Friday, January 1, 2016

Makalah Strategi Pembelajaran


TUJUAN COOPERATIF LEARNING



MAKALAH
Di ajukan sebagai bahan diskusi dalam mata kuliah Strategi pembelajaran
Dosen pengampuh Drs. Sunhaji M.Ag





INSTITUT AGAMA ISLAM NEGERI PURWOKERTO
FAKULTAS TARBIYAH DAN ILMU KEGURUAN
PENDIDIKAN GURU MADRASAH IBTIDAIYAH
TAHUN 2015
Di susun oleh:


Awal Muallifah         1423305227
Awit Fitriasih             1423305228
Aziz Hidayat              1423305231
Dwi Fitrah                 1423305234
Evi Masriatun            1423305236
Idaur Rohmah           1423305239
Ika Adiningrum        1423305240
Irma Widiana            1423305241
Irvan Nur                   1423305242
Khafidin                     1423305243
Khalida Aulia            1423305244
Munasiroh                 1423305247
Novenda Astuti          1423305252
Priyo Darojat             1423305253
Putri Puji Ayu L       1423305254
Rojihatud Dianah     1423305257
Sriwidiyanti               1423305259
Susi Rosiamah           1423305261
Syafi’atun Nur          14233055262
Trimayatun                1423305264
Tri Wahyuni              1423305265
Windiya Utami          1423305266
Windri Antika           1423305267
Windri Oktaviani      1423305268
Zakli Muhammad     1423305270
Fitri Handayani         1423305192
Ni’matul Ulum           1423305205
Rizki Saputra            1423305212








BAB I
PENDAHULUAN


A.    Latar Belakang
               Dalam proses belajar mengajar guru berperan sebagai fasilitator yang berfungsi sebagai penjembatan keterhubungan antara siswa terhadap pemahaman yang lebih tinggi dengan penemuan pemahaman siswa sendiri.
Pembelajaran kooperatif sendiri merupakan pembelajara kelompok dengan jumlah peserta didik 2 – 5 orang dengan gagasan untuk saling memotivasi antara anggotanya untuk saling membantu agar tercapai suatu tujuan pembelajaran yang maksimal, berikut ini merupakan paparan lebih jelas tentang tujuan kooperatif learning.

B.     Rumusan Masalah
1.      Apa itu strategi pembelajaran Cooperatif learning?
2.      Apa tujuan pembelajaran Cooperative Learning?
3.      Apa manfaat pembelajaran Cooperative Learning?
C.     Tujuan
1.      Untuk mengetahui pengertian pembelajaran Cooperative Learning.
2.      Untuk mengetahui tujuan pembelajaran Cooperative Learning.
3.      Untuk mengetahui manfaat pembelajran Cooperative Learning.





BAB II
PEMBAHASAN


A.    Strategi Pembelajaran Coopertif Learning
                  Strategi pembelajaran Cooperatif merupakan serangkaian kegiatan pembelajaran yang dilakukan oleh siswa di dalam kelompok-kelompok untuk mencapai tujuan pebelajaran yang telah ditetapkan. Lima hal yang penting dalam strategi pembelajaran yang telah ditetapkan, yaitu :
1.      Adanya peserta didik dalam kelompok
2.      Adanya aturan lain
3.      Adanya upaya belajar dalam kelompok
4.      Tatap muka
5.      Evaluasi proses kelompok
                       Ketergantungan  positif adalah suatu  bentuk kerja sama  yang sangat erat kaitanya antara anggota kelompok. Kerja sama ini dibutuhkan  untuk mencapai tujuan. Siswa benar-benar mengerti bahwa kesuksesan kelompok tergantung pada kesuksesan anggotanya.
                       Maksud pertanggung jawaban individu terhadap kelompok tergantung dengan cara belajar perseorangan dari seluruh anggota kelompok. Pertanggung jawaban memfokuskan aktivitas kelompok dalam menjelaskan konsep pada satu orang, dan  memastikan bahwa setiap orang dalam kelompok siap menghadapi aktivitas dimana siswa harus menerima tanpa pertolongan anggota kelompok. Kemampuan sosialisasi adalah kemampuan bekerja sama  yang biasa dikerjakan dalam kelompok. Kelompok tidak akan berjalan efektif apabila setiap anggota kelompok tidak memiliki kemampuan bersosialisasi yang dibutuhkan. Setiap kelompok diberikan kesempatan untuk bertemu muka dan berdiskusi.
                       Kegiatan interaksi ini akan memberikan bentuk sinergi yang menguntungkan bagi semua anggota. Guru menjadwalkan waktu bagi kelompok untuk mengevaluasi proses kerja kelompok dan hasil kerjasama mereka agar selanjutnya bisa bekerjasama lebih efektif.[1]

B.     Tujuan Pembelajaran Kooperatif Learning
                     Tujuan pembelajaran kooperatif berbeda dengan kelompok tradisional yang menerapkan sistem kompetisi, di mana keberhasilan individu diorientasikan pada kegagalan orang lain. Sedangkan tujuan dari pembelajaran kooperatif adalah menciptakan situasi di mana keberhasilan individu ditentukan atau dipengaruhi oleh keberhasilan kelompoknya.
Pembelajaran kooperatif mewadahi bagaimana siswa dapat bekerja sama dalam kelompok, tujuan kelompok adalah tujuan bersama. Situasi kooperatif merupakan bagian dari siswa untuk mencapai tujuan kelompok, siswa harus merasakan bahwa mereka akan mencapai tujuan kelompok. Dengan demikian, siswa lain dalam kelompoknya memiliki kebersamaan yang artinya bahwa setiap anggota kelompok bersifat kooperatif  dengan sesama anggota kelompoknya.
Model pembelajaran kooperatif dikembangkan untuk mencapai setidak- tidaknya tiga tujuan pembelajaran penting, yaitu:
1.      Meningkatan kinerja siswa dalam tugas-tugas akademik. Dalam belajar kooperatif meskipun mencakup beragam tujuan sosial, juga memperbaiki prestasi siswa atau tugas-tugas akademis penting lainnya. Beberapa ahli berpendapat bahwa model ini unggul dalam membantu siswa memahami konsep-konsep sulit. Para pengembang model ini telah menunjukkan bahwa model struktur penghargaan kooperatif telah dapat meningkatkan nilai siswa pada belajar akademik dan perubahan norma yang berhubungan dengan hasil belajar. Di samping mengubah norma yang berhubungan dengan hasil belajar, pembelajaran kooperatif dapat memberi keuntungan baik pada siswa kelompok bawah maupun kelompok atas yang bekerja bersama menyelesaikan tugas-tugas akademik.

2.      Agar siswa menerima teman-temannya yang mempunyai berbagai perbedaan latar belakang. Tujuan lain model pembelajaran kooperatif adalah penerimaan secara luas dari orang-orang yang berbeda berdasarkan ras, budaya, kelas sosial, kemampuan, dan ketidakmampuannya. Pembelajaran kooperatif memberi peluang bagi siswa dari berbagai latar belakang dan kondisi untuk bekerja dengan saling bergantung pada tugas-tugas akademik dan melalui struktur penghargaan kooperatif akan belajar saling menghargai satu sama lain.

3.      Mengembangkan keterampilan sosial siswa, berbagai tugas, aktif bertanya, menghargai pendapat orang lain, memancing teman untuk bertanya, mau menjelaskan ide  atu pendapat dan bekerja dalam kelompok. Tujuan penting ketiga pembelajaran kooperatif adalah, mengajarkan kepada siswa keterampilan bekerja sama dan kolaborasi. Keterampilan-keterampilan sosial, penting dimiliki oleh siswa sebab saat ini banyak anak muda masih kurang dalam keterampilan sosial.[2]

C.     Elemen-Elemen Pembelajaran Kooperatif
Pembelajaran yang dilaksanakan secara berkelompok belum tentu mencerminkan pembelajaran kooperatif. Secara teknis memang tampak proses belajar bersama, namun terkadang hanya merupakan belajar yang dilakukan secara bersama dalam waktu yang sama, namun tidak mencerminkan kerjasama antar anggota kelompok. Untuk itu agar benar-benar mencerminkan pembelajaran kooperatif, maka perlu diperhatikan elemen-elemen pembelajaran kooperatif sebagai berikut :
1.      Saling Ketergantungan Positif
            Keberhasilan suatu karya sangat bergantung pada usaha setiap anggotanya.Untuk menciptakan kelompok kerja yang efektif, pengajar perlu menyusun tugas sedemikian rupa sehingga setiap anggota kelompok harus menyelesaikan tugasnya sendiri agar yang lain bisa mencapai tujuan mereka.    Dalam metode Jigsaw, disarankan jumlah anggota kelompok dibatasi sampai dengan empat orang saja dan keempat anggota ini ditugaskan membaca bagian yang berlainan. Keempat anggota ini lalu berkumpul don bertukar informasi. Selanjutnya, pengajar akan mengevaluasi mereka mengenai seluruh bagian. Dengan cara ini, mau tidak mau setiap anggota merasa bertanggung jawab untuk menyelesaikan tugasnya agar yang lain bisa berhasil.

2.       Tanggung Jawab Perseorangan
 Unsur ini merupakan akibat langsung dari unsur yang pertama. Jika tugas dan pola penilaian dibuat menurut prosedur model pembelajaran Cooperative Learning, setiap siswa akan merasa bertanggung jawab untuk melakukan yang terbaik. Kunci keberhasilan metode kerja kelompok adalah persiapan guru dalam penyusunan tugasnya.Pengajar yang efektif dalam model pembelajaran Cooperative Learning membuat persiapan dan menyusun tugas sedemikian rupa sehingga masing-masing anggota kelompok harus melaksanakan tanggung jawabnya sendiri agar tugas selanjutnya dalam kelompok bisa dilaksanakan. Dalam teknik Jigsaw yang dikembangkan Aronson misalnya, bahan bacaan dibagi menjadi empat bagian dan masing-masing siswa mendapat dan membaca satu bagian. Dengan cara demikian, siswa yang tidak melaksanakan tugasnya akan diketahui dengan jelas dan mudah. Rekan-rekan dalam satu kelompok akan menuntutnya untuk melaksanakan tugas agar tidak menghambat yang lainnya.

3.      Tatap muka
 Setiap kelompok harus diberikan kesempatan untuk bertemu muka dan berdiskusi. Kegiatan interaksi ini akan memberikan para pembelajar untuk membentuk sinergi yang menguntungkan semua anggota. Hasil pemikiran beberapa kepala akan lebih kaya daripada hasil pemikiran dari satu kepala saja. Lebih jauh lagi, hasil kerja sama ini jauh lebih besar daripada jumlah hasil masing-masing anggota.Inti dari sinergi ini adalah menghargai perbedaan, meman-faatkan kelebihan, dan mengisi kekurangan masing-masing. Setiap anggota kelompok mempunyai latar belakang pengalaman, keluarga, don sosial-ekonomi yang berbeda satu dengan yang lainnya. Perbedaan ini akan menjadi modal utama dalam proses saling memperkaya antaranggota kelompok. Sinergi tidak didapatkan begitu saja dalam sekejap, tetapi merupakan proses kelompok yang cukup ponjang. Para anggota kelompok perlu diberi kesempatan untuk saling mengenal dan menerima satu sama lain dalam kegiatan tatap muka don interaksi pribadi.

4.      Komunikasi Antar Anggota
 Unsur ini juga menghendaki agar para pembelaiar dibekali dengan berbagai keterampilan berkomunikasi. Sebelum menugaskan siswa dalam kelompok, pengajar perlu mengajarkan cara-cara berkomunikasi. Tidak setiap siswa mempunyai keahlian mendengarkan dan berbicara. Keberhasilan suatu kelompok juga bergantung pada kesediaan para anggotanya untuk saling mendengarkan dan kemampuan mereka untuk mengutarakan pendapat mereka.
            Ada kalanya pembelajar perlu diberi tahu secara eksplisit mengenai cara-cara berkomunikasi secara efektif seperti bagaimana caranya menyanggah pendapat orang lain tanpa harus menyinggung perasaan orang tersebut. Masih banyak orang yang kurang sensitif dan kurang bijaksana dalam menyatakan pendapat mereka. Tidak ada salahnya mengajar siswa beberapa ungkapan positif atau sanggahan dalam ungkapan yang lebih halus. Keterampilan berkomunikasi dalam kelompok ini juga merupakan proses panjang. Pembelajar tidak bisa diharapkan langsung menjadi komunikator yang handal dalam waktu sekejap. Namun, proses ini merupakan proses yang sangat bermanfaat dan perlu ditempuh untuk memperkaya pengalaman belajar serta membina perkembangan mental emosional para siswa.

5.      Evaluasi
 Pengajar perlu menjadwalkan waktu khusus bagi kelompok untuk mengevaluasi proses kerja kelompok dan hasil kerja sama mereka agar selanjutnya bisa bekerja sama dengan lebih efektif. Waktu evaluasi ini tidak perlu diadakan setiap kali ada kerja kelompok, tetapi bisa diadakan selang beberapa waktu setelah beberapa kali pembelaiar terlibat dalam kegiatan pembelajaran Cooperative Learning.





D.    Maanfat pembelajaran Kooperative Learning
Menurut Linda Lungren ada beberapa manfaat pembelajaran kooperatif bagi siswa dengan prestasi yang rendah, yaitu:
1.      Meningkatkan pencurahan waktu pada tugas
2.      Rasa harga diri menjadi lebih tinggi
3.      Memperbaiki sikap terhadap IPA dan sekolah
4.      Memperbaiki kehadiran
5.      Angka putus sekolah menjadi rendah
6.      Penerimaan terhadap perbedaan individu menjadi lebih besar
7.      Perilaku mengganggu menjadi lebih kecil
8.      Konflik antar pribadi menjadi berkurang
9.      Sikap apatis berkurang
10.  Pemahaman yang lebih mendalam
11.  Meningkatkan motivasi lebih besar
12.  Hasil belajar lebih tinggi
13.  Retensi lebih lama
14.  Meningkatkan kebaikan budi, kepekaan, dan toleransi









BAB III
PENUTUP
A.    KESIMPULAN
Cooperatif Learning merupakan metode pemdelajaran yang dibuat untuk membuat para siswa aktif dalam kompetisi yang dibuat oleh para pendidik.  Tujuan penting  dalam metode ini adalah untuk mengajarkan keterampilan kerja sama dan kolaborasi pada siswa yang nantinya menghasilkan ketergantungan yang positif antar anggotanya. Tujuan lain dalam strategi pembelajaran cooperative learning ini juga menyangkut hal dalam meningkatkan rasa tanggung jawab peserta didik terhadap tugas-tugasnya, meningkatkan keterdekatan antar siswa, dan meningkatkan rasa percaya diri siswa dalam menyampaikan pendapatnya.














Daftar Pustaka
Wena, Mada. Strategi Pembelajaran Inovatif Kontemporer, 2009.  Jakarta: Bumi Aksara.
Majid, Abdul. Strategi Pembelajaran. 2014.  Bandung : PT Remaja Rosdakarya.





[1] Abdul Majid, Strategi Pembelajaran, (Bandung : PT Remaja Rosdakarya, 2014), hlm. 176-177.
[2] Abdul Majid, Strategi Pembelajaran, (Bandung : PT Remaja Rosdakarya, 2014), hlm. 175.

Makalah Sosiologi Pendidikan

PROSES SOSIALISASI
Disusun guna Memenuhi Tugas Mata Kuliah
SOSIOLOGI PENDIDIKAN
Dosen Pengampu : H. SISWADI, M. Ag.

Oleh:
Aziz Hidayat                          1423305231

PROGRAM STUDI PENDIDIKAN GURU MADRASAH IBTIDAIYAH
FAKULTAS ILMU KEGURUAN DAN TARBIYAH
IAIN PURWOKERTO
2015



BAB 1
PENDAHULUAN

A.    Latar Belakang
Salah satu masalah yang menjadi pusat penelitian dan pengembangan sosiologi pendidikan ialah proses sosialisasi anak. Karena pentingnya penelitian mengenai proses sosialisasi ini, pada ahli-ahli sosiologi pendidikan yang berpendapat, bahwa proses sosialisasi merupakan satu-satunya obyek penelitian sosiologi pendidikan. Meskipun pendapat tersebut tidak tepat, namun tidak dapat dipungkiri bahwa proses sosialisassi merupaan salah satu obyek penelitian dan pengembangan sosiologi pendidikan yang penting.

B.     Rumusan Masalah
1.      Apa pengertian  sosialisasi?
2.      Bagaimana dasar dan konsep dalam proses sosialisasi pada anak?
3.      Bagaimana faktor dan metode proses sosialisasi pada anak?
4.      Apa macam-macam lingkungan yang mempengaruhi proses sosialisasi pada anak?

C.     Tujuan
1.      Untuk mengetahui pengertian sosialisasi.
2.      Untuk mengetahui dasar dan konsep dalam proses sosialisasi pada anak.
3.      Untuk mengetahui faktor dan metode proses sosialisasi pada anak.
4.      Untuk mengetahui macam-macam lingkungan yang mempengaruhi proses sosialisasi pada anak.




BAB II
PEMBAHASAN

A.    Pengertian sosialisasi
Arti sosialisasi secara sosiologis dan psikologis :
1.      Secara sosiologis sosialisasi berarti belajar untuk menyesuaikan diri dengan mores, folkways, tradisi dan kecakapan-kecakapan kelompok.
2.      Secara psikologis sosialisasi berarti kebiasaan-kebiasaan dan perangai-perangai, ide-ide, sikap dan nilai.[1]
Sosialisasi dalam arti sempit merupakan proses bayi atau anak menempatkan dirinya dalam cara atau ragam budaya masyarakatnya.
Pengertian Sosialisasi menurut para ahli :
1.      Menurut Kimball young, sosialisasi ialah hubungan interaktif yang dengan seseorang mmpelajari keperluan-keperluan sosial dan kultural, yang menjadikan seseorang sebagai anggota masyarakat.
2.      Menurut Thomas Ford Hoult, bahwa proses sosialisasi adalah prosese belajar individu untuk bertingkah laku sesuai dengan standard yang terdapat dalam kebudayaan masyarakat.
3.      Menurut R.S. Lazarus, proses sosialisasi adalah proses akomodasi, dimana individu menghambat atau mengubah impuls-impuls sesuai dengan tekanan lingkungan, dan mengembangkan pola-pola nilai dan tingkah laku yang baru seseuai dengan kebudayaan masyarakat.
4.      Menurut G.H. Mead, dalam proses sosialisasi itu individu mengadopsi kebiasaan, sikap dan idea-idea orang lain dan menyusunnya kembali sebagai sesuatu sistem dalam diri pribadinya.[2]


B.     Dasar dan konsep dalam proses sosialisasi pada anak.
1.      Dasar-dasar proses sosialisasi
Proses belajar sosial disebut pula proses sosialisasi. Ada dua dasar proses sosialisasi manusia, yaitu:
a.       Sifat tergantung manusia terhadap manusia yang lain, bayi itu dilahirkan dalam keadaan sangat tergantung terhadap orang tuanya, baik secara biologi maupun sosial. Tanpa pertolongan dan perlindungan orangtuanya bayi akan amti. Pada masa bayi dan kanak-kanak, individu tergantung secara biologik dan sosial terhadap orang lain.
b.      Sifat adaptabilita dan intelegensi manusia : karena sifat adaptabilita dan intelegnesi itu manusia mampu untuk mempelajari brmacam-macam bentuk tingkah laku, memamfaatakn pengalamannaya dan mengubaha tingkah lakunnaya.
Proses belajar sosial ini merupakan proses yang berlangsung sepanjang hidup atau (lifelong process), bermula sejak alhir hingga mati. Jadi dalam proses sosialisasi itu individu bersikap reseptiv mauapun kreatif terhadap pengaruh individu lain atau masyarakatnya. Proses sosialisasi itu terjadi dalam kelompok atau institusi sosial dalam masyarakat. Diantar akelompok atau institusi sosial yang berperan penting dalam sosisalisasi anaka ialah keluarga, kelompok sebaya, sekolah, keagamaan, perkumpulan pemuda, institusi politik dan ekonomi, dan media massa.

2.      Konsep sosialisasi pada anak
a.       Konsep penyesuaian diri (adjustmen)
Konsep penyesuaian diri ini bersal dari biologi, dan merupakan konsep dasar dalam teori emosi darwin. Dalam biologi, istilah yang digunakan ialah adaptasi. Menurut teori tersebut hanya organisme yang berhasil menyesuaiakan diri terhadap lingkungan fisisknya saja yang dapat tetap hidup.
Oleh karena manusia hidup dalam masyarakat maka tingkah lakunya tidak saja merupakan penyesuaian diri terhadap tuntutan-tuntutan fisisk lingkungannya, melainkan juga merupakan penyesuaian diri terhadap tuntutan dan tekanan sosial orang lain. Pada waktu seorang masih bayi atau kanak-kanak orang tuanya memberikan tuntutan terhadapnya agar dia menerima nilai-nilai dan memiliki pola-pola tingkah laku yang baik. Di sekolah, dia mendapatakan tuntutan dari guru dan teman-teman sekelasnya untuk bertingkah laku yang diterima oleh mereka.
Konsep adaptasi yang berasal dari biologi itu adalah ilmu-ilmu sosial (khususnya psikologi) diberi nama baru: adjusment. Baik adaptasi maupun adjusment kita terjemahkan dengan “ proses penyesuaian diri terhadap lingkungan fisisk maupun lingkugan. Proses penyesuiaan diri itu merupakan reaksi terhadap tuntutan-tuntutan terhadap dirinya. tuntutan-tuntutan tersebut  dapat digolongkan menjadi dua, yaitu: Tuntutan internal adalah Tuntutan berupa dorongan atau kebututhan yang timbul dari dalam, baik yang brsifat fisisk maupun sosial, misalnya: kebutuhan makanan, minum, sexs, penghargaan sosial, persahabatan dan kecintan.
Tuntutan-tuntutan tersebut tidak selalau serasi, kerapkali invidu mengalami konflik-konflik tuntutan. Ada tiga pola konflik yaitu:
1)      Konflik antara tuntutan internal yang satu dengan tuntutan internal yang lin, misalnya untuk mendapatkan status atau prestige sosial seseorang ahrus bersaing atau bertentangan dengan teman-teman sendiri.
2)      Konflik antara tuntutan eksternal yang satu dengan tuntutan eksternal ayang lain, misalnya seorang anak laki-laki mendapat tuntutan dari ayahnya agr dia memiliki sifat-sifat kelakian dan menjadi olahragawan, sedangkan ibunya menuntut agar dia memiliki sifat-sifat yang halus sebagai seniman.
3)      Konflik anataara tutntutan internal dngan tutntutan eksternal, misalnya konflik antara dorongan sksual di satu pihak dengan tuntutan masyarakat agar dorongan itu disalurkan dalam bentuk-bentuk yang dapat diterima oleh masyarakat. Konflik ni yang paling banyak kita alami.[3]

Ada dua tipe proses penyesuaian diri, yaitu:
1)      Dalam rangak penyesuaian diri individu mengubah atau menahan impuls-impuls dalam dirinya, misalnya: meskipun dalam keadaan lapar, tetapi sedang dalam perjamuan, maka individu menekan rasa lapar tersebut
2)      Dalam rangka penyesuaian diri individu mengubah tuntutan atau kondisi-kondisis lingkungannaya, misalnya: untuk mengubah tanah pertaniqnq yang tandus menjadi subur, maka orang akan menggunakan pupuk, agar orang alain dalam suatau rapat menerima pendapatnya individu membujuk bebrapa orang untuk menjadi pendukung atas pendapatnya.

Proses penyesuaian tipe pertama oleh J.Piaget disebut akomodasi, sedangkan proses tipe kedua olehnya disebut proses asimilasi. Melalaui proses akmodasi dan asimilasi itu individu mengatasi konflik tuntutan-tuntuta, baik tutntutan internal maupun eksternal, baik tuntutan fisik maupun tutntutan sosisal terhadap dirinya.

C.      Faktor dan Metode proses sosialisasi pada anak.
1.      Faktor-faktor yang mempengaruhi sosialisai
Dengan proses sosialaisai individu berkembsng menjadi sutu pribadi atau makhluk sosisal. Pribadi atau makhluk sosial ini merupakan kesatuan integral dari sifat-sifat individu yang berkembang melalaui proses sosialisasi, sifat mana mempengaruhi hubungannya dengan orang lain dalam masayarakat.
Proses perkembangan manusia sebagai makhluk sosial atau kepribadian itu dipengaruhi oleh banyak faktor. Menurut F.G. Robbins ada lima faktor yang menjadi dasr perkembangan kepribadian itu, kelima faktor tersebut ialah:
a.       Sifat dasar
b.      Lingkungan penatal
c.       Perbedaan invidual
d.      Lingkungan
e.       Motivasi[4]

2.      Metode dalam mempengaruhi proses sosialisasi anak
Metode-metode yang dipergunakan oleh orang dewasa atau masyarakat dalam mempengaruhi proses sosialisasi anak dapat digolongkan dalam tiga kategori, yaitu:
a.       Metode ganjaran dan hukuman, tingakah laku anak yang salah, tidak baik, tercela, kurang panta, tidak diterima oleh masyarakat mendaoatkan hukuman, sedangakn tingkah laku yang sebaliknya mendapatkan ganjaran.
b.      Metode didsctic teahing. Dengan metode ini kepada anak dijarkan berbagai macam pengetahaun dan keterampilan melalaui pemberian informasi, ceramah, penjelasan. Metode ini dignakan dalam pendoididkan di sekolah, pendidikan agama, pendidikan kepramukaan dan sebagainnya.
c.       Metode pemberian contoh. Dengan contoh itu terjadi proses imitasi atau peniruan tingkah laku dan sifat-sifat orang dewasa oleh anak. Proses imitasi dapat terjai secara sadar, dapt pula tidak disadari. Tertanamnya nilai-nilai, sikap, keyakinan, dan cita-cita dalam diri anak terutanma melalui proses imitasi tidak sadr itu. Proses imitasi berhubungan erat dengan proses identifikasi. Dengan identifikasi itu anak menyatukan diri (secara psikis) dengan orang.[5]


D.    Macam-macam lingkungan yang mempengaruhi proses sosialisasi pada anak.

1.      Lingkungan Keluarga
a.       Pengertian Keluarga
Keluarga adalah kelompok kecil yang memiliki pemimpin dan anggota, mempunyai pembagian tugas dan kerja, serta hak dan kewajiban bagi masing masing anggotanya. Keluarga adalah tempat pertama dan yang utama dimana anak belajar. Dari keluarga mereka mempelajari sifat keyakinan, sifat-sifat mulia, komunikasi dan interaksi sosial, serta keterampilan hidup.[6]
Menurut Ki Hajar Dewantara, suasana kehidupan keluarga merupakan tempat yang sebaik-baiknya untuk melakukan pendidikan individu maupun pendidikan sosial. Oleh karena itu keluarga adalah adalah tempat yang sempurna untuk melangsungkan pendidikan kearah pembentukan pribadi yang utuh.[7]

b.      Fungsi dan peran keluarga
Keluaga merupakan institusi sosial yang bersifat universal multifungsional, oleh karena itu keluarga mempunyai fungsi sebagai berikut[8]:      
1.      Fungsi pendidikan
2.      Fungsi Rekreasi
3.      Fungsi Keagamaan
4.      Fungsi Afeksi
5.      Fungsi Biologis
6.      Fungsi Sosialisasi
      Disamping keluarga mempunyai fungsi tersebut diatas, keluarga juga mempunyai peranan yang sangat penting dalam pertumbuhan dan perkembangan anak, yaitu:


c.        Nilai pendidikan dalam keluarga
            Sesuai dengan perubahan fungsi keluarga di dalam masyarakat modern fungsi yang tetap melekat di daam keluarga diantaranya adalah fungsi sosialisasi yang menitikberatkan kepada pembentukan kepribadian anak. Kepribadian anak sangat penting dalam kehidupan sosial, sehingga setiap keluarga mempunyai perhatian khusus. Dalam hai ini, keluarga yang dapat membentuk kepribadian lebih efektif adalah terletak pada nuclear family, bukan extended family. Ciri-ciri dari nuclear family adalah:
1)      Berbentuk kelompok kecil (keluarga yang hanya terdiri dari suami, istri, dan anak)
2)      Hubungan antar anggoa keluar sangat intim
3)      Bersifat face to face
4)      Ada ikatan sosial dan emosional
5)      Bersifat tetap
6)      Hubungan antara yang tua dan yang muda tersusun dalam hirarki status tertentu[9]
            Keluarga yang demikian merupakan sistem jaringan interaksi antar pribadi, tempat menciptakan persahabatan, lahirnya rasa kecintaan dalam keluarga, dan hubungan antar pribadi bersifat kontinu.
            Pendidikan keluarga akan berjalan baik dan mencapai tujuan jika keluarga itu memenuhi tiga syarat;
1.      Apabila keluarga merupakan yang anggota-anggotanya berinteraksi face to face secara tetap.
2.      Apabila orang tua mempunyai motivasi yang kuat untuk mendidik anak disebabkan cinta kasih hubungan suami istri. Anak merupakan perluasan biologi dan sosial orang tua. Motivasi yang kuat ini melahirkan hubungan emosional antara orang tua dan anak. Dari berbagai hasil penelitian, menyimpulkan bahwa hubungan emosional lebih berarti dan efektif daripada hubungan inteektual dalam proses pendidikan.
3.      Jika hubungan sosial dalam keluarga itu bersifat relative tetap, sehingga orang tua dapat melakukan proses pendidikan yang relative lama.[10]
Disamping bentuk keluarga seperti di atas, dapat mempengaruhi proses pendidikan dalam keluarga, ada faktor lain yang juga sangta berpengaruh, yaitu: faktor ekonomi. Secara sederhana, kelas ekonomi keluarga dapat dikelompkan menjadi dua, yaitu : (1) Ekonomi keluarga kelas menengah atas, (2) Ekonomi kelas bawah.[11]



d.      Pendidikan sosialisasi anak
Cara-cara yang dapat ditempuh orang tua dalam pendidikan sosialisasi anak antaralain:
1)      Memberi contoh yang baik kepada anak-anak dalam tingakah laku sosial berdasarkan prinsip-prinsip agama.
2)      Menjadikan rumah sebagi interaksi sosial.
3)      Menjauhkan mereka dari sifat sombong
4)      Membantu anak-anak menjalin persahabatan
5)      Mendorong mendapat pekerjaan
6)      Membiasakan hidup sederhana
7)      Bersikap adil terhadap orang lain
8)      Membiasakan anak-anak dengan cara islami dalam kegiatan sehari-hari, seperti makan, tidur, duduk, memberi salam, dan lain sebagainya.[12]

e.       Tujuan sosialisasi dalam keluarga
Dalam lingkungan keluarga ada tiga tujuan sosialisasi, yaitu orang tua mengajarkan kepada anaknya tentang penguasaan diri, nilai-nilai, dan peranan-peranan sosial.
1)      Penguasaan diri
Proses mengajar anak untuk menguasai diri ini di mulai pada waktu orang tua melatih anakuntuk memelihara kebersihan dirinya. Ini merupakan tuntutan sosial yang pertama yang di alami oleh anak untuk latihan penguasaan diri. Tuntutan penguasaan diri ini berkembnag, dari yang bersifat fisik kepada penguasaan diri secara emosional. Anak harus belajar menahan kemarahannya terhadap oran tua atau saudara-saudaranya. Tuntutan sosial yang menunut agar anak menguasai diri merupakan pelajaran yang berat pada anak.
2)      Nilai-nilai
Bersamaan dengan latihan penguasaan diri ini kepada anak diajrkan nilai-nilai. Sambil melatih anak menguasai diri agar permainannya dapat dipinjamkan kepada temannya, kepadanya diajarkannya nilai kerjasama. Sambil mengajarkan anak menguasai diri agar tidak bermain-main dahulu sebelum menyelesaikan pekerjaan rumahnya, kepadanya diajarkan tentang nilai sukses dalam pekerjaan. Penelitian-penelitian menunjukan bahwa keluarga memegang peranan terpenting dalam menanamkan nilai-nilai itu.

3)      Peranan-peranan sosial
Mempelajari peranan-peranan sosial ini terjadi melalui interaksi sosial didalam kelurga. Setelah dalam diri anak berkembang kesadaran diri sendiri yang membedakan dirinya dengan orang lain, dia mulai mempelajari peranan-peranan sosial yang sesuai dengan gambaran tentang dirinya. Dia mempelajari peranannya sebagai anak, sebagai saudara (kakak/atau adik), sebagai laki-laki atau perempuan , dan sebagainya. Proses mempelajai peranan-peranan sosial ini kemudian dilanjutkan dilingkungan kelompok sebaya, sekolah perkumpulan-perkumpulan dan sebgaiannya.

2.      Lingkungan sekolah
a.       Pengertian sekolah
Dalam kehidupan sehari-hari , sekolah dapat diartikan sebagai gedung tempat belajar, waktu berlangsungnya pelajaran, dan usaha untuk menuntut pelajaran kegiatan belajar-mengajar. Sekolah mempunyaindua aspek penting yaitu aspek individu dan aspek sosial. Di satu pihak, sekolah bertugas mempengaruhi dan mencipakan kondisi yang memungkinkan perkembangan pribadi anak secara optimal. Di pihak lain, pendidikan sekolah bertugas untuk mendidik anak untuk mengabdikan dirinya kedalam masyarakat. [13]

b.      Fungsi sekolah
1)      Transmisi dan Transvormasi kebudayaan
2)      Peranan manusia sosial
3)      Membentuk kepribadian sebagai dasar ketrampilan
4)      Sekolah mempersiapkan anak untuk suatu pekerjaan
5)      Integrasi sosial


[1] Gunawan, Sosiologi Pendidikan (Jakarta: PT Asdi Mahasatya, 2000) hlm 33.
[2] Abu Ahmadi, Sosiologi Pendidikan (Jakarata: PT PARAGONATAMA JAYA, 1991) hlm 153-154.
[3] Ibid, hlm 155-156
[4] Ibid, hlm 157-158.
[5] Ibid, 161-163.
[6]Helmawati,  Pendidikan Keluarga, (Bandung: PT REMAJA ROSDAKARYA, 2014), hlm. 42.
[7] Umar Tirtahadja, La Sula, pengantar Pendidikan, (Bandung: Remaja Rosda Karya, 2005), hlm 164.
[8] Moh. Padil dan Triyo Supriyatno, Sosiologi Pendidikan, (Malang: UIN-Maliki Press, 2010), hlm 117-120.                               
[9] Moh. Padil dan Triyo Supriyatno, Sosiolo gi Pendidikan, (Malang: UIN-Maliki Press, 2010), hlm 124.                      
[10] Moh. Padil dan Triyo Supriyatno, Sosiolo gi Pendidikan …,hlm 125.
[11] Moh. Padil dan Triyo Supriyatno, Sosiolo gi Pendidikan …,hlm 125.
[12]  Moh. Padil dan Triyo Supriyatno, Sosiolo gi Pendidikan …,hlm 144.
[13]Moh. Padil dan Triyo Supriyatno, Sosiolo gi Pendidikan …,hlm 145.