan dan memaksa kelompok. Apa yang diperintahnya harus dilaksanakan secara utuh, ia bertindak sebagai penguasa dan tidak dapat dibantah sehingga orang lain harus tunduk kepada kekuasaanya. Ia menggunakan ancaman dan hukuman untuk menegakkan kepemimpinannya. Kepemimpian otoriter hanya akan menyebabkan ketidakpuasan dikalangan guru.

b.      Kepemimpinan Laissez Faire
Bentuk kepemimpinan ini merupakan kebalikan dari kepemimpinan otoriter. Yang mana kepemimpinan laissez faire menitik beratkan kepada kebebasan bawahan untuk melakukan tugas yang menjadi tanggung jawabnya. Pemimpin lasses faire banyak memberikan kebebasan kepada personil untuk menentukan sendiri kebijaksanaan dalam melaksanakan tugas, tidak ada pengawasan dan sedikit sekali memberikan pengarahan kepada personilnya.
Kepemimpinan Laissez Faire tidak dapat diterapkan secara resmi di lembaga pendidikan, kepemimpinan laissez faire dapat mengakibatkan kegiatan yang dilakuakn tidak terarah, perwujudan kerja simpang siur, wewenang dan tanggungjawab tidak jelas, yang akhirnya apa yang menjadi tujuan pendidikan tidak tercapai.[4]

c.       Kepemimpinan Demokratis
Bentuk kepemimpinan demokratis menempatkan manusia atau personilnya sebagai faktor utama dan terpenting. Hubungan antara pemimpin dan orang-orang yang dipimpin atau bawahannya diwujudkan dalam bentuk human relationship atas dasar prinsip saling harga-menghargai dan hormat-menghormati. Dalam melaksanakan tugasnya, pemimpin demokratis mau menerima dan bahkan mengharapkan pendapat dan saran-saran dari bawahannya. Fungsi Kepemimpinan Pendidikan
Kependidikan adalah proses menggerakkan, mempengaruhi, memberikan motivasi dan mengarahkan orang-orang dilembaga pendidikan untuk mencapai tujuan yang telah dirumuskan sebelumnya. Untuk mewujudkan tugas tersebut seorang pemimpin harus mampu bekerjasama dengan orang yang dipimpinnya. Seorang pemimpin harus tahu fungsi dan peranannya sebagai pemimpin. [5]
           
E.     Teori Kepemimpinan
   Teori kepemimpinan merupakan teori yang berusaha untuk menerangkan bagaimana pemimpin dan kelompok yang dipimpinnya dapat berperilaku dalam berbagai struktur kepemimpinan, budaya dan lingkungannya. Pada dasarnya teori kepemimpinan itu ada tiga macam, yaitu:

1.    Teori Sifat (trait theory)
Sering disebut teori genetis karena seorang pemimpin dianggap memiliki sifat-sifat yang dibawa semenjak lahir sebagai sesuatu yang diwariskan.[6] Asumsi dasar dari teori ini menyatakan bahwa kepemimpinan memerlukan serangkaian sifat, cirri, atau perangai tertentu yang menjamin keberhasilan setiap situasi. Keberhasilan seorang pemimpin diletakkan pada kepribadian (personality) pemimpin itu sendiri.oleh karena itu, penganut teori sifat dalam mengembangkan teorinya terus berusaha menggali karakteristik yang dapat dikembangkan untuk mencapai kepemimpinan yang baik. Adapun studi terhadap pemimpin yang kurang atau tidak berhasil dimaksudkan untuk mengetahui karakteristik yang harus dihindari. Teori sifat telah memberikan suatu kebenaran yang praktis dan fundamental bahwa kepribadian seseorang merupakan kehidupan batin bagi dirinya, termasuk unsure-unsur dalam diri manusia itu sendiri, seperti latar belakang kehidupan, pengalaman hidup, keyakinan, sikap khas, prasangka, perasaan, imajinasi, dan filsafat hidup.

2.    Teori Perilaku (Behavior theory)
Kepemimpinan dipandang sebagai hubungan di antara orang-orang, bukan sebagai sifat-sifat atau ciri-ciri seorang individu. Oleh karena itu, keberhasilan seorang pemimpin sangat ditentukan oleh kemampuan pemimpin itu sendiri dengan anggotanya. Dengan kata lain, teori ini sangat memerhatikan perilaku pemimpin (sebagai aksi) dan respons kelompok yang dipimpinnya (sebagai reaksi). Teori perilaku, disebut juga teori humanistic, lebih menekankan pada model atau gaya kepemimpinan yang dijalankan oleh seorang pemimpin.[7]
Menurut James Owens, ada lima gaya kepemimpinan, yaitu sebagai berikut:
a.    Pemimpin otokratis adalah pemimpin yang memiliki wewenang (authority) dari suatu sumber (misalnya karena posisinya), pengetahuan, kekuasaan atau kekuasaan untuk memberikan penghargaan atau menghukum. Ia menggunakan authority ini sebagai pegangan atau hanya sebagai alat atau metode agar sesuatunya dapat dijalankan serta diselesaikan. Apa yang dilakukan oleh pemimpin dengan gaya ini hanyalah memberitahkan tugas bawahannya serta menuntut kepatuhan mereka secara penuh (tanpa bertanya-tanya).
b.    Kepemimpinan birokratis adalah gaya kepemimpinan ang dijalan kan dengan memberitahukan para anggota (bawahan) apa dan bagiamana sesuatu itu dilaksanakan. Namun demikian, dasar dari perintah tersebut hampir sepenuhnya menyangkut kebijakan, prosedur, dan aturan-aturan organisasinya. Ciri khas seorang yang birokratis adalah bahwa semua aturan atau ketentuan organisasi itu adalah absolute, artinya pemimpin mengatur kelompoknya dengan berpegang pada aturan-aturan yang telah ditetapkan.
c.    Gaya kepemimpinan diplomatis, secara umum dapat dikatakan bahwa seorang diplomat adalah juga seorang seniman, sebagaimana seorang seniman yang melalui seninya berusaha mengadakan persuasive secara pribadi. Jadi sekalipun ia mewakili wewenang atau kekuasaan yang jelas, ia kurang suka menggunakan kekuasaannya itu. Ia cenderung memilih cara menjual sesuatu (motivasi) kepada bawahannya dan mereka menjalankan tugas atau pekerjaannya dengan baik. Karena itulah gaya kepemimpinan serig pula menggunakan taktik persuasive yang beragam dan bertingkat.
d.   Pemimpin dengan gaya partisipatif adalah pemimpin yang selalu mengajak secara terbuka kepada  bawahannya untuk berpartisipasi atau ambil bagian, baik secara luas ataupun dalam batas-batas tertentu dalam pengambilan keputusan, perumusan kebijakan dan metode-metode operasionalnya. Jenis pemimpin seperti ini dapat berupa seorang pemimpin yang benar-benar demokratis ataupun ia berstatus sebagai pemimpin untuk berkonsultasi.
e.    Free rein leader adalah pemimpin yang seakan-akan seperti menunggang kuda yang melepaskan kedua tali kendali kudanya. Walaupun dalam arti yang sesungguhnya ia bukanlah seorang pemimpin yang benar-benar membiarkan bawahannya tanpa pengawasan sama sekali, pertama-tama ia menetapkan tujuan yang harus dicapai oleh anggota-anggota kelompoknya disertai dengan kebijakan tertentu, dana yang diperlukan dan jadwal pelaksanaan pekerjaan atau tugas tersebut. Tindakan kedua, ia melepaskan anggota atau bawahannya untuk bebas bekerja dan bertindak tanpa pengarahan ataupun kontrol lebih lanjut, kecuali apabila mereka memintanya.[8]

3.    Teori Lingkungan
Seorang pemimpin  yang berhasil pada situasi dan kondisi tertentu belum tentu berhasil pada situasi dan kondisi yang lain. Dalam teoriini muncul sebuah pernyataan: Leaders are made not born (pemimpin-pemimpin dibentuk bukan dilahirkan). Seorang pemimpin lahir melalui evolusi sosial dengan cara memanfaatkan kemampuannya untuk berkarya dan bertindak mengatasi masalah-masalah yang timbul pada situasi dan kondisi tertentu.
Pada kenyataannya, ketiga teori di atas tingkat keberhasilannya masih diraguakn sehingga kemudian dikembangkan teori baru yang merupakan kombinasi dari teori-teori tersebut, yaitu sebagai berikut:
Pertama, Teori Pertukaran (exchange theory) yang merupakan modifikasi dari teori sifat dan teori perilaku. Teori ini berasumsi bahwa interaksi sosial menggambarkan satu bentuk tukar-menukar antara pemimpin dan anggota maupun antaranggota dan masing-masing saling memberikan kontribusinya.[9] Pemimpin dengan karakter ini memberikan kontribusi kepada anggotanya dengan cara mengembangkan kebiasaab perilakunya, sehingga perilakunya terhadap anggota akan ikut berperan serta dalam berbagai kebijakan pemimpin karena ia merasa dirinya  telah diberi oleh pemimpinnya.
Kedua, Teori Pribadi dan Situasi (personal situasional theory) yang menyatakan bahwa kepemimpinan merupakan produk terpadunya tiga faktor, yaitu: (1) perangai (sifat-sifat) pribadi dari pemimpin, (2) sifat dari kelompok dan anggota-anggotanya, (3) kejadian-kejadian (masalah-masalah) yang dihadapi oleh kelompok. Hal ini berarti sifat-sifat seseorang tanpa didukung oleh situasi dan kondisi tidak akan menjamin ia berkembang menjadi pemimpin. Oleh karena itu, teori ini dipandang sebagai perpaduan antara teori sifat dan teori lingkungan.[10]
Ketiga: Teori Interaksi dan harapan (interaction-expectation theory) yang merupakan perpaduan antara teori perilaku dan lingkungan. Teori interaksi dan harapan berasumsi bahwa semakin sering terjadi interaksi dan partisipasi dalam kegiatan bersama, semakin meningkatkan perasaan saling menyenangi satu sama lain dan saling memperjelas pengertian atas norma-norma kelompok.

F.     Membandingkan Struktur Organisasi
Organisasi dapat diartikan sebagai memberi struktur atau susunan terutama dalam penyusunan/penempatan orang-orang dalam suatu kelompok, atau berarti juga menempatkan hubungan antara orang-orang dalam kewajiban-kewajiban, hak-hak dan tanggung jawab masing-masing di dalam struktur yang telah ditentukannya. Penentuan struktur serta hubungan tugas dan tanggung jawab itu dimaksudkan agar tersusunlah pola kegiatan yang tertuju kepada tercapainya tujuan-tujuan bersama dari kelompok.
Sekolah pada dasarnya merupakan lembaga tempat di mana proses pembelajaran terjadi terutama dalam pemahaman konvensional, di mana belajar dilakukan oleh siswa dan guru berupaya untuk membelajarkan siswa agar dapat mencapai kompetensi-kompetensi yang diharapkan.[11]
Sekolah sebagai suatu lembaga pendidikan yang di dalamnya terdapat kepala sekolah, guru-guru, pegawai tata usaha, dsb, dan murid-murid, memerlukan adanya organisasi yang baik agar  jalannya sekolah itu lancar kepada tujuannya.
Dengan organisasi sekolah yang baik dimaksudkan agar pembagian tugas dan tanggung jawab dapat merata kepada semua orang sesuai dengan kecakapan dan fungsinya masing-masing. Setiap orang mengerti dan menyadari tugasnya dan tempatnya di dalam struktur organisasi itu. Dengan demikian dapat dihindari pula adanya tindakan yang sewenang-wenang atau otoriter dari kepala sekolah, dan sebaliknya dapat diciptakan adanya suasana yang demokratis di dalam menjalankan roda sekolah itu.[12]
Untuk memberikan gambaran dan pengertian yang lebih jelas.


BAB III
PENUTUP

A.       Kesimpulan
Supervisi adalah segala bantuan dari para pemimpin sekolah, yang tertuju kepada perkembangan kepemimpinan guru-guru dan personel sekolah lainnya di dalam mencapai tujuan-tujuan pendidikan.
Kepala Sekolah sebagai supervisor artinya Kepala sekolah berfungsi sebagai pengawas, pengendali, pembina, pengarah, dan pemberi contoh kepada para guru dan karyawanya di sekolah. Salah satu hal yang terpenting bagi kepala sekolah, sebagai supervisor adalah memahami tugas dan kedudukan karyawan-karyawannya atau staf di sekolah yang dipimpinya.



DAFTAR PUSTAKA


Herabudin, Administrasi & Supervisi Pendidikan, (Bandung: Pustaka Setia, 2009)
Http://opyxlempistyle.blogspot.co.id/2012/01/kepemimpinan-dan-supervisi-pendidikan.html
M. Ngalim Purwanto, Administrasi dan Supervisi Pendidikan, (Bandung: Remaja   Rosdakarya,  2006)
Uhar Suharsaputra, Administrasi Pendidikan, (Bandung: Refika Aditama, 2010)




[1]. M.Ngalim Purwanto, Administrasi dan Supervisi Pendidikan, (Bandung: Remaja   Rosdakarya,  2006), hlm. 86-87.
[2]. Herabudin, Administrasi & Supervisi Pendidikan, (Bandung: Pustaka Setia, 2009), hlm. 211.
[3]. Herabudin, Administrasi & Supervisi Pendidikan, (Bandung: Pustaka Setia, 2009), hlm. 213.
[4]. Http://opyxlempistyle.blogspot.co.id/2012/01/kepemimpinan-dan-supervisi-pendidikan.html. Waktu Akses: 12 October 2015, 22:51 WIB.
[5]. M. Moh. Riafai, Administrasi dan Supervisi Pendidikan, (Bandung: Jammars, 1986). hlm. 38-44.
[6]. Herabudin, Administrasi & Supervisi Pendidikan, (Bandung: Pustaka Setia, 2009), hlm. 189.

[7]. Herabudin, Administrasi & Supervisi Pendidikan, (Bandung: Pustaka Setia, 2009), hlm. 190.

[8]. Herabudin, Administrasi & Supervisi Pendidikan, (Bandung: Pustaka Setia, 2009), hlm. 191.
[9]. Herabudin, Administrasi & Supervisi Pendidikan, (Bandung: Pustaka Setia, 2009), hlm. 193.

[10]. Herabudin, Administrasi & Supervisi Pendidikan, (Bandung: Pustaka Setia, 2009), hlm. 193.
[11]. Uhar Suharsaputra, Administrasi Pendidikan, (Bandung: Refika Aditama, 2010), hlm. 31.
[12]. M. Ngalim Purwanto, Administrasi dan Supervisi Pendidikan, (Bandung: Remaja Rosdakarya, 2006), hlm. 160. 

No comments:

Post a Comment