PROSES
SOSIALISASI

Disusun
guna Memenuhi Tugas Mata Kuliah
SOSIOLOGI
PENDIDIKAN
Dosen
Pengampu : H. SISWADI, M. Ag.
Oleh:
Aziz
Hidayat 1423305231
PROGRAM
STUDI PENDIDIKAN GURU MADRASAH IBTIDAIYAH
FAKULTAS
ILMU KEGURUAN DAN TARBIYAH
IAIN
PURWOKERTO
2015
BAB 1
PENDAHULUAN
A.
Latar Belakang
Salah satu masalah yang menjadi
pusat penelitian dan pengembangan sosiologi pendidikan ialah proses sosialisasi
anak. Karena pentingnya penelitian mengenai proses sosialisasi ini, pada
ahli-ahli sosiologi pendidikan yang berpendapat, bahwa proses sosialisasi
merupakan satu-satunya obyek penelitian sosiologi pendidikan. Meskipun pendapat
tersebut tidak tepat, namun tidak dapat dipungkiri bahwa proses sosialisassi
merupaan salah satu obyek penelitian dan pengembangan sosiologi pendidikan yang
penting.
B.
Rumusan Masalah
1.
Apa pengertian sosialisasi?
2.
Bagaimana dasar dan konsep dalam proses sosialisasi pada anak?
3.
Bagaimana faktor dan metode proses sosialisasi pada anak?
4.
Apa macam-macam lingkungan yang mempengaruhi proses sosialisasi
pada anak?
C.
Tujuan
1.
Untuk mengetahui pengertian sosialisasi.
2.
Untuk mengetahui dasar dan konsep dalam proses sosialisasi pada
anak.
3.
Untuk mengetahui faktor dan metode proses sosialisasi pada anak.
4.
Untuk mengetahui macam-macam lingkungan yang mempengaruhi proses
sosialisasi pada anak.
BAB II
PEMBAHASAN
A.
Pengertian sosialisasi
Arti sosialisasi secara sosiologis dan psikologis :
1.
Secara sosiologis sosialisasi berarti belajar untuk menyesuaikan
diri dengan mores, folkways, tradisi dan kecakapan-kecakapan kelompok.
2.
Secara psikologis sosialisasi berarti kebiasaan-kebiasaan dan
perangai-perangai, ide-ide, sikap dan nilai.[1]
Sosialisasi dalam arti sempit merupakan proses bayi atau anak
menempatkan dirinya dalam cara atau ragam budaya masyarakatnya.
Pengertian Sosialisasi menurut para ahli :
1.
Menurut Kimball young, sosialisasi ialah hubungan interaktif yang
dengan seseorang mmpelajari keperluan-keperluan sosial dan kultural, yang
menjadikan seseorang sebagai anggota masyarakat.
2.
Menurut Thomas Ford Hoult, bahwa proses sosialisasi adalah prosese
belajar individu untuk bertingkah laku sesuai dengan standard yang terdapat
dalam kebudayaan masyarakat.
3.
Menurut R.S. Lazarus, proses sosialisasi adalah proses akomodasi,
dimana individu menghambat atau mengubah impuls-impuls sesuai dengan tekanan
lingkungan, dan mengembangkan pola-pola nilai dan tingkah laku yang baru
seseuai dengan kebudayaan masyarakat.
4.
Menurut G.H. Mead, dalam proses sosialisasi itu individu mengadopsi
kebiasaan, sikap dan idea-idea orang lain dan menyusunnya kembali sebagai
sesuatu sistem dalam diri pribadinya.[2]
B.
Dasar dan konsep dalam proses sosialisasi pada anak.
1.
Dasar-dasar proses sosialisasi
Proses belajar sosial disebut pula proses sosialisasi. Ada dua
dasar proses sosialisasi manusia, yaitu:
a.
Sifat tergantung manusia terhadap manusia yang lain, bayi itu
dilahirkan dalam keadaan sangat tergantung terhadap orang tuanya, baik secara
biologi maupun sosial. Tanpa pertolongan dan perlindungan orangtuanya bayi akan
amti. Pada masa bayi dan kanak-kanak, individu tergantung secara biologik dan
sosial terhadap orang lain.
b.
Sifat adaptabilita dan intelegensi manusia : karena sifat
adaptabilita dan intelegnesi itu manusia mampu untuk mempelajari brmacam-macam
bentuk tingkah laku, memamfaatakn pengalamannaya dan mengubaha tingkah
lakunnaya.
Proses belajar sosial ini merupakan proses yang berlangsung
sepanjang hidup atau (lifelong process), bermula sejak alhir hingga
mati. Jadi dalam proses sosialisasi itu individu bersikap reseptiv mauapun
kreatif terhadap pengaruh individu lain atau masyarakatnya. Proses sosialisasi
itu terjadi dalam kelompok atau institusi sosial dalam masyarakat. Diantar
akelompok atau institusi sosial yang berperan penting dalam sosisalisasi anaka
ialah keluarga, kelompok sebaya, sekolah, keagamaan, perkumpulan pemuda,
institusi politik dan ekonomi, dan media massa.
2.
Konsep sosialisasi pada anak
a.
Konsep penyesuaian diri (adjustmen)
Konsep penyesuaian diri ini bersal dari biologi, dan merupakan
konsep dasar dalam teori emosi darwin. Dalam biologi, istilah yang
digunakan ialah adaptasi. Menurut teori tersebut hanya organisme yang berhasil
menyesuaiakan diri terhadap lingkungan fisisknya saja yang dapat tetap hidup.
Oleh karena manusia hidup dalam masyarakat maka tingkah lakunya
tidak saja merupakan penyesuaian diri terhadap tuntutan-tuntutan fisisk
lingkungannya, melainkan juga merupakan penyesuaian diri terhadap tuntutan dan
tekanan sosial orang lain. Pada waktu seorang masih bayi atau kanak-kanak orang
tuanya memberikan tuntutan terhadapnya agar dia menerima nilai-nilai dan
memiliki pola-pola tingkah laku yang baik. Di sekolah, dia mendapatakan
tuntutan dari guru dan teman-teman sekelasnya untuk bertingkah laku yang
diterima oleh mereka.
Konsep adaptasi yang berasal dari biologi itu adalah ilmu-ilmu
sosial (khususnya psikologi) diberi nama baru: adjusment. Baik adaptasi maupun
adjusment kita terjemahkan dengan “ proses penyesuaian diri terhadap lingkungan
fisisk maupun lingkugan. Proses penyesuiaan diri itu merupakan reaksi terhadap
tuntutan-tuntutan terhadap dirinya. tuntutan-tuntutan tersebut dapat digolongkan menjadi dua, yaitu:
Tuntutan internal adalah Tuntutan berupa dorongan atau kebututhan yang timbul
dari dalam, baik yang brsifat fisisk maupun sosial, misalnya: kebutuhan
makanan, minum, sexs, penghargaan sosial, persahabatan dan kecintan.
Tuntutan-tuntutan tersebut tidak selalau serasi, kerapkali invidu
mengalami konflik-konflik tuntutan. Ada tiga pola konflik yaitu:
1)
Konflik antara tuntutan internal yang satu dengan tuntutan internal
yang lin, misalnya untuk mendapatkan status atau prestige sosial seseorang
ahrus bersaing atau bertentangan dengan teman-teman sendiri.
2)
Konflik antara tuntutan eksternal yang satu dengan tuntutan
eksternal ayang lain, misalnya seorang anak laki-laki mendapat tuntutan dari
ayahnya agr dia memiliki sifat-sifat kelakian dan menjadi olahragawan,
sedangkan ibunya menuntut agar dia memiliki sifat-sifat yang halus sebagai
seniman.
3)
Konflik anataara tutntutan internal dngan tutntutan eksternal,
misalnya konflik antara dorongan sksual di satu pihak dengan tuntutan
masyarakat agar dorongan itu disalurkan dalam bentuk-bentuk yang dapat diterima
oleh masyarakat. Konflik ni yang paling banyak kita alami.[3]
Ada
dua tipe proses penyesuaian diri, yaitu:
1)
Dalam rangak penyesuaian diri individu mengubah atau menahan
impuls-impuls dalam dirinya, misalnya: meskipun dalam keadaan lapar, tetapi
sedang dalam perjamuan, maka individu menekan rasa lapar tersebut
2)
Dalam rangka penyesuaian diri individu mengubah tuntutan atau
kondisi-kondisis lingkungannaya, misalnya: untuk mengubah tanah pertaniqnq yang
tandus menjadi subur, maka orang akan menggunakan pupuk, agar orang alain dalam
suatau rapat menerima pendapatnya individu membujuk bebrapa orang untuk menjadi
pendukung atas pendapatnya.
Proses penyesuaian tipe pertama oleh J.Piaget disebut akomodasi,
sedangkan proses tipe kedua olehnya disebut proses asimilasi. Melalaui proses
akmodasi dan asimilasi itu individu mengatasi konflik tuntutan-tuntuta, baik
tutntutan internal maupun eksternal, baik tuntutan fisik maupun tutntutan
sosisal terhadap dirinya.
C.
Faktor dan Metode proses
sosialisasi pada anak.
1.
Faktor-faktor yang mempengaruhi sosialisai
Dengan proses sosialaisai individu berkembsng menjadi sutu pribadi
atau makhluk sosisal. Pribadi atau makhluk sosial ini merupakan kesatuan
integral dari sifat-sifat individu yang berkembang melalaui proses sosialisasi,
sifat mana mempengaruhi hubungannya dengan orang lain dalam masayarakat.
Proses perkembangan manusia sebagai makhluk sosial atau kepribadian
itu dipengaruhi oleh banyak faktor. Menurut F.G. Robbins ada lima faktor yang
menjadi dasr perkembangan kepribadian itu, kelima faktor tersebut ialah:
a.
Sifat dasar
b.
Lingkungan penatal
c.
Perbedaan invidual
d.
Lingkungan
e.
Motivasi[4]
2.
Metode dalam mempengaruhi proses sosialisasi anak
Metode-metode yang dipergunakan oleh orang dewasa atau masyarakat
dalam mempengaruhi proses sosialisasi anak dapat digolongkan dalam tiga
kategori, yaitu:
a.
Metode ganjaran dan hukuman, tingakah laku anak yang salah, tidak
baik, tercela, kurang panta, tidak diterima oleh masyarakat mendaoatkan
hukuman, sedangakn tingkah laku yang sebaliknya mendapatkan ganjaran.
b.
Metode didsctic teahing. Dengan metode ini kepada anak dijarkan
berbagai macam pengetahaun dan keterampilan melalaui pemberian informasi,
ceramah, penjelasan. Metode ini dignakan dalam pendoididkan di sekolah,
pendidikan agama, pendidikan kepramukaan dan sebagainnya.
c.
Metode pemberian contoh. Dengan contoh itu terjadi proses imitasi
atau peniruan tingkah laku dan sifat-sifat orang dewasa oleh anak. Proses
imitasi dapat terjai secara sadar, dapt pula tidak disadari. Tertanamnya
nilai-nilai, sikap, keyakinan, dan cita-cita dalam diri anak terutanma melalui
proses imitasi tidak sadr itu. Proses imitasi berhubungan erat dengan proses
identifikasi. Dengan identifikasi itu anak menyatukan diri (secara psikis)
dengan orang.[5]
D.
Macam-macam lingkungan yang mempengaruhi proses sosialisasi pada
anak.
1.
Lingkungan Keluarga
a.
Pengertian
Keluarga
Keluarga
adalah kelompok kecil yang memiliki pemimpin dan anggota, mempunyai pembagian
tugas dan kerja, serta hak dan kewajiban bagi masing masing anggotanya.
Keluarga adalah tempat pertama dan yang utama dimana anak belajar. Dari keluarga
mereka mempelajari sifat keyakinan, sifat-sifat mulia, komunikasi dan interaksi
sosial, serta keterampilan hidup.[6]
Menurut Ki
Hajar Dewantara, suasana kehidupan keluarga merupakan tempat yang
sebaik-baiknya untuk melakukan pendidikan individu maupun pendidikan sosial.
Oleh karena itu keluarga adalah adalah tempat yang sempurna untuk melangsungkan
pendidikan kearah pembentukan pribadi yang utuh.[7]
b.
Fungsi dan
peran keluarga
Keluaga
merupakan institusi sosial yang bersifat universal multifungsional, oleh karena
itu keluarga mempunyai fungsi sebagai berikut[8]:
1.
Fungsi
pendidikan
2.
Fungsi
Rekreasi
3.
Fungsi
Keagamaan
4.
Fungsi Afeksi
5.
Fungsi
Biologis
6.
Fungsi
Sosialisasi
Disamping
keluarga mempunyai fungsi tersebut diatas, keluarga juga mempunyai peranan yang
sangat penting dalam pertumbuhan dan perkembangan anak, yaitu:
c.
Nilai pendidikan dalam keluarga
Sesuai dengan perubahan fungsi
keluarga di dalam masyarakat modern fungsi yang tetap melekat di daam keluarga
diantaranya adalah fungsi sosialisasi yang menitikberatkan kepada pembentukan
kepribadian anak. Kepribadian anak sangat penting dalam kehidupan sosial,
sehingga setiap keluarga mempunyai perhatian khusus. Dalam hai ini, keluarga
yang dapat membentuk kepribadian lebih efektif adalah terletak pada nuclear
family, bukan extended family. Ciri-ciri dari nuclear family adalah:
1)
Berbentuk
kelompok kecil (keluarga yang hanya terdiri dari suami, istri, dan anak)
2)
Hubungan antar
anggoa keluar sangat intim
3)
Bersifat face
to face
4)
Ada ikatan
sosial dan emosional
5)
Bersifat tetap
6)
Hubungan
antara yang tua dan yang muda tersusun dalam hirarki status tertentu[9]
Keluarga
yang demikian merupakan sistem jaringan interaksi antar pribadi, tempat
menciptakan persahabatan, lahirnya rasa kecintaan dalam keluarga, dan hubungan
antar pribadi bersifat kontinu.
Pendidikan
keluarga akan berjalan baik dan mencapai tujuan jika keluarga itu memenuhi tiga
syarat;
1.
Apabila
keluarga merupakan yang anggota-anggotanya berinteraksi face to face secara
tetap.
2.
Apabila orang
tua mempunyai motivasi yang kuat untuk mendidik anak disebabkan cinta kasih
hubungan suami istri. Anak merupakan perluasan biologi dan sosial orang tua.
Motivasi yang kuat ini melahirkan hubungan emosional antara orang tua dan anak.
Dari berbagai hasil penelitian, menyimpulkan bahwa hubungan emosional lebih
berarti dan efektif daripada hubungan inteektual dalam proses pendidikan.
3.
Jika hubungan
sosial dalam keluarga itu bersifat relative tetap, sehingga orang tua dapat
melakukan proses pendidikan yang relative lama.[10]
Disamping bentuk keluarga seperti di atas,
dapat mempengaruhi proses pendidikan dalam keluarga, ada faktor lain yang juga
sangta berpengaruh, yaitu: faktor ekonomi. Secara sederhana, kelas ekonomi keluarga
dapat dikelompkan menjadi dua, yaitu : (1) Ekonomi keluarga kelas menengah
atas, (2) Ekonomi kelas bawah.[11]
d.
Pendidikan
sosialisasi anak
Cara-cara yang
dapat ditempuh orang tua dalam pendidikan sosialisasi anak antaralain:
1)
Memberi contoh
yang baik kepada anak-anak dalam tingakah laku sosial berdasarkan
prinsip-prinsip agama.
2)
Menjadikan
rumah sebagi interaksi sosial.
3)
Menjauhkan
mereka dari sifat sombong
4)
Membantu
anak-anak menjalin persahabatan
5)
Mendorong
mendapat pekerjaan
6)
Membiasakan
hidup sederhana
7)
Bersikap adil
terhadap orang lain
8)
Membiasakan
anak-anak dengan cara islami dalam kegiatan sehari-hari, seperti makan, tidur,
duduk, memberi salam, dan lain sebagainya.[12]
e.
Tujuan
sosialisasi dalam keluarga
Dalam
lingkungan keluarga ada tiga tujuan sosialisasi, yaitu orang tua mengajarkan
kepada anaknya tentang penguasaan diri, nilai-nilai, dan peranan-peranan
sosial.
1)
Penguasaan
diri
Proses
mengajar anak untuk menguasai diri ini di mulai pada waktu orang tua melatih
anakuntuk memelihara kebersihan dirinya. Ini merupakan tuntutan sosial yang
pertama yang di alami oleh anak untuk latihan penguasaan diri. Tuntutan
penguasaan diri ini berkembnag, dari yang bersifat fisik kepada penguasaan diri
secara emosional. Anak harus belajar menahan kemarahannya terhadap oran tua
atau saudara-saudaranya. Tuntutan sosial yang menunut agar anak menguasai diri
merupakan pelajaran yang berat pada anak.
2)
Nilai-nilai
Bersamaan
dengan latihan penguasaan diri ini kepada anak diajrkan nilai-nilai. Sambil
melatih anak menguasai diri agar permainannya dapat dipinjamkan kepada
temannya, kepadanya diajarkannya nilai kerjasama. Sambil mengajarkan anak
menguasai diri agar tidak bermain-main dahulu sebelum menyelesaikan pekerjaan
rumahnya, kepadanya diajarkan tentang nilai sukses dalam pekerjaan.
Penelitian-penelitian menunjukan bahwa keluarga memegang peranan terpenting
dalam menanamkan nilai-nilai itu.
3)
Peranan-peranan
sosial
Mempelajari
peranan-peranan sosial ini terjadi melalui interaksi sosial didalam kelurga.
Setelah dalam diri anak berkembang kesadaran diri sendiri yang membedakan
dirinya dengan orang lain, dia mulai mempelajari peranan-peranan sosial yang
sesuai dengan gambaran tentang dirinya. Dia mempelajari peranannya sebagai
anak, sebagai saudara (kakak/atau adik), sebagai laki-laki atau perempuan , dan
sebagainya. Proses mempelajai peranan-peranan sosial ini kemudian dilanjutkan
dilingkungan kelompok sebaya, sekolah perkumpulan-perkumpulan dan sebgaiannya.
2.
Lingkungan sekolah
a.
Pengertian
sekolah
Dalam
kehidupan sehari-hari , sekolah dapat diartikan sebagai gedung tempat belajar,
waktu berlangsungnya pelajaran, dan usaha untuk menuntut pelajaran kegiatan
belajar-mengajar. Sekolah mempunyaindua aspek penting yaitu aspek individu dan
aspek sosial. Di satu pihak, sekolah bertugas mempengaruhi dan mencipakan
kondisi yang memungkinkan perkembangan pribadi anak secara optimal. Di pihak
lain, pendidikan sekolah bertugas untuk mendidik anak untuk mengabdikan dirinya
kedalam masyarakat. [13]
b.
Fungsi sekolah
1)
Transmisi dan
Transvormasi kebudayaan
2)
Peranan
manusia sosial
3)
Membentuk
kepribadian sebagai dasar ketrampilan
4)
Sekolah
mempersiapkan anak untuk suatu pekerjaan
5)
Integrasi
sosial
[1]
Gunawan, Sosiologi Pendidikan (Jakarta: PT Asdi Mahasatya, 2000) hlm 33.
[2]
Abu Ahmadi, Sosiologi Pendidikan (Jakarata: PT PARAGONATAMA JAYA, 1991)
hlm 153-154.
[3]
Ibid, hlm 155-156
[4]
Ibid, hlm 157-158.
[5]
Ibid, 161-163.
[6]Helmawati,
Pendidikan Keluarga, (Bandung: PT
REMAJA ROSDAKARYA, 2014), hlm. 42.
[7]
Umar Tirtahadja, La Sula, pengantar Pendidikan, (Bandung: Remaja Rosda
Karya, 2005), hlm 164.
[8]
Moh. Padil dan Triyo Supriyatno, Sosiologi Pendidikan, (Malang: UIN-Maliki
Press, 2010), hlm 117-120.
[9]
Moh. Padil dan Triyo Supriyatno, Sosiolo gi Pendidikan, (Malang:
UIN-Maliki Press, 2010), hlm 124.
No comments:
Post a Comment