Friday, January 1, 2016

Ilmu Pendidikan (Peserta Didik)

PESERTA DIDIK



Disusun Untuk Memenuhi Tugas Mata Kuliah
Ilmu Pendidikan
Dosen Pengampu
Dr. Fauzi, M. Ag

Oleh
Aziz Hidayat                           (1423305231)

FAKULTAS TARBIYAH DAN ILMU PENDIDIKAN
JURUSAN PENDIDIKAN GURU MADRASAH IBTIDAIYAH
INSTITUT AGAMA ISLAM NEGERI
PURWOKERTO
2015





BAB I
PENDAHULUAN
 A.     Latar belakang
Peserta didik dalam pendidikan ialah setiap manusia yang sepanjang hayatnya selalu berada dalam perkembangan. Jadi, bukan hanya anak-anak yang sedang dalam pengasuhan dan pengasihan orang tuanya, bukan pula anak-anak dalam usia sekolah. Pengertian ini didasarkan atas tujuan pendidikan, yaitu manusia sempurna secara utuh, yang untuk mencapainya manusia berusaha terus-menerus hingga akhir hayatnya.Dalam prosesnya, pendidikan melalui tahap-tahap, antara lain ialah apa yang disebut para ahli pendidikan sebagai pendidikan dalam arti sempit, yang membatasi tujuannya pada kedewasaan peserta didik. Pendidikan dalam arti merupakan bantuan bimbingan yang diberikan pendidik terhadap peserta didik menuju kedewasaanya. Sejauh dan sebesar apa bantuan itu diberikan sangat dipengaruhi oleh pandangan pendidik terhadap kemungkinan peserta didik untuk dididik.

 B.     Rumusan Masalah
1.      Apa Pengertian Peserta didik?.
2.      Bagaimana cara mengembangkan potensi peserta didik?.
3.      Apa Saja Faktor Peserta didik?.
4.      Apa Saja Tugas dan Kewajiban Peserta Didiik?.
5.      Bagaimana Sifat Umum Peserta Didik?.
6.      Apa Saja Kebutuhan Peserta didik?.
 C.     Tujuan
1.      Untuk Mengetahui Apa Pengertian Peserta Didik.
2.      Untuk Memahami Cara Mengembangkan Potensi Peserta Didik.
3.      Untuk Mengetahui Apa Saja Faktor Peserta Didik.
4.      Untuk Mengetahui Apa Saja Tugas dan Kewajiban Peserta Didik.
5.      Untuk Memahami Sifat Umum Peserta Didik.
6.      Untuk Mengetahui Kebutuhan Peserta Didik.
   
BAB II
PEMBAHASAN
A.     Pengertian Peserta Didik
Peserta didik adalah anak yang sedang tumbuh dan berkembang, baik secara fisik maupun psikologis untuk mencapai tujuan pendidikannya melalui lembaga pendidikan.[1]Peserta didik merupakan subyek dan obyek. Oleh karenanya, aktivitas kependidikan tidak akan terleksana tanpa keterlibatan peserta didik didalamnya.Dalam paragdigma pendidikan Islam, peserta didik merupakan orang yang belum dewasa dan memiliki sejumlah potensi (kemampuan) dasar yang masih perlu dikembangkan. Di sini, peserta didik merupakan makhluk Allah yang memiliki fitrah jasmani maupun rohani yang belum mencapai taraf kematangan baik bentuk, ukuran, maupun perimbangan pada bagian-bagian lainya. Dan segi rohanilah, ia memiliki bakat, memiliki kehendak, perasaan, dan pikiran yang dinamis dan perlu dikembangkan.[2]Dengan demikian bisa dikatakan bahwa peserta didik adalah individu yang memiliki potensi yang harus dikembangkan oleh pendidik hingga menuju taraf kedewasaan. B.     Mengembangkan Peserta didikPara pakar pendidikan membangun berbagai teori tentang perkembangan manusia yang masing-masing mempunyai fokus yang berbeda. Bahkan teori itu telah tumbuh menjadi semacam aliran (madzhab) dalam pendidikan. Beberapa aliran yang terkenal ialah: Nativisme, Empirisme, dan Konvergensi. Titik tolak perbedaan masing-masing terletak pada faktor yang mempengaruhi perkembangan manusia: apakah perkembangan manusia itu ditentukan oleh faktor dasar pembawaan (nativisme) ataukah oleh faktor ajar, lingkungan (empirsme), atau kedua-duanya saling pengaruh mempengaruhi (konvergensi).[3]            Dalam permasalahan di atas, islam mempunyai pandangan yang berbeda dengan pendirian Nativisme, Empirisme, dan Kovergensi. Islam menampilkan teori potensi positif (fithrah) sebagai dasar perkembangan manusia. Seperti firman Allah SWT dalam (QS. ar-Rum. 30).فَأَقِمۡ وَجۡهَكَ لِلدِّينِ حَنِيفٗاۚ فِطۡرَتَ ٱللَّهِ ٱلَّتِي فَطَرَ ٱلنَّاسَ عَلَيۡهَاۚ لَا تَبۡدِيلَ لِخَلۡقِ ٱللَّهِۚ ذَٰلِكَ ٱلدِّينُ ٱلۡقَيِّمُ وَلَٰكِنَّ أَكۡثَرَ ٱلنَّاسِ لَا يَعۡلَمُونَ ٣٠
Maka hadapkanlah wajahmu dengan lurus kepada agama Allah; (tetaplah atas) fitrah Allah yang telah menciptakan manusia menurut fitrah itu. Tidak ada peubahan pada fitrah Allah. (Itulah) agama yang lurus; tetapi kebanyakan manusia tidak mengetahui. Makna yang terkandung dalam ayat diatas ialah bahwa setiap manusia pada dasarnya baik, memiliki fitrah, dan jiwanya sejak lahir tidak kosong seperti kertas putih, tetapi berisi kesucian dan sifat-sifat dasar yang baik. Pandangan ini sama sekali berbeda dengan konsep perkembangan manusia menurut Nativisme, Empirisme, maupun Kovergensi.[4]Dari pernyataan di atas, bahwa fitrah yang dibawa anak sejak lahir bersifat potensial sehingga memerlukan upaya-upaya  manusia itu sendiri untuk mengembang tumbuhkannya menjadi faktual dan aktual. Untuk melakukan upaya-upaya tersebut, Islam memberikan prinsip-prinsip dasarnya berupa nilai-nilai Islami sehingga pertumbuhan potensi manusia terbimbing dan terarah.C.     Faktor Peserta Didik
Dalam pengertian umum, anak didik adalah setiap orang yang menerima pengaruh dari seseorang, atau sekelompok orang yang menjalankan kegiatan pendidikan. Sedang dalam arti sempit anak didik ialah anak (pribadi yang belum dewasa) yang diserahkan kepada tanggung jawab pendidik. Hal ini dikatakan oleh Amir Dain sperti yang dikutip oleh Binti Maunah bahwa anak didik adalah pihak yang dididik, pihak yang diberi anjuran-anjuran norma-norma dan berbagai macam pengetahuan dan ketrampilan.[5]Karena itulah, anak didik memiliki beberapa karakteristik diantaranya:1.      Belum memiliki pribadi dewasa susila, sehingga masih menjadi tanggung jawab pendidik.
2.      Masih menyempurnakan aspek tertendu dari kedewasaannya, sehingga masih menjadi tanggung jawab pendidik.
3.      Sebagai manusia meiliki sifat-sifat dasar yang sedang ia kembangkan secara terpadu, menyangkut seperti kebutuhan biologis, rohani sosial, intelegensi, emosi, kemampuan berbicara, perbedaan individual dan sebagainya.[6]Antara pendidik dan anak didik sama-sama merupakan subyek pendidikan. Keduanya sama penting pendidik tidak boleh beranggapan bahwa anak didik merupakan obyek pendidikan, begitu juga pendidik tidak boleh merasa berkuasa yang bisa berbuat susuka hati atas anak didik. Sebaginya juga anak didik tidak boleh dianggap sebagai seorang dewasa dalam bentuk kecil, anak memiliki sifat kodrat kanak-kanak yang berbedadengan sifat hakikat kedewasaan.[7]Dalam uraian diatas bahwa anak didik adalah sebagai manusia yang belum dewasa  merasa tergantung kepada pendidiknya, anak didik merasa bahwa ia memiliki kekurangan-kekurangan tertentu.
D.    Tugas dan Kewajiban Peserta Didik
Agar pelaksanaan proses pendidikan islam dapat tercapai tujuan yang dinginkan, maka setiap peserta didik hendaknya senantiasa menyadari tugas dan kewajibanya. Menurut Asma Hasan Fahmi, seperti yang dikutip oleh Arifuddin Arif  di antara tugas dan kewajiban yang perlu dipenuhi peserta didik adalah:1.      Peserta didik hendaknya senantiasa membersihkan batinnya sebelum menuntut ilmu. Hal ini disebabkan karena belajar adalah ibadah dan tidak sah ibadah kecuali dengan hati bersih.
2.      Tujuan belajar hendaknya ditunjukan untuk menghiasi ruh dengan berbagai sifat keutamaan.
3.      Memiliki kemauan yang kuat untuk mencari dan menuntut ilmu di berbagai tempat.
4.      Setiap peserta didik wajib menghormati peserta didiknya.
5.      Peserta didik hendaknya belajar secara sungguh-sungguh dan tabah dalam belajar.[8]Al-Ghazali mengemukakan tugas-tugas peserta didik, seperti yang dikutip oleh Hery Noer Aly sebagai berikut:1.      Menyucikan diri dari akhlak dan sifat tercela, sebab menuntut ilmu merupakan ibadah batin untuk mendekatkan diri kepada Allah swt.
2.      Mengurangi berbagai kesibukan duniawi, atau berkosentrasi kepada belajar. Pikiran yang bercabang akan menghalangi tercapainya hakikat, sebab Allah tidak menciptakan bagi seseorang  dua hati dalam satu rongga.
3.      Tidak sombong kepada guru dan ilmu.
4.      Tidak mempelajari suatu ilmu secara mendalam sekaligus.[9] Dari penjelasan di atas menunjukan bahwa setiap peserta didik (individu) wajib mengetahui atau memahami tugas dan kewajibannya supaya bisa mencapai proses pendidikan yang baik dan sesuai yang diinginkan oleh pendidik. E.      Sifat Umum Peserta DidikPeserta didik mempunya sifat-sifat umum diantaranya sebagai berikut:1.      Anak bukan miniatur orang dewasa. Pandangan kuno berpendapat bahwa anak adalah orang dewasa dalam bentuk kecil (miniatur). Menurut J.J. Rousseu seperti yang dikutip oleh Khoiron Rosyadi bahwa anak bukan miniatur orang dewasa, tetapi ia adalah hidup dengan dunianya sendiri, yaitu dunia anak yang berlainan sekali dengan orang dewasa.
2.      Anak didik mengikuti fase-fase  perkembangan tertentu, perkembangan dari lahir sampai kedewasaan  mengikuti periode-periode perkembangan tertentu. Banyak tokoh yang mengemukakan pembagian pembagian fase-fase perkembangan ini seperti yang dikutip oleh Khoiron Rosyadi antara lain:
a.       Kohhustam
1)      Masa vital, usia 0-1 tahun
2)      Masa estetis, usia 2-7 tahun
3)      Masa intelektual, usia 8-13 tahun
4)      Masa sosial, usia 14-18 tahun
5)      Manusia matang, usia 19 ke atas.
b.      Oswald kroh
1)      Periode pertama dari masa lahir sampai Trotz periode pertama, umumnya 3 tahun.
2)      Periode kedua, sampai Trotz periode kedua (anak perempuan 12 tahun, anak laki-laki 14 tahun.
3)      Periode ketiga, mulai Trotz kedua sampai akhir masa pemuda.
3.      Anak didik mempunyai pola perkembangan sendiri. Walau pun di dalam perkembangan anak didik mengikuti fase-fase perkembangan umum, tetapi tiap individu mempunyai pola perkembangan yang berbeda, misalnya tiap anak mempunyai tempo dari irama perkembangan sendiri.
4.      Tugas perkembangan. Anak didik harus melaksanakan tugas perkembangan, yaitu tugas yang harus diselesaikan oleh individu dalam tiap-tiap fase perkembangan.[10]Dari uraian di atas dapat disimpulkan bahwa peserta didik mempunyai sifat-sifat umum yang wajib diketahui oleh pendidik agar dapat menjalankan tugas dan fungsinya sebagai pendidik dengan baik. F.      Kebutuhan Peserta DidikAnak didik mempunyai macam-macam kebutuhan, pemenuhan kebutuhan ini merupakan syarat yang penting bagi perkembangan pribadi yang sehat. Macam macam kebutuhan menurut Khoiron Rosyadi sebagai berikut:1.      kebutuhan rasa kasih sayang
2.      kebutuhan rasa aman
3.      kebutuhan rasa harga diri
4.      kebutuhan kebebasan
5.      kebutuhan sukses dan kebutuhan ingin tahu.[11]L.J. Cronbacah mengemukakan kebutuhan peserta didik seperti yang dikutip oleh Khoiron Rosyadi sebagai berikut:1.      Kebutuhan affeksi (kasih sayang).
2.      Kebutuhan diterima oleh orang tua.
3.      Kebutuhan untuk diterima oleh kawan kelompok sebaya.
4.      Kebutuhan independen.
5.      Kebutuhan harga diri.[12]Dalam pernyataan di atas bahwa peserta didik mempunyai kebutuhan, dan harus dipahami oleh pendidik agar dapat menciptakan proses pembelajaran secara aktiv dan menciptakan anak didik yang berkualitas untuk masa depanya.   
BAB III
PENUTUP
A.     Kesimpulan
Peserta didik adalah anak yang sedang tumbuh dan berkembang, baik secara fisik maupun psikologis untuk mencapai tujuan pendidikannya melalui lembaga pendidikan. Peserta didik merupakan subyek dan obyek. Oleh karenanya, aktivitas kependidikan tidak akan terleksana tanpa keterlibatan peserta didik didalamnya.Kebutuhan peserta didik yang berupa kebutuhan rasa kasih sayang, rasa aman, rasa harga diri, rasa kebebasan,sukses, dan ingin tau yang harus dipenuhi oleh pendidik untuk menunjang perkembangan dan pembentukan sikap moral peserta didik sebagai insan kamil.    

DAFTAR PUSTAKA
 Arif, Arifuddin. 2008, Ilmu Pendidikan Islam, Jakarta: Kultura.Binti Maunah. 2009, Ilmu Pendidikan, Yogyakarta: Teras.Noer Aly, Hery. 1999, Ilmu Pendidikan Islam, Jakarta: logos Wacana Ilmu cet.II.Roqib, Moh. 2009, Ilmu Pendidikan Islam, Yogyakarta: LkiS Printing Cemerlang.Rosyadi, Khoiron. 2006, Pendidikan Profetik, Yogyakarta: Pustaka Pelajar.           

[1]. Arifuddin Arif, Ilmu Pendidikan Islam, (Jakarta: Kultura, 2008), hlm. 71.[2]. Arifuddin Arif, Ilmu Pendidikan Islam, hlm. 72.
[3]. Moh. Roqib, Ilmu Pendidikan Islam, (Yogyakarta: LkiS Printing Cemerlang, 2009), hlm. 61.
[4]. Moh. Roqib, Ilmu Pendidikan Islam, hlm. 61.
[5]. Binti Maunah, Ilmu Pendidikan, (Yogyakarta: Teras, 2009), hlm. 82.[6]. Binti Maunah, Ilmu Pendidikan, hlm. 82.[7]. Binti Maunah, Ilmu Pendidikan, hlm. 83-84.[8]. Arifuddin Arif, Ilmu Pendidikan Islam, hlm. 75.
[9]. Hery Noer Aly, Ilmu Pendidikan Islam, (Jakarta: logos Wacana Ilmu cet.II, 1999), hlm. 129-130.[10]. Khoiron Rosyadi, Pendidikan Profetik, (Yogyakarta: Pustaka Pelajar, 2006), hlm. 192-193.[11]. Khoiron Rosyadi, Pendidikan Profetik, hlm. 195. [12]. Khoiron Rosyadi, Pendidikan Profetik, hlm. 196.



No comments:

Post a Comment