Friday, January 1, 2016

Makalah Ilmu Pendidikan (Aliran Nativisme)


BAB 1
PENDAHULUAN

A.    Latar Belakang
Pentingnya pendidikan telah dirasakan oleh semua orang, setiap orang pasti memerlukan pendidikan. Pendidikan merupakan proses pengembangan potensi, kemampuan, dan kapasitas manusia yang mudah dipengaruhi oleh kebiasaan, kemudian disempurnakan dengan kebiasaan-kebiasaan yang baik, didukung dengan alat atau media yang disusun sedemikian rupa sehingga pendidikan dapat digunakan untuk menolong orang lain atau dirinya sendiri dalam mencapai tujuan-tujuan yang telah ditetapkan.
Dalam pendidikan, sukses atau tidaknya sebuah pendidikan tidak terlepas juga dari faktor-faktor lainnya yang mampu mempengaruhi proses suatu pendidikan. Sejak dulu, kini maupun di masa depan pendidikan itu selalu mengalami perkembangan seiring dengan perkembangan sosial budaya dan perkembangan ilmu teknologi. Pemikiran-pemikiran yang membawa pembaharuan pendidikan disebut aliran-aliran pendidikan.  Dalam mendidik seseorang  , seorang pendidik perlu mengetahui dan memahami tentang aliran-aliran dalam pendidikan. Salah satu aliran yang akan dibahas disini ialah aliran nativisme.

B.     Rumusan Masalah
1.      Apa yang dimaksud dengan aliran nativisme?
2.      Faktor-faktor yang Mempengaruhi Perkembangan Manusia dalam Teori Nativisme?
3.      Tujuan aliran nativisme?
4.      Bagaimana pandangan pendidikan terhadap teori nativisme?




C.     Tujuan
1.      Untuk mengetahui pengertian aliran nativisme.
2.      Untuk mengetahui Faktor-faktor yang Mempengaruhi Perkembangan Manusia dalam Teori Nativisme.
3.      Untuk mengetahui Tujuan aliran nativisme.
4.      Untuk mengetahui pandangan pendidikan terhadap teori nativisme .
















BAB II
PEMBAHASAN

1.      Pengertian Aliran Nativisme
Nativisme berasal dari bahasa latin (Nativus) yang berarti karena kelahiran. Aliran nativisme berpendapat bahwa tiap-tiap anak sejak di lahirkan sudah mempunyai berbagai pembawaan yang akan berkembang sendiri menurut arahnya masing-masing. Pembawaan ank itu ada yang baik dan ada yang buruk. Pendidikan tidak perlu dan tidak berkuasa apa-apa.[1] Aliran ini berpendapat bahwa perkembangan manusia itu telah ditentukan oleh factor-faktor yang dibawa manusia sejak lahir, pembawaan yang telah terdapat pada waktu dilahirkan itulah yang menentukan hasil perkembangannya. Menurut kaum nativisme itu, pendidikan tidak dapat mengubah sifat-sifat pembawaan. Jadi, kalau benar pendapat tersebut, percumalah kita mendidik, dengan kata lain pendidikan tidak perlu. Dalam ilmu pendidikan, hal ini disebut pesimisme pedagogis.[2]
Pelopor aliran ini adalah Schopenhauwer (1788-1880), filosof kebangsaan jerman. Ia berpendapat mendidik ialah membiarakan seseorang tumbuh berdasarkan pembawaannya. Aliran nativisme bertolak dari Leibnitzian Tradition yang menekankan kemampuan diri anak, sehingga faktor lingkungan termasuk faktor pendidikan yang kurang berpengaruh terhadap perkembangan anak. Hasil perkembangan tersebut ditentukan oleh pembawaan yang sudah diperoleh sejak kelahiran. Lingkungan kurang berpengaruh terhadap pendidikan perkembangan anak. Hasil pendidikan juga tergantung pada pembawaan, oleh sebab itu hasil akhir pendidikan ditentukan oleh pembawaan yang sudah dibawa sejak lahir. Berdasarkan pandangan ini, maka keberhasilan pendidikan ditentukan oleh anak didik itu sendiri. Ditekankan bahwa “yang jahat akan menjadi jahat dan yang baik akan menjadi baik”. Pendidikan yang tidak sesuai dengan bakat dan pembawaan anak didik tidak akan berguna untuk perkembangan anak sendiri.[3]
Meskipun dalam kenyataan sehari-hari, sering ditemukan anak mirip orang tuanya (secara fisik) dan anak juga mewarisi bakat-bakat yang ada pada orangtuanya.tetapi pembawaan itu bukanlah merupakan satu-satunya faktor yang menemukan perkembangan. Masih banyak faktor yang mempengaruhi pembentukan dan perkembangan anak dalam menuju kedewasaan.
Terdapat suatu pokok pendapat aliran nativisme yang berpengaruh luas yakni bahwa dalam diri individu terdapat suatu”inti” pribadi yang mendorong manusia untuk mewujudkan diri, mendorong manusia dalam menentukan pilihan dan kemauan sendiri, dan yang menempatkan manusia sebagai makhluk aktif yang mempunyai kemampuan bebas.

2.      Faktor-faktor yang Mempengaruhi Perkembangan Manusia dalam Teori Nativisme.

a.        Faktor Genetik
Adalah faktor gen dari kedua orang tua yang mendorong adanya suatu bakat yang muncul dari diri manusia. Dimana orang tua berperan penting dalam faktor tersebut. Menyatunya gen dari ayah dan ibu akan mewariskan keturunan yang akan memiliki bakat seperti orang tuanya. Bakat merupakan potensi atau kecakapan dasar yang di bawa sejak lahir. Setiap individu mempunyai bakat yang berbeda-beda. Seseorang akan mudah mempelajari sesuatu sesuai dengan bakatnya. Contohnya adalah orang tua anak tersebut adalaah seorang seniman maka anaknya memiliki bakat seperti orang tuanya. [4]

b.      Faktor kemampuan Anak

Adalah faktor yang menjadikan seorang anak mengetahui potensi ataupun kemampuan yang dimilikinya. Sesuai dengan prinsip perbedaan individual setiap anak berbeda-beda, iap anak mempunyai bakat (pembawaan) sendiri-sendiri. kecerdasaan menjadi dasar untuk berkembangnya bakat. Dengan kata lain,kecerdasaan dipandang sebagai factor umum dan bakat merupakan factor khusus.[5] Di dalam faktor tersebut anak dituntut untuk mengembangkan bakat dan mampu menggalinya. Bakat tidak akan serta muncul dan dapat terlihat`pada anak, karena masih merupakan potensi. Setelah anak diber ikesempatan untuk berlatih dan mencoba barulah bakat anak dapat terus dikembangkan. Anak berbakat akan memberikan hasil yang jauh lebih baik daripada anak yang sejak awal tidak menyimpan bakat dalam bidang tersebut.[6]

c.       Faktor Pertumbuhan Anak

Adalah faktor yang mendorong anak untuk mengetahui bakat dan minatnya di setiap tahapan pertumbuhan dan kembangnya secara alami.. Pertumbuhan pada dasarnya adalah perubahan-perubahan yang menujunkan kearah yang lebih baik.pertumbuhan lebih menekankan pada aspek-aspek jasmaniah atau fisik (missal, tinggi badan, berat badan dll). Anak yang tumbuh normal akan bersikap aktif energy dan responsive. Minat adalah kecenderungan terhadap sesuatu, atau bisa dikatakan apa yang disukai seseorang untuk dilakukannya. Pada dassarnya setiap orang akan lebih senang melakukan sesuatu yang sesuai dengan minatnya (yang disukai) daripada melakukan sesuatu yang kurang disukai. Belajar dalamkeadaan hati yang senang tentu`saja akan lebih mudah daripada anak belajar dalam keadaan hati yang terpaksa.[7]


3.      Tujuan Teori Nativisme

1.      Mampu memunculkan bakat yang di miliki
Bakat merupakan potensi atau kecakapan dasar yang di bawa sejak lahir. Setiap individu mempunyai bakat yang berbeda-beda. Seseorang akan mudah mempelajari sesuatu sesuai dengan bakatnya. Karena dengan manusia  mengetahui bakatnya akan semakin mudah untuk mengembangkan potensinya.[8]
2.      Mendorong manusia mewujudkan diri yang berkompetensi
Manusia bisa lebih antusiasme, semangat besar , kreatif dan inovatif dalam mengembangkan bakatnya agar mampu bersaing dalam menghadapi arus globalisasi.
3.      Mendorong manusia dalam menentukan pilihan
Manusia diharapkan memiliki sifat bijaksana dan memiliki sikap tangung jawab dalam menentukan pilihan.
4.      Mendorong manusia untuk mengembangkan potensi dalam diri seseorang
Seseorang menguasai pengetahuan khusus (dengan latihan) , keterampilan atau serangkaian respons yang terorganisir. Misalnya: kemampuan musikal.[9]
5.      Mendorong manusia mengenali bakat dan minat yang dimiliki
Potensi-potensi yang dimiliki anak-anak harus mengalami perkembangan serta membutuhkan latihan-latihan. Di samping itu, tiap-tiap potensi atau kesanggupan mempunyai masa keatangan masing-masing.[10] Jadi semakin dini anak mengenali bakat akan semakin lebih optimal dalam memaksimalkan bakat dan potensinya .




4.      Pandangan Pendidikan terhadap Teori Nativisme
Teori nativisme merupakan sebuah teori dimana Aliran ini berpendapat bahwa perkembangan manusia itu telah ditentukan oleh faktor-faktor yang dibawa manusia sejak lahir, pembawaan yang telah terdapat pada waktu dilahirkan itulah yang menentukan hasil perkembangannya. Menurut kaum nativisme itu, pendidikan tidak dapat mengubah sifat-sifat pembawaan. Jadi, kalau benar pendapat tersebut, percumalah kita mendidik, dengan kata lain pendidikan tidak perlu.[11]
Padahal pendidikan merupakan rangkaian kegiatan dan upaya mempengaruhi melalui pertemuan antara maanusia dewasa (yang bertanggung jawab/selaku pendidik) dan anak yang belum dewasa ( anak didik), dimana yang pertama membantu anak didik dalam usaha yang terakhir ini untuk mencapai kedewasaan berdasarkan kemungkinan-kemungkinan bersama (pada konteks sosio-kultural) sehingga keduanya meningkat kedewasaannya dan kemandiriannya ke arah kehidupan yang lebih baik dan sejahtera. [12]
Namun menurut teori nativisme pendiddikan tidak bisa mengubah atau mempengaruhi perkembangan anak dan menurut teori tersebut dengan adanya pendiddikan akan merusak perkembangan anak tersebut, padahal tujuan dari pendidikan ialah untuk membentuk manusia seutuhnya, dalam arti berkembangnya potensi-potensi individusecara harmonis, berimbang dan terintegrasi.[13] Dalam sebuah pendidikan , justru pendidikan sangatlah diperlukan oleh setiap manusia, karena tanpa pendidikan manusia tidak akan bisa berkembang walaupun dari lahir memiliki pembawaan dan potensi yang baik.dan dengan pendidikan pula manusia lebih bisa memaksimalkan, mengembangkan segala potensi dan bakat yang dimilikinya.
Pendidikan sangat di perlukan oleh setiap manusia, karena tanpa pendidikan manusia tidak akan berkembang walaupun dari lahir sudah memiliki potensi. Padahal dengan pendidikan manusia justru bisa mengembangkan bakat , potensi dan kemampuan yang dimiliki . jadi pendidikan memandang jika aliran tersebut tidak sepenuhnya benar karena pendidikan justru memberikan dampak positif bagi manusia dan tanpa pendidikan, manusia justru akan kesulitan dalam mengembangkan bakat dan potensinya.



















BAB III
PENUTUP

KESIMPULAN
            Dapat di simpulkan bahwa teori nativisme adalah Aliran yang berpendapat bahwa perkembangan manusia itu telah ditentukan oleh faktor-faktor yang dibawa manusia sejak lahir, pembawaan yang telah terdapat pada waktu dilahirkan itulah yang menentukan hasil perkembangannya. Menurut kaum nativisme itu, pendidikan tidak dapat mengubah sifat-sifat pembawaan. Dimana faktor pendidikan maupun faktor lingkungan kurang berpengaruh, dan menganggap pendidikan itu hanya sebuah hal yang sia-sia karena tidak dapat merubah kodrat atau pembawaan seseorang dari lahir. Aliran ini berpendapat bahwa semua keberhasilan belajar seseorang tergantung dari pembawaan sejak lahir. Dimana jika seorang anak memiliki bakat jahat sejak lahir maka ia akan menjadi jahat tetapi sebaliknya jika anak dari lahir memiliki bakat baik, maka ia akan menjadi baik.












DAFTAR PUSTAKA

Purwanto, Ngalim. 2014. Ilmu Pendidikan dan Teoritis. Bandung: PT Remaja Rosdakarya.
Rasyidin, Waini. 2014. Pedagogik Teoritis dan Praktis. Bandung: PT Remaja Rosdakarya.
Maunah, Binti. 2009.  Ilmu Pendidikan. Yogyakarta: Teras.
Ahmadi, Abu dan Widodo Supriyono. 1991. Psikologi Belajar. Jakarta: PT Rineka Cipta.
Sutirna. 200 .Perkembangan & Pertumbuhan Peserta Didik. Yogyakarta: CV Andi Offset.
Nuryanti, Lusi. Psikologi Anak. 2008. Jakarta: PT INDEKS.




[1]Ngalim Purwanto, IlmuPendidikandanTeoritis, (Bandung: PT RemajaRosdakarya, 2014), hlm 16.
[2]Ibid, hlm 59.
[3]Binti Maunah, Ilmu Pendidikan, (Yogyakarta: Teras, 2009) hlm 123.
[4]Abu Ahmadi dan Widodo Supriyono, Psikologi Belajar,(Jakarta:PT Rineka Cipta, 1991) hlm 78-79.
[5] Sutirna, Perkembangan & Pertumbuhan Peserta Didik, (Yogyakarta: CV Andi Offset, 200 ), hlm 134
[6] Lusi Nuryanti, Psikologi Anak,( Jakarta: PT INDEKS, 2008), hlm 59-60.
[7] Ibid, hlm59.
[8] Abu Ahmadi dan Widodo Supriyono, Psikologi Belajar, (Jakarta:PT Rineka Cipta, 1991) hlm 78-79.
[9] Sutirna, Perkembangan & Pertumbuhan Peserta Didik, (Yogyakarta: CV Andi Offset, 200 ),hlm 133.
[10] NgalimPurwanto, Ilmu Pendidikan dan Teoritis, (Bandung: PT RemajaRosdakarya, 2014), hlm 67.
[11] Ngalim Purwanto, Ilmu Pendidikan dan Teoritis, (Bandung: PT RemajaRosdakarya, 2014), hlm 16.
[12] Waini Rasyidin, Pedagogik Teoritis dan Praktis, (Bandung: PT Remaja Rosdakarya, 2014), hlm 118.
[13] Binti Maunah, Ilmu Pendidikan, (Yogyakarta: Teras, 2009) ,hlm 37.

No comments:

Post a Comment