BAB 1
PENDAHULUAN
A. Latar
Belakang
Pentingnya
pendidikan telah dirasakan oleh semua orang, setiap orang pasti memerlukan
pendidikan. Pendidikan merupakan proses pengembangan potensi, kemampuan, dan
kapasitas manusia yang mudah dipengaruhi oleh kebiasaan, kemudian disempurnakan
dengan kebiasaan-kebiasaan yang baik, didukung dengan alat atau media yang
disusun sedemikian rupa sehingga pendidikan dapat digunakan untuk menolong
orang lain atau dirinya sendiri dalam mencapai tujuan-tujuan yang telah
ditetapkan.
Dalam
pendidikan, sukses atau tidaknya sebuah pendidikan tidak terlepas juga dari
faktor-faktor lainnya yang mampu mempengaruhi proses suatu pendidikan. Sejak
dulu, kini maupun di masa depan pendidikan itu selalu mengalami perkembangan
seiring dengan perkembangan sosial budaya dan perkembangan ilmu teknologi.
Pemikiran-pemikiran yang membawa pembaharuan pendidikan disebut aliran-aliran
pendidikan. Dalam mendidik
seseorang , seorang pendidik perlu
mengetahui dan memahami tentang aliran-aliran dalam pendidikan. Salah satu
aliran yang akan dibahas disini ialah aliran nativisme.
B. Rumusan
Masalah
1. Apa
yang dimaksud dengan aliran nativisme?
2. Faktor-faktor yang
Mempengaruhi Perkembangan Manusia dalam Teori Nativisme?
3. Tujuan
aliran nativisme?
4.
Bagaimana pandangan pendidikan terhadap teori nativisme?
C. Tujuan
1. Untuk
mengetahui pengertian aliran nativisme.
2. Untuk
mengetahui Faktor-faktor yang
Mempengaruhi Perkembangan Manusia dalam Teori Nativisme.
3. Untuk
mengetahui Tujuan aliran nativisme.
4. Untuk
mengetahui pandangan pendidikan terhadap
teori nativisme .
BAB
II
PEMBAHASAN
1.
Pengertian
Aliran Nativisme
Nativisme
berasal dari bahasa latin (Nativus) yang berarti karena kelahiran. Aliran
nativisme berpendapat bahwa tiap-tiap anak sejak di lahirkan sudah mempunyai
berbagai pembawaan yang akan berkembang sendiri menurut arahnya masing-masing.
Pembawaan ank itu ada yang baik dan ada yang buruk. Pendidikan tidak perlu dan
tidak berkuasa apa-apa.[1] Aliran ini berpendapat
bahwa perkembangan manusia itu telah ditentukan oleh factor-faktor yang dibawa
manusia sejak lahir, pembawaan yang telah terdapat pada waktu dilahirkan itulah
yang menentukan hasil perkembangannya. Menurut kaum nativisme itu, pendidikan
tidak dapat mengubah sifat-sifat pembawaan. Jadi, kalau benar pendapat
tersebut, percumalah kita mendidik, dengan kata lain pendidikan tidak perlu.
Dalam ilmu pendidikan, hal ini disebut pesimisme pedagogis.[2]
Pelopor
aliran ini adalah Schopenhauwer (1788-1880), filosof kebangsaan jerman. Ia
berpendapat mendidik ialah membiarakan seseorang tumbuh berdasarkan
pembawaannya. Aliran nativisme bertolak dari Leibnitzian Tradition yang menekankan kemampuan diri anak, sehingga
faktor lingkungan termasuk faktor pendidikan yang kurang berpengaruh terhadap
perkembangan anak. Hasil perkembangan tersebut ditentukan oleh pembawaan yang
sudah diperoleh sejak kelahiran. Lingkungan kurang berpengaruh terhadap
pendidikan perkembangan anak. Hasil pendidikan juga tergantung pada pembawaan,
oleh sebab itu hasil akhir pendidikan ditentukan oleh pembawaan yang sudah
dibawa sejak lahir. Berdasarkan pandangan ini, maka keberhasilan pendidikan
ditentukan oleh anak didik itu sendiri. Ditekankan bahwa “yang jahat akan
menjadi jahat dan
yang baik akan menjadi baik”. Pendidikan yang tidak sesuai dengan bakat dan
pembawaan anak didik tidak akan berguna untuk perkembangan anak sendiri.[3]
Meskipun
dalam kenyataan sehari-hari, sering ditemukan anak mirip orang tuanya (secara
fisik) dan anak juga mewarisi bakat-bakat yang ada pada orangtuanya.tetapi
pembawaan itu bukanlah merupakan satu-satunya faktor yang menemukan
perkembangan. Masih banyak
faktor yang mempengaruhi pembentukan dan perkembangan anak dalam menuju
kedewasaan.
Terdapat
suatu pokok pendapat aliran nativisme yang berpengaruh luas yakni bahwa dalam
diri individu terdapat suatu”inti” pribadi yang mendorong manusia untuk
mewujudkan diri, mendorong manusia dalam menentukan pilihan dan kemauan
sendiri, dan yang menempatkan manusia sebagai makhluk aktif yang mempunyai
kemampuan bebas.
2. Faktor-faktor yang
Mempengaruhi Perkembangan Manusia dalam Teori Nativisme.
a.
Faktor Genetik
Adalah faktor gen dari kedua orang tua yang mendorong adanya suatu bakat
yang muncul dari diri manusia. Dimana orang tua berperan penting dalam faktor
tersebut. Menyatunya gen dari ayah dan ibu akan mewariskan keturunan yang akan
memiliki bakat seperti orang tuanya. Bakat merupakan potensi atau kecakapan
dasar yang di bawa sejak lahir. Setiap individu mempunyai bakat yang
berbeda-beda. Seseorang akan mudah mempelajari sesuatu sesuai dengan bakatnya.
Contohnya adalah orang tua anak tersebut adalaah seorang seniman maka anaknya
memiliki bakat seperti orang tuanya. [4]
b.
Faktor kemampuan Anak
Adalah faktor yang
menjadikan seorang anak mengetahui potensi ataupun kemampuan yang dimilikinya.
Sesuai dengan prinsip perbedaan individual setiap anak berbeda-beda, iap anak
mempunyai bakat (pembawaan) sendiri-sendiri. kecerdasaan menjadi dasar untuk
berkembangnya bakat. Dengan kata lain,kecerdasaan dipandang sebagai factor umum
dan bakat merupakan factor khusus.[5]
Di dalam faktor tersebut anak dituntut untuk mengembangkan bakat dan mampu
menggalinya. Bakat tidak akan serta muncul dan dapat terlihat`pada anak, karena
masih merupakan potensi. Setelah anak diber ikesempatan untuk berlatih dan
mencoba barulah bakat anak dapat terus dikembangkan. Anak berbakat akan memberikan
hasil yang jauh lebih baik daripada anak yang sejak awal tidak menyimpan bakat
dalam bidang tersebut.[6]
c.
Faktor Pertumbuhan Anak
Adalah faktor yang mendorong
anak untuk mengetahui bakat dan minatnya di setiap tahapan pertumbuhan dan
kembangnya secara alami.. Pertumbuhan pada dasarnya adalah perubahan-perubahan
yang menujunkan kearah yang lebih baik.pertumbuhan lebih menekankan pada
aspek-aspek jasmaniah atau fisik (missal, tinggi badan, berat badan dll). Anak
yang tumbuh normal akan bersikap aktif energy dan responsive. Minat adalah
kecenderungan terhadap sesuatu, atau bisa dikatakan apa yang disukai seseorang
untuk dilakukannya. Pada dassarnya setiap orang akan lebih senang melakukan
sesuatu yang sesuai dengan minatnya (yang disukai) daripada melakukan sesuatu
yang kurang disukai. Belajar dalamkeadaan hati yang senang tentu`saja akan
lebih mudah daripada anak belajar dalam keadaan hati yang terpaksa.[7]
3.
Tujuan
Teori Nativisme
1. Mampu
memunculkan bakat yang di miliki
Bakat merupakan potensi atau kecakapan dasar yang di bawa sejak
lahir. Setiap
individu mempunyai bakat yang berbeda-beda.
Seseorang akan
mudah mempelajari sesuatu sesuai dengan
bakatnya. Karena dengan manusia mengetahui bakatnya akan semakin mudah untuk
mengembangkan potensinya.[8]
2. Mendorong manusia mewujudkan diri yang berkompetensi
Manusia bisa lebih
antusiasme, semangat besar , kreatif dan inovatif dalam mengembangkan bakatnya agar
mampu bersaing dalam menghadapi arus globalisasi.
3.
Mendorong manusia dalam menentukan pilihan
Manusia diharapkan memiliki
sifat bijaksana dan memiliki sikap tangung jawab dalam menentukan pilihan.
4.
Mendorong manusia untuk mengembangkan potensi dalam diri seseorang
Seseorang menguasai
pengetahuan khusus (dengan latihan) , keterampilan atau serangkaian respons
yang terorganisir. Misalnya: kemampuan musikal.[9]
5.
Mendorong manusia mengenali bakat dan minat yang dimiliki
Potensi-potensi yang
dimiliki anak-anak harus mengalami perkembangan serta membutuhkan
latihan-latihan. Di samping itu, tiap-tiap potensi atau kesanggupan mempunyai
masa keatangan masing-masing.[10]
Jadi semakin dini anak mengenali bakat akan semakin lebih optimal dalam
memaksimalkan bakat dan potensinya .
4.
Pandangan Pendidikan terhadap Teori Nativisme
Teori nativisme
merupakan sebuah teori dimana Aliran ini berpendapat bahwa
perkembangan manusia itu telah ditentukan oleh faktor-faktor yang dibawa
manusia sejak lahir, pembawaan yang telah terdapat pada waktu dilahirkan itulah
yang menentukan hasil perkembangannya. Menurut kaum nativisme itu, pendidikan
tidak dapat mengubah sifat-sifat pembawaan. Jadi, kalau benar pendapat
tersebut, percumalah kita mendidik, dengan kata lain pendidikan tidak perlu.[11]
Padahal pendidikan
merupakan rangkaian kegiatan dan upaya mempengaruhi melalui pertemuan antara
maanusia dewasa (yang bertanggung jawab/selaku pendidik) dan anak yang belum
dewasa ( anak didik), dimana yang pertama membantu anak didik dalam usaha yang
terakhir ini untuk mencapai kedewasaan berdasarkan kemungkinan-kemungkinan
bersama (pada konteks sosio-kultural) sehingga keduanya meningkat kedewasaannya
dan kemandiriannya ke arah kehidupan yang lebih baik dan sejahtera. [12]
Namun menurut
teori nativisme pendiddikan tidak bisa mengubah atau mempengaruhi perkembangan
anak dan menurut teori tersebut dengan adanya pendiddikan akan merusak
perkembangan anak tersebut, padahal tujuan dari pendidikan ialah untuk
membentuk manusia seutuhnya, dalam arti berkembangnya potensi-potensi
individusecara harmonis, berimbang dan terintegrasi.[13]
Dalam
sebuah pendidikan , justru pendidikan sangatlah diperlukan oleh setiap manusia,
karena tanpa pendidikan manusia tidak akan bisa berkembang walaupun dari lahir
memiliki pembawaan dan potensi yang baik.dan dengan pendidikan pula manusia
lebih bisa memaksimalkan, mengembangkan segala potensi dan bakat yang
dimilikinya.
Pendidikan sangat di perlukan oleh setiap manusia, karena tanpa
pendidikan manusia tidak akan berkembang walaupun dari lahir sudah memiliki
potensi. Padahal dengan pendidikan manusia justru bisa
mengembangkan bakat , potensi dan kemampuan yang dimiliki . jadi pendidikan
memandang jika aliran tersebut tidak sepenuhnya benar karena pendidikan justru
memberikan dampak positif bagi manusia dan tanpa pendidikan, manusia justru
akan kesulitan dalam mengembangkan bakat dan potensinya.
BAB
III
PENUTUP
KESIMPULAN
Dapat
di simpulkan bahwa teori nativisme adalah Aliran yang berpendapat
bahwa perkembangan manusia itu telah ditentukan oleh faktor-faktor yang dibawa
manusia sejak lahir, pembawaan yang telah terdapat pada waktu dilahirkan itulah
yang menentukan hasil perkembangannya. Menurut kaum nativisme itu, pendidikan
tidak dapat mengubah sifat-sifat pembawaan. Dimana faktor pendidikan maupun faktor lingkungan kurang berpengaruh,
dan menganggap pendidikan itu hanya sebuah hal yang sia-sia karena tidak dapat
merubah kodrat atau pembawaan seseorang dari lahir. Aliran ini berpendapat bahwa
semua keberhasilan belajar seseorang tergantung dari pembawaan sejak lahir.
Dimana jika seorang anak memiliki bakat jahat sejak lahir maka ia akan menjadi
jahat tetapi sebaliknya jika anak dari lahir memiliki bakat baik, maka ia akan
menjadi baik.
DAFTAR
PUSTAKA
Purwanto, Ngalim. 2014. Ilmu
Pendidikan dan Teoritis. Bandung: PT Remaja Rosdakarya.
Rasyidin, Waini. 2014. Pedagogik
Teoritis dan Praktis. Bandung: PT Remaja Rosdakarya.
Maunah, Binti. 2009. Ilmu Pendidikan. Yogyakarta: Teras.
Ahmadi, Abu dan Widodo
Supriyono. 1991. Psikologi Belajar. Jakarta: PT Rineka Cipta.
Sutirna. 200 .Perkembangan
& Pertumbuhan Peserta Didik. Yogyakarta: CV Andi Offset.
Nuryanti, Lusi. Psikologi
Anak. 2008. Jakarta: PT INDEKS.
[1]Ngalim Purwanto,
IlmuPendidikandanTeoritis, (Bandung: PT RemajaRosdakarya, 2014), hlm 16.
[2]Ibid, hlm 59.
[3]Binti
Maunah, Ilmu Pendidikan, (Yogyakarta:
Teras, 2009) hlm 123.
[4]Abu
Ahmadi dan Widodo Supriyono, Psikologi Belajar,(Jakarta:PT Rineka Cipta,
1991) hlm 78-79.
[6] Lusi Nuryanti, Psikologi Anak,( Jakarta: PT INDEKS, 2008), hlm 59-60.
[8] Abu
Ahmadi dan Widodo Supriyono, Psikologi Belajar, (Jakarta:PT Rineka
Cipta, 1991) hlm 78-79.
[10] NgalimPurwanto,
Ilmu Pendidikan dan Teoritis, (Bandung: PT RemajaRosdakarya, 2014), hlm 67.
[11] Ngalim Purwanto,
Ilmu Pendidikan dan Teoritis, (Bandung: PT RemajaRosdakarya, 2014), hlm 16.
[12] Waini Rasyidin,
Pedagogik Teoritis dan Praktis, (Bandung: PT Remaja Rosdakarya, 2014), hlm 118.
No comments:
Post a Comment