Friday, January 1, 2016

Makalah FPI

 makalah FPI tentang pandangan islam tentang alam dan kaitannya dengan pendidikan

BAB I
PENDAHULUAN




A.  Latar Belakang Masalah
Sering sekali manusia salah dalam mengambil sikap atau penilaian tentang sesuatu yang terjadi pada alam. Secara sengaja atau tidak sengaja ketidak tahuan manusia akan sifat alam itu sendiri. Berita dan kabar yang selalu terdengar adalah tentang bencana dan kerusakan yang alam yang kesemua itu tidak pernah tuntas untuk dimengerti oleh manusia yang tinggal di bumi.
Pandangan islam tentang alam, manusia, hidup, agama, Tuhan, budaya , perubahan dan sebagainya. Hasil kajian-kajian itu dijadikan bahan masukan mendasar bagi upaya revitilisasi, inovasi, bahkan rekonseptualisasi pendidikan islam beserta pilar-pilarnya dimana perlu dengan karakteristik permanen, senantiasa berusaha mengangkat derajat dan martabat manusia ke tingkat yang lebih tinggi. Setiap konsep pendidikan manapun perlu ditinjau ulang dan disempurnakan dari masa ke masa. Sejalan dengan laju perkembangan kebutuhan masyarakat serta dinamika pemikiran manusia. Kajian filsafat pendidikan islam menambah wawasan filosofis untuk menekuni bidang pendidikan islam.
Di samping itu, sebagai sebuah disiplin ilmu maka Filsafat Pendidikan Islam dapat pula menentukan sikapnya dari permasalahan-permasalahan seputar alam. Sikap ini pada akhirnya akan melahirkan berbagai prinsip yang dapat dijadikan sebagai landasan filosofis dalam menentukan tujuan, metode, kurikulum, dan berbagai komponen lainnya dalam pendidikan Islam.
B.  Rumusan Masalah
1.      Pandangan Islam tentang alam
2.      Kontribusinya alam terhadap konseptualisasi pendidikan Islam.







BAB II
PEMBAHASAN




A.  Pandangan Islam tentang Alam
Menurut Al-Jurjani, sebagaimana dikutip Toto Suharto menyatakan bahwa alam adalah segala hal yang menjadi tanda bagi suatu perkara sehingga dapat dikenali. Sedangkan secara terminolgi berarti segala sesuatu yang ada (maujud) selain Allah, yang dengan ini Allah dapat dikenali baik nama maupun sifat-sifat-Nya Segala sesuatu selain Allah itulah alam dalam pengertian yang sederhana.
Secara alamiah, manusia tumbuh berkembang sejak dalam kandungan sampai meninggal, mengalami proses tahap demi tahap. Demikian pula kejadian alam kejadian alam semesta ini diciptakan Tuhan melalui proses setingkat demi setingkat.
Pola perkembangan manusia dan kejadian alam semesta yang berproses demikian berlangsung diatas hukum alam yang ditetapkan oleh Allah sebagai “sunnatullah”.
Pendidikan sebagai usaha membina dan mengembangkan pribadi manusia aspek rohaniah dan jasmaniah, juga harus berlangsung secara bertahap. Oleh karena itu, suatu kematangan yang bertitik akhir pada optimilisasi perkembangan/pertumbuhannya, baru dapat tercapai bilamana berlangsung melalui proses demi proses ke arah tujuan akhir perkembangan/pertumbuhannya.
Tidak ada satupun makhluk ciptaan Tuhan diatas bumi yang dapat mencapai kesempurnaan/kematangan hidup  tanpa berlangsung melalui suatu proses.
Konsep Islam tentang adanya beberapa alam berdasarkan periodisasi, ada : alam ruh/’alam dzurriy, alam dunia (termasuk alam rahim di dalamnya), alam kubur atau alam barzakh, dan alam akhirat. Diantara alam tersebut,ternyata alam dunia yang hanya “sekejap mata” itu menentukan nasib meraka di alam akhirat yang bermiliar-miliar kali lipat lebih lama  belum lagi kualitas kenikmatan dunia di akhirat, diyakini lebih jauh lebih tinggi hingga “tidak bisa dibandingkan” dengan kehidupan duniawi. Keimanan demikian ini bila menjadi akidah (mengikat), niscaya dapat memberikan kontribusi yang bersifat penanaman idealisme, pandangan serta cita-cita yang jauh lebih melewati alam dunia menerobos alam kehidupan dunia dan abadi setelah kematian, membuahkan harapan surgawi serta membuahkan nilai-nilai mendasar yang tumbuh dari iman.
Lebih dari itu jika terus digali, tentu banyak banyak hikmah lain dari pandangan islam tentang alam yang dapat memberikan kontribusi terhadap konseptualisasi pendidikan Islam.
Berpegang pada dalil-dalil Al-Qur’an yang ada, maka alam semesta ini diciptakan oleh Tuhan adalah untuk kepentingan manusia agar manusia dapat menjalankan fungsi dan kedudukannya sebaagai manusia di muka bumisalah satunya adalah.
Firman Allah dalam Al-Qur’an :
اَلَمْ تَرَوْا اَنَّ اللهَ سَخَّرَ لَكُمْ مَّا فِي السَّمَوَاتِ وَمَا فِي الْاَرْضِ وَاَسْبَغَ عَلَيْكُمْ نِعَمَهُ ظَاهِرَةً وَبَاطِنَةً... (لقمان :20)
Artinya : Tidak kamu lihat, bahwa Allah telah memudahkan untukmu apa-apa yang ada di langit dan apa-apa di bumi dan Ia telahsempurnakan atas kamu nikmat-nikmat-Nya, baik yang lahir maupun yang batin...(QS : Luqman : 20)
B.  Kontribusi Alam terhadap Konseptualisasi Pendidikan Islam
Para pakar mengalami kesukaran dalam mendefinisikan pendidikan, karena aspek pendidikan pada manusia begitu luas. Banyaknya definisi pendidikan yang tidak sama antara satu dengan yang lain menunjukkan kompleksitas aspek yang dibinanya. Ada yang berpendapat pendidikan mengandung arti yang sangat luas, hampir seluas kehidupaan manusia. Menurut pendapat ini, belajar pada anjing peliharaanya termasuk pendidikan. Pendidikan bisa berlangsung tanpa guru dan kurikulum. Belajar pada lam secara otodidak pun dapat masuk dalam kategori pendidikan. Sementara itu, ada pula pakar yang berpendapat lain, dalam pendidikan harus ada pihak yang memberi dan menerimanya. Harus ada pendidik, peserta didik, dan kurukulum.
Pendidikan islam dalam bahasa arab disebut tarbiyah islamiyah. Tarbiyah berasal dari tiga kata : raba, yarbu artinya bertambah dan tumbuh ; rabia, yarba berarti menjadi besar dan rabba, yarubbu yaitu memperbaiki, menuntun,menjaga, dan memelihara. Dari tiga asal kata tersebut Abdurrahman Al-Baniy menyimpulkan tarbiyah islamiyah mengandung empat unsur. Pertama, memelihara fitrah ; kedua, mengembangkan seluruh potensi kehidupan dan kesiapan yang bermacam-macam ; ketiga, mengarahkan, seluruh fitrah (pembawaan baik) dan potensi manusia menuju pada kebaikan dan kesempurnaan yang layak (islam) ; dan keempat, proses itu dilaksanakan secara bertahap.


Dampak pandangan islam tentang alam terhadap pendidikan islam antara lain :
1.      Bahwasannya manusia kalau ingin maju dan sukses,termasuk bidang pendidikan, ia harus menyesuaikan diri dengan hukum alam menempuh serta memanfaatkannya. Menolak hukum alam hanya dapat dilakukan dengana menggunakan hukum alam yang lain dan yang demikian itu hakikatnya rekayasa bukan menolak. Menentang sunnatullah atau hukum berarti menentang takdir, pasti gagal, hancur, atau rugi. Karena hukum alam/sunnatullah hakikatnya  rekayasa adalah kehendak-Nya dan Dia selalu berperan.
2.      Pandangan Islam tentang alam dapat memberikan kontribusi sangat penting dan mendasar terhadap materi pendidikan Islam. Yaitu materi harus ilmiah (logis,sesuai dengan hukum alam dan wahyu), tidak sekedar fanatisme buta  atau mitos.
3.      Terhadap cara berpikir para pendidik, peserta didik dan semua orang yang terlibat dalam pendidikan, mereka harus banyak belajar dari hukum alam yang memberi pelajaran bagaimana Allah mendidik alam semesta ini. Betapa obyektif, adil, pengasih, tegas, disiplin, aktif, menghargai waktu, beretos kerja tinggi, tidak malas, dan  sebagainya. Dengan ungkapan lain, manusia mesti meneladani sifat Allah dalam mendidik alam semesta. Tentu saja menurut kapasitas dan kemampuan manusiawi mereka.
4.      Terhadap penyusunan kurikulum dan pembuat kebijakan pendidikan (Islam) agar secara keseluruhan mempertimbangkan dan dan mengindahkan karakteristik  hukum alam atau sunnatullah, termasuk realitas psikologi perkembangan manusia. Sebab, menentangnya merupakantindakan yang sia-sia dan merugikan dan pada gilirannya akan membuahkan kegagalan.
5.      Terhadap segenap pembuat kebijakan pendidikan agar mempertimbangkan sifat-sifat alamiah/hukum alam  dan wahyu, serta menyikapinya secara tepat dan konsisten.
Di samping itu, untuk menentukan dan mengembangkan meteri pendidikan Islam tentunya bertolak dari pandangan dasar Islam tentang manusia, alam, dan masyarakat, karena pendidikan itu ditujukan kepada manusia, pendidikan itu harus mampu menyingkap rahasia  alam dan memanfaatkannya untuk kepentingan dan kemajuan kehidupan manusia, dan pendidikan itu berlangsung di dalam masyarakat sekolah maupun di luar sekolah.


Dalam kaitannya dengan alam, menurut Al-Syaibany terdapat beberapa prinsip Filsafat Pendidikan Islam tentang alam dan kontribusi terhadap konseptualisasi pendidikan Islam, antara lain yakni:
1.      Filsafat Pendidikan Islam percaya bahwa pendidikan Islam sebagai proses pembentukan pengalaman dan perubahan tingkah laku, baik individu maupun masyarakat hanya akan berhasil apabila terjadi interaksi antara peserta didik dengan lingkungan alam sekitarnya tempat mereka hidup. Seluruh makhluk, baik benda ataupun alam sekitar, dipandang sebagai bagian alam semesta. Oleh karena itu, proses pendidikan manusia dan peningkatan mutu akhlaknya, bukan sekedar terjadi dalam lingkungan sosial (sesama manusia) semata, tapi juga dalam lingkungan alam yang bersifat material.
2.      Filsafat Pendidikan Islam percaya bahwa alam semesta atau universe, baik yang materi maupun bukan, memiliki hukumnya sendiri-sendiri. Hal ini harus diteliti dan dipelajari dalam pendidikan Islam agar peserta didik mampu mengenali hukum-hukum yang mengendalikan alam semesta ini sehinga memiliki keteraturan dan keharmonisan dalam kehidupan.
3.      Filsafat Pendidikan Islam percaya bahwa alam semesta yang terbagi dalam dua kategori (alam materi dan alam ruh), harus dipandang sebagai satu kesatuan yang tidak dapat dipisahkan. Oleh sebab itu pendidikan Islam harus memperhatikan kedua hal ini secara seimbang, karena kehidupan manusia yang sempurna tidak akan terwujud hanya dengan memperhatikan salah satunya.
4.      Filsafat Pendidikan Islam percaya bahwa alam semesta yang berjalan dengan teratur ini, harus dipahami sebagai keajaiban dan keagungan Sang Pencipta. Olehnya itu, dari sikap ini diharapkan akan menambah iman atau keyakinan bahwa manusia tidak berdaya dihadapan Allah yang telah membuat dan mengatur alam ini sedemikian harmonis dan teraturnya.
5.      Filsafat Pendidikan Islam percaya bahwa alam semesta ini bukanlah musuh bagi manusia, dan bukan penghalang bagi kemajuan peradaban manusia, melainkan alam merupakan teman dan alat bagi kemajuan manusia. Oleh karena itu, pendidikan Islam harus senantiasa diarahkan agar dapat menanamkan pemahaman kepada peserta didik tentang bagaimana mengelola alam dan memanfaatkannya secara bijaksana demi kepentingan umat manusia.
6.      Filsafat Pendidikan Islam percaya bahwa alam semesta dan seisinya ini bersifat baru (tidak kekal). Prinsip ini dapat dijadikan sebagai pegangan pendidikan Islam bahwa hanya Allah-lah yang bersifat kekal dan abadi.













































BAB III
PENUTUP




Simpulan
Uraian diatas jika dicermati pasti banyak memberikan masukan bagi ilmu pengetahuan dan konseptualisasi pendidikan Islam. Khususnya besumber dari hukum alam yang terdapat di alam semesta. Oleh karena ilmu pengetahuan iti sendiri merupakan bagian terpenting dari pendidikan dan pendidikan Islam, disamping itu implikasi-implikasi lain yang juga sangat signifikan, maka pandangan islam tentang alam pasti dapat diambil hikmahnya yang memberikan kontribusi sangat besar dan sangat luas terhadap konseptuaslisasi pendidikan Islam. Dampak pendangan Islam tentang alam terhadap pendidikan Islam.






















Makalah Pandangan Islam Terhadap Manusia

FILSAFAT PENDIDIKAN ISLAM
PANDANGAN ISLAM TERHADAP MANUSIA 


PENDAHULUAN 

Pandangan Islam terhadap manusia. Pandangan adalah konsep yang dimiliki seseorang yang bermaksud menanggapi dan menerangkan segala masalah di dunia. Islam ialah kata jadian Arab. Asalnya dari kata jadian juga: aslama. Akar katanya ialah salima, berarti: sejahtera, tidak tercela, tidak bercacat. Dari kata itu terjadi kata masdar: salamat (dalam bahasa Malaysia/Indonesia menjadi selamat), seterusnya salm dan silm. Salm dan silm berarti: kedamaian, kesejahteraan, kepatuhan penyerahan diri kepada Tuhan. Kata salm dijumpai dalam ucapan assalaamu’alaikum, sejahterahlah atas kamu. Orang Islam bila bertemu antara sesamanya tidak mengucapkan selamat pagi atau selamat malam, melainkan mendo’akan salam atau kesejahteraan orang yang dijumpainya itu. Sejahtera berarti: aman dan makmur, senang dan tentram, terpelihara dalam bencana, kesusahan, gangguan dan lain-lain. Dengan demikian kata itu mengandung pengertian keselamatan dan kesenangan, yang jadi naluri asasi manusia.
Manusia adalah individu yang terdiri dari sel-sel daging, tulang, saraf, darah dan lain-lain (materi) yang membentuk jasad. Manusia, dalam pandangan Islam, adalah makhluk yang memiliki identitas istimewa. Ia bukan malaikat, tetapi juga bukan setan. Ia dapat terjatuh sehingga berkualitas seperti setan. Ia, dengan keluhuran rohaniannya, juga dapat mencapai kualitas kemalaikatan. Dalam spektrumnya yang alami, yang merupakan tarikan antara setan dan malaikat, ia mengandung sifat antara kebaikan dan kejahatan, yang mungkin saja tidak asing bagi sifatnya atau tidak berasal dari luar.
Di antara hal yang memuliakan dan melebihkan manusia adalah bahwa Allah telah memberikan kepadanya kemampuan untuk belajar dan berpengetahuan, serta membekalinya dengan segala peralatan kemampuan.
Tugas paling luhur manusia ialah beribadah kepada Allah. Inti seluruh tanggung jawab ini adalah tanggung jawab manusia terhadap ibadah kepada Allah dan pentauhidan-Nya; yakni memurnikan ibadah hanya kepada Allah Semata.

RUMUSAN MASALAH

1.    Apa pengertian manusia ?
2.    Apa pengertian manusia secara Islam ?
3.    Bagaimana pandangan Islam terhadap manusia ?

PEMBAHASAN

1.             Pandangan Islam Terhadap Manusia
Manusia senantiasa keliru dalam memahami dirinya. Kadangkala ia cenderung untuk bersikap superior, sehingga memandang dirinya sebagai makhluk yang paling besar dan agung di alam ini. Bahkan superioritas  ini diserukannya dengan penuh keakuan, kecongkakan dan kesombongan.
Kadangkala pula dia cenderung untuk bersikap imferior, sehingga memandang dirinya sebagai makhluk yang paling hina dan rendah di dunia ini. Karena itu dia bersujud kepada pohon, batu, sungai, gunung atau binatang. Menurut keyakinannya, keselamatan hanya kan diperoleh jika dia bersujud kepada matahari, bulan, bintang, api dan makhluk-makhluk lain yang dipandangnya memiliki kekuatan dan kekuasaan untuk memberikan bahaya atau manfaat kepadanya.
Islam telah menjelaskan hakikat dan asal diri manusia, keistimwaan dan kelebihannya, tugasnya di dalam hidup, hubungannya dengan alam, serta kesiapannya untuk menerima kebaikan dan keburukan.
Hakikat dan asal diri manusia berpangkal pada dua asal: asal yang jauh, yaitu kejadian pertama dari tanah, ketika Allah menyempurnakan kejadiannya dan meniupkan ruh ciptaan-Nya kepadanya; dan asal yang dekat, yaitu kejadian kedua dari nuthfah.
Di antara hal yang memuliakan dan melebihkan manusia adalah bahwa Allah telah meberikan kepadanya kemampuan untuk belajar dan berpengetahuan, serta membekalinya dengan segala peralatan kemampuan ini.
Tugas paling luhur manusia ialah beribadah kepada Allah. Inti seluruh tanggung jawab ini adalah tanggung jawab manusia terhadap ibadah kepada Allah dan pentauhidan-Nya; yakni memurnikan ibadah hanya kepada Allah Semata.
(Abdurrahman an-Nahlawi, 1996: 52-65)

2.             Pandangan Islam Terhadap Manusia
Manusia mempunyai kedudukan ganda di alam semesta yang materil ini. Sebagai jasad ia adalah bagian dari dan berada di dalam alam semesta, tetapi sebagai ruh ia berada di atas atau di luar alam semesta. Dan karena kedudukannya yang istimewa inilah manusia dipilih sebagai wakil Tuhan di muka bumi ini.
Peranan manusia sebagai “klhalifatullah fil ardh” ini dijelaskan oleh Qur’an suci sebagai berikut:
“Dan Dia-lah yang telah membuatmu menjadi khalifah di muka bumi dan telah mengangkat sebagian dari kamu di atas yang lain guna mengujimu dengan sesuatu yang telah diberikan pada kamu sekalian ”. (Q.S, al-An’am, 6: 165)
Tetapi, lepas dari kekuasaannya sebagai khalifah, manusia juga mempunyai kewajiban-kewajiban khusus kekhalifahan. Seperti seorang duta yang wajib mencerminkan sifat-sifat mulia bangsa, yang mengangkatnya sebagai duta dalam setiap perbuatannya, maka manusia sebagai wakil Tuhan di muka bum wajib mencerminkan sifat-sifat mulia di dalam setiap perbuatan dan ciptaannya. Demikian pula sebagai seperti seorang duta yang harus tetap tunduk hukum-hukum bangsa yang memberinya kekuasaan sebagai wakil bangsa di samping is harus tunduk pada hukum-hukum negara tempat ia bertugas, maka manusia pun harus tunduk pada hukum-hukum spiritual Ilahi di samping harus tunduk pada hukum-hukum alam materil.
Walaupun manusia adalah khalifah Tuhan, hal ini tidaklah boleh menimbulkan kesombongan di hati manusia, karena sebenarnya manusia tetaplah merupakan hamba atau abdi-Nya sesuai dengan pernyataan Allah SWT dalam ayat suci yang berbunyi:
“Tidaklah Ku-jadikan jin dan manusia kecuali untuk mengabdi Aku”. (Q.S. al-Dzariyat, 51: 56)
(Armahedi Mahzar, 1993: 22-23)

3.             Pandangan Islam Terhadap Manusia
Keyakinan tentang manusia itu makhluk yang termulia dari segenap makhluk dan wujud lain yang ada di alam jagat ini. Allah karuniakan keutamakan yang membedakannya dari makhluk lain. Allah membekali manusia dengan beberapa ciri tertentu yang akan terangkan kelak kebahagiannya. Dengan karunia itu manusia berhak mendapat penghormatan dari makhluk-makhluk lain. Peri manusia di cipta dari segumpal darah atau dari tanah atau dari mani berubah menjadi segumpal darah. Ayat yang menjelaskan tentang kejadian manusia umumnya adalah dalam kontek memberi penghormatan atau supaya diambil i’tibar dari kejadian itu. Antaranya ada yang melukiskan tentang kekuasaan Allah untuk membangkit atau menghidupkan kembali insan itu dari kuburnya maka hendaklah manusia memperhatikan dari apakah dia ciptakan.
Keutamaan lebih diberikan kepada manusia dari makhluk lain. Manusia dilantik menjadi khalifah dibumi untuk memakmurkannya. Untuk itu dibebankan kepada manusia amanah attaklif. Diberikan pula kebebasan dan tanggung jawab memliki serta memelihara nilai-nilai keutamaan. Keutamaan yang diberikan bukanlah karena bangsanya, bukan juga karena warna, kecantikan, perawatan, harta, derjat, jenis profesi dan kasta sosial atau ekonominya. Tetapi semata-mata karena imam, takwa, akhlak, ketinggian akal, dan amalnya. Karena manusia sanggup memikul tanggung jawab terhadap diri dan masyarakat. Karena ia dapat menggunakan pengetahuan serta kepandaian. Pendek kata manusia diberikan status demikian itu karena ciri dan sifat utama yang di karuniakan Allah kepadanya. Ciri-ciri itu tidak diberikan kepada makhluk-makhluk lain. Sebab itu, layaklah manusia diberi karunia dan keutamaan dari Allah. Memang banyak karunia yang diberikan kepada manusia karena manusia mempunyai motivasi, kecenderungan dan kebutuhan permulaan baik yang diwarisi dan diperoleh dalam proses sosialisasi yaitu yang diperoleh ketika berinteraksi dengan element lingkungan yang bersifat benda, manusia atau kebudayaan.
(Prof. Dr. Omar Mohammad Al-Toumy Al-Syaibany, 1979: 101-161)

4.             Pandangan Islam Terhadap Manusia
Manusia, dalam pandangan Islam, selalu dikaitkan dengan suatu kisah tersendiri. Dalam Al-Qur’an, manusia berulang-kali diangkat derajatnya, berulang-kali pula direndahkan. Mereka dinobatkan jauh mengungguli alam surga, bumi, dan bahkan para malaikat; tetapi, pada saat yang sama, mereka bisa tak lebih berarti dibandingkan dengan setan terkutuk dan binatang jahanam sekalipun. Manusia dihargai sebagai makhluk yang mampu menaklukan alam, namun bisa juga mereka merosot menjadi “yang paling rendah dari segala yang rendah”. Oleh karena itu, makhluk manusia sendirilah yang harus menetapkan sikap dan menentukan nasib akhir mereka sendiri.
Manusia adalah khalifah Tuhan di Bumi. Dibandingkan dengan semua makhluk yang lain, manusia mempunyai kapasitas inteligensia yang paling tinggi. Manusia mempunyai kecenderungan dekat dengan Tuhan. Dengan kata lain, manusia sadar akan kehadiran Tuhan jauh di dasar sanubari mereka. Kesimpulannya, manusia adalah suatu makhluk pilihan Tuhan, sebagai khalifah-Nya di muka bumi, serta sebagai makhluk yang semi-samawi dan semi-duniawi, yang didalam dirinya ditanamkan sifat mengakui Tuhan, bebas, terpercaya, rasa tanggung jawab terhadap dirinya maupun alam semesta; serta karunia keunggulan atas alam semesta, langit, dan bumi. Manusia dipusakai dengan kecenderungan ke arah kebaikan maupun kejahatan. Kemaujudan mereka dimulai dari kelemahan dan ketidakmampuan, yang kemudian bergerak ke arah kekuatan, tetapi itu tidak akan menghapuskan kegelisahan mereka, kecuali jika mereka dekat dengan Tuhan dan mengingat-Nya. Kapasitas mereka tidak terbatas, baik dalam kemampuan belajar maupun dalam menerapkan ilmu. Mereka memiliki suatu keluhuran dan martabat naluriah. Motivasi dan pendorong mereka, dalam banyak hal, tidak bersifat kebendaan. Akhirnya, mereka dapat secara leluasa memanfaatkan rahmat dan karunia yang dilimpahkan kepada mereka, namun pada saat yang sama, mereka harus menunaikan kewajiban mereka kepada Tuhan.
(Murtadha Muthahhari, 1992: 117-122)

5.             Pandangan Islam Terhadap Manusia
Manusia pemegang mandat “Khilafah”. Doktrin al-Qur’an menetapkan, bahwa manusialah satu-satunya makhluk yang diberi mandat oleh Allah untuk mengelola dan mendayagunakan sumber daya dan kekayaan alam. Mandat yang disebut sebagai “Khalifah Allah di bumi”. Manusia memperoleh semacam hak konsesi untuk eksplorasi (penjelajahan untuk mencari sumber kekayaan alam), eksploitasi (pengambilan kekayaan dan sumbernya) serta pemanfaatan kekayaan tersebut dalam upaya pemenuhan kebutuhan dan peningkatan kualitas hidupnya sebagai makhluk budaya. Tetapi disisi lain, manusia bertanggung jawab kepada Allah dalam menggunakan hak atau mandat tersebut.
Dan Dialah yang menjadikan kamu penguasa-penguasa di bumi, dan Dia yang mengangkat beberapa derajat sebagian diantaramu melebihi yang lain, untuk mengujimu tentang apa yang telah diberikan-Nya padamu”.
Referensi al-Qur’an memberi petunjuk kepada manusia agar dapat melaksanakan tugasnya sebagai “Khalifah Allah di bumi” dengan efektif melakukan beberapa kegiatan eksekutif yang elementer, seperti penaklukkan sumber daya alam (at-tashkir). Sampai dengan masanya turun al-Qur’an, masih banyak manusia yang menyembah kekuatan alam, baik dalam bentuk animisme dan fetisisme. Al-Qur’an memberikan konsep yang radikal untuk mengubah pandangan dan sikap manusia terhadap alam, yakni alam semesta ini bukan merupakan kekuatan yang disembah dan dipertuhankan, melainkan perlu dijinakkan dan dikendalikan untuk kemaslahatan dan kesejahteraan hidup manusia, dan dipakai untuk mengembangkan tingkat peradaban manusia.
Dengan demikian maka perintah “meneliti dan observasi” tidak terbats untuk “mengetahui sesuatu”, tapi dilanjutkan dengan tahap eksplorasi, eksploitasi dan pendayagunaannya untuk keperluan kesejahteraan dan peradaban/civilisasi umat manusia.
(Muhammad Tholhah Hasan, 2003: 143-149)

6.             Pandangan Islam Terhadap Manusia
Al-Qur’an memandang manusia sebagai makhluk moral, yang mampu membedakan antara yang baik dan yang buruk, serta memiliki kebebasan untuk memilih ke duanya. Tidak ada petunjuk pasti tentag kebaikan dan keburukan yang melekat pada diri manusia- al-Qur’an memperingatkan akan adanya manusia yang berdo’a (memohon) bagi kejahatan (syarr) dan juga memohon bagi kebaikan (khair). Apabila manusia telah dilengkapi dengan kemampuan untuk menilai baik dan buruk, dan membedakan antara yang benar dan yang salah, tanpa bantua wahyu Ilahi, maka lembaga kerasulan jelas akan kehilangan kegunaannya. Dengan ringkas al-Qur’an menyebut kemampuan manusia untuk menjadi baik atau buruk, sebagaimana dinyatakan-Nya seperti berikut ini.
Demi sukma dan penyempurnaannya (Allah) mengilhami (sukma) kejahatan dan kebaikan. Sungguh, bahagialah siapa yang menyucikannya, dan rugilah siapa yang mencemarkannya”. (Al-Qur’an: 91: 7-10).
Manusia, dalam pandangan Islam, adalah makhluk yang memiliki identitas istimewa. Ia bukan malaikat, tetapi juga bukan setan. Ia dapat terjatuh sehingga berkualitas seperti setan. Ia, dengan keluhuran rohaniannya, juga dapat mencapai kualitas kemalaikatan. Dalam spektrumnya yang alami, yang merupakan tarikan antara setan dan malaikat, ia mengandung sifat antara kebaikan dan kejahatan, yang mungkin saja tidak asing bagi sifatnya atau tidak berasal dari luar.
Konsep manusia dalam Islam mengandung sifat “ganda”, yang menyatakan bahwa manusia terbantuk dari tanah liat dan roh suci dari Tuhan. Cukup dinyatakan bahwa manusia  memiliki potensi untuk berbuat baik, dan juga untuk berbuat buruk; yang mau menerima tuntunan (Ilahi) tetapi juga dapat menjadi pembangkang; kemampuan untuk berbuat baik atau jahat. Maka menurut ajaran Islam, hanyalah manusia yang merupakan makhluk yang dapat bertanggung jawab. Manusialah yang harus mewujudkan misi Tuhan di dunia dan sekaligus menjadi kepercayaannya.
(Muhammad A. Al-Buraey, 1985: 102)

7.             Pandangan Islam Terhadap Manusia
Allah telah meninggikan atau mengangkat martabat manusia sebagai individu dengan dilarang-Nya manusia menyembah selain-Nya, seperti berhala dan lain-lain yang disembah oleh bangsa Arab yang mereka percaya bahwa berhala-berhala itu berperan sebagai penghubung atau pendekat mereka kepada Allah.
Allah telah melimpahkan kemuliaan yang sempurna bagi manusia dengan menghilangkan kekuasaan para pendeta dan tokoh-tokoh agama, sehingga tidak ada lagi perantara atau pemberi syafa’at antara Allah dengan manusia. Jadi, tidak ada pendeta atau rahib yang memberi ampun bagi insan yang berdosa.
Al-Qur’an menggariskan bahwa tidak ada perantara atau pemberi syafa’at antara Allah dengan manusia. Tidak ada seorang pun selain Allah yang memiliki atau dapat memberi manfaat dan mudharat. Hanya amal shaleh yang dapat mendekatkan seseorang kepada Allah. Seseorang mukmin diukur kedudukannya di sisi Allah dengan amal dan takwanya.
Setelah al-Qur’an membebaskan manusia dari menyembah berhala dari pengaruh pendeta dan rahib dengan mnghilangkan wibawa atau kekuasaannya, dan hanya mengakui kekuasaan akal sehat dan pemikiran yang benar yang dapat mengenal baik dan buruk, maka adalah logis jika manusia diharuskan bertanggung jawab atas semua perbuatannya, dan hanya ia sendiri yang memikiul akibat dari amal-perbuatannya.
Manusia dalam pandangan Islam, merupakan khalifah Allah yang bertugas menjalankan kehidupan dengan dasar-dasar yang luhur dan cara-cara mencapainya dengan berlandaskan pada: iman kepada Allah, sumber segala kebaikan, keadilan, amanah dan kesetiaan, toleransi dan memberi maaf antara sesama manusia dalam hak dan kewajiban serta menghormati dan memuliakan manusia untuk hidup bahagia dan sejahtera di atas bumi ini.
(Prof. Dr. M. Yusuf Musa, 1988: 22)

8.             Pandangan Islam Terhadap Manusia
Manusia adalah individu yang terdiri dari sel-sel daging, tulang, saraf, darah dan lain-lain (materi) yang membentuk jasad.
Sejak semula, salah satu prinsip dalam Islam adalah menjunjung tinggi martabat manusia, dan menempatkannya dalam status supremasi diantara makhluk Tuhan lainnya. Referensi konseptual dalam masalah ini cukup meyakinkan, seperti tertera dalam ayat-ayat al-Qur’an:
“Sungguh kami muliakan anak keturunan Adam (manusia)”. (Q.S. Al-Isra’: 70)
Masih banyak lagi dalil al-Qur’an yang memberi acuan tentang manusia. Dalam fiqih Islam ditetapkan, bahwa masing-masing individu memiliki hak-hak dan kewajiban-kewajiban yang dilindungi. Hak-hak individu itu bebas dilakukan selama tidak menimbulkan kerugian atau mengganggu hak-hak orang atau masyarakat lainnya. Ada sebuah kaidah umum yang berlaku: La dlarara wala dlirar (tidak merugikan dan tidak dirugikan). Untuk menjaga agar tidak terjadi salah pemakaian hak-hak tersebut, maka syari’ah Islam menetapkan tatanan hukum yang mengatur hubungan antar individu, maupun antara individu dengan kelompoknya, maka lahirlah yang dikenal dengan hukum mu’amalat, hukum jinayat, dan lain-lain. Apabila hak-hak tersebut diterapkan menurut system syara’, maka dampaknya akan merusak dan menimbulkan disentegrasi sosial. Maka larangan-larangan Allah adalah merupakan batas kemerdekaan manusiawi secara umum. Dengan demikian maka kebebasan dalam menggunakan hak-hak asasi manusia dalam Islam, dikaitkan dengan tanggung jawab sosial (al-maslahah al-mursalah). Dasar umum dari prinsip ini adalah bahwa manusia tetap dalam kemerdekaan individunya selama tidak bertubrukan dengan kemaslahatan umum, dan peraturan hukum tidak mencampuri urusannya, selama tidak terjadi benturan atau tubrukan tersebut.
(Muhammad Tholhah Hasan, 2005: 176)

9.             Pandangan Islam Terhadap Manusia
Manusia itu seorang persona, tetapi dalam pada itu masih harus dipersonisasikan. Artinya harus berevolusi untuk mencapai kepersonaannya. Kepersonaannya masih harus diisi, dilaksanakan dan disempurnakan. Martabat sebagai persona atau pribadi itu masih harus diperkembangkan, sehingga menjadi kenyataan yang sepenuh-penuhnya
Salah satu sifat dasar manusia lainnya ialah: hasrat untuk berkomunikasi; yaitu untuk berhubungan, berdialog dan bersatu dengan pribadi lain. Karena itu disebut sebagai makhluk sosial. Termasuk pula keinginan menjalin komunikasi dengan Pribadi Yang Maha Sempurna (Tuhan). Sebab dalam usahanya mengembangkan dan mengaitkan pribadinya, orang menyadari kelemahan, keterbatasan dan ketidaksempurnaannya. Dia belajar mengenali diri sendiri sebagai makhluk yang serba kurang dan tidak lengkap. Karena kesadaran inilah timbul hasrat untuk menyerahkan diri kepada belas-kasih Ilahi, atau kepada “Toi Absolu” (dikau yang maha absolut). Jadi, dia belajar langsung pada Tuhan.
Maka kemanunggalan diri manusia dengan Gusti Allah (manunggaling kawula Gusti) itu menjadi tujuan final dari eksistensi manusia yangotentik, dan menjadi tujuan dari pendidikan religious. Dalam piwulang (ajaran) Jawa, bersatunya manusia dengan Hakekat Kosmos/Tuhan itu dilambangkan dengan “wiji ana sajroning uwit, uwit ana sajroning wiji” (benih ada dalam pohon, pohon ada dalam benih). Jadi ada kelululah diri/benih sebagai “kawula” atau hamba dengan Dzat Yang Maha Sempurna. Maka keyakinan akan kasih Tuhan itu memberikan kekuatan dan stabilitas pada manusia; juga melimpahkan energi dan daya tahan terhadap segala mala dan duka derita; selanjutnya menjamin rasa aman bahagia. Untuk bisa sampai pada tingkat sedemikian, tidak habis-habisnya manusia mendidik diri/mesu diri, dalam pengertian “ngulah raga, nyipta karsa, sarta ngrogoh suksma (melatih bada, mecipta karsa/kemauan, dan mengulik sukma).
(Dr. Kartini Kartono, 1992: 80-81)

10.         Pandangan Islam Terhadap Manusia
Manusia adalah makhluk terhormat pembawa amanah. Tuhan sudah mengambil keputusan mengangkat manusia sebagai makhluk terhormat melebihi makhluk-makhluk lainnya, berarti Allah telah menjadikan Bani Adam sebagai makhluk yang berbudaya. Dan manusia sendiri secara riskan siap memikul amanah (tugas-tugas), dimana langit, bumi dan gunungpun terasa berat memikulnya. Manusia telah dibekali perangkat yang memungkinkan untuk memikulnya, dan perangkat potensi yang tidak dimiliki makhluk lain, antara lain potensi berfikir kreatif yang mampu bernalar secara kully dan juz’iy, suatu kemampuan yang tidak dapat ditandingi oleh malaikatpun, karena para malaikat hanya mampu berfikir secara kully saja.
Manusia memiliki keistimewaan perangkat potensi, sehingga dia menjadi “makhluk terhormat” itu, terutama yang berwujud: An-Nafs (jiwa atau pribadi), Al-Qalb (hati nurani), Ar-Ruh (ruh atau nyawa), dan Al-Aql (pikiran atau nalar).
Islam memerintahkan kepada manusia agar selalu memperhatikan pengembangan yang menyangkut eksistensi manusia secara harmonis dan serasi.
Dalam usaha menyiapkan dirinya dan mengembangkan potensinya agar sampai pada kedudukan sebagai “pembawa amanah” yang berhasil, tidak dapat bekerja sendiri tanpa memanfaatkan bimbingan Tuhan, mencari hidayah-Nya, menggapai rahmat-Nya, memegang teguh fitrah yang diberikannya, baik “fitrah mukhallaqoh” (fitrah yang dibekalkan manusia sejak diciptakan) maupun “firah munazzalah” (doktrin kehidupan yang diberikan oleh Allah sebagai acuan bagi manusia dalam menyusuri perjalanan hidupnya yang peuh tantangan). Didalam konteks inilah al-Qur’an dengan tegas menyatakan, bahwa peranan Tuhan merupakan sesuatu yang mutlak harus disadari dan diperhatikan oleh manusia. Jika kesadaran kepada Allah, keimanan dan ketaqwaan kepada-Nya memberikan arti dan tujuan kepada kehidupan, maka ketidak-adaan Tuhan dalam kesadaran manusia akan membuat kehidupan manusia tidak mempunyai arti dan tujuan.
(Muhammad Tholhah Hasan, 2005: 79)

KESIMPULAN

Manusia adalah khalifah Tuhan di bumi. Oleh karena itu, manusia dikaruniai pembawaan yang mulia dan martabat. Tuhan, pada kenyataannya, telah menganugerahi manusia dengan keunggulan atas makhluk-makhluk lain. Manusia akan menghargai dirinya sendiri hanya jika mereka mampu merasakan kemuliaan dan martabat tersebut, serta mau melepaskan diri mereka dari kepicikan segala jenis kerendahan budi, penghambaan, dan hawa nafsu.
Al-Qur’an dan as-Sunnah selalu meminta agar manusia mengisi hidupnya dengan bekerja untuk mempertahankan kehidupanya, yaitu dengan memanfaatkan apa yang telah Allah ciptakan baginya di muka bumi ini. Dari pandangan Islam, hanya pekerjaan yang baik serta amal saleh sajalah yang mendapatkan pahala. Sedangkan tindakan yang buruk, jahat, harus dihindari oleh setiap pribadi muslim. Al-Qur’an penuh dengan ayat-ayat yang berisi pujian Allah terhadap pekerjaan yang “baik” (amal saleh), dan tersedianya ganjaran baik di dunia ataupun di akhirat bagi mereka yang bekerja dengan dilandasi iman.
Manusia adalah makhluk cerdas yang dapat memanfaatkan bakat serta kecerdasannya untuk mengembangkan kehidupannya di atas muka bumi, dan membuatnya lebih sejahtera. Islam mendorong (pemeluknya untuk melakukan) inovasi di dalam segala lapangan teknologi. Tetapi Islam juga melarang inovasi yang dilakukan dalam masalah agama dan kerohanian.
Tuhan menciptakan manusia agar mereka menyembah-Nya; dan tunduk patuh kepada-Nya. Walaupun manusia adalah khalifah Tuhan, hal ini tidak boleh menimbulkan kesombongan di hati manusia, karena sebenarnya tugas manusia yang terpenting adalah mengabdi kepada-Nya dan menjadi wakil-Nya yang baik di muka bumi.



No comments:

Post a Comment